HaiBunda

KEHAMILAN

Bunda Ini Bingung Gejala Postpartum Tak Berakhir, Ternyata Alami Kondisi Ini

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Senin, 28 Sep 2026 08:10 WIB
Bunda Ini Bingung Gejala Postpartum Tak Berakhir, Ternyata Alami Kondisi Ini/Foto: Getty Images/Peerakorn Chotthanawarapong
Jakarta -

Setelah melahirkan, tubuh Bunda memang membutuhkan waktu untuk kembali seperti sebelum hamil. Perubahan hormon selama masa postpartum juga dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari berkeringat di malam hari hingga perubahan siklus menstruasi.

Namun, bagaimana jika keluhan tersebut tak kunjung hilang meski sudah lama berhenti menyusui?

Hal inilah yang dialami Lisa Fasone, seorang ibu asal Amerika Serikat. Setelah melahirkan anak pertamanya pada Februari 2022, Lisa mengalami sejumlah gejala yang awalnya ia kira berkaitan dengan menyusui dan perubahan hormon setelah persalinan.


Ia mengalami keringat berlebih pada malam hari dan sakit kepala. Selain itu, menstruasinya tidak kunjung kembali dan ia kesulitan mendapatkan kehamilan kedua.

Lisa bahkan masih merasa tidak sehat satu tahun setelah berhenti menyusui. Karena keluhan tersebut terus berlangsung, ia akhirnya memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar hormon prolaktinnya masih tinggi. Pemeriksaan lebih lanjut kemudian menemukan adanya tumor jinak berukuran kecil pada kelenjar pituitari yang disebut prolaktinoma.

Gejala postpartum tak kunjung hilang

Lisa awalnya menganggap keluhan yang dialaminya sebagai bagian dari proses setelah melahirkan dan menyusui. Namun, kondisi tersebut terus berlangsung bahkan setelah ia berhenti menyusui selama sekitar satu tahun.

"Sudah setahun sejak saya berhenti menyusui, dan saya masih merasa sangat tidak sehat," kata Lisa dikutip dari CBS News.

Selain keringat malam dan sakit kepala, Lisa juga belum mengalami menstruasi. Ia dan pasangannya kemudian kesulitan untuk mendapatkan anak kedua.

Pemeriksaan dokter menunjukkan kadar prolaktinnya masih tinggi. Padahal, kadar hormon tersebut biasanya meningkat selama kehamilan dan berperan dalam produksi ASI. Setelah masa menyusui berakhir, kadar prolaktin pada umumnya akan mengalami perubahan kembali.

Ternyata mengalami prolaktinoma

Pemeriksaan lebih lanjut menemukan adanya prolaktinoma pada kelenjar pituitari Lisa.

Prolaktinoma merupakan tumor jinak pada kelenjar pituitari yang menghasilkan hormon prolaktin secara berlebihan. Kelenjar pituitari sendiri merupakan kelenjar kecil di dasar otak yang berperan mengatur berbagai hormon dalam tubuh.

Ketika kadar prolaktin terlalu tinggi, hormon tersebut dapat mengganggu sistem reproduksi. Pada perempuan, kondisi ini dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur atau tidak menstruasi sama sekali, keluarnya ASI di luar masa menyusui, hingga gangguan kesuburan.

Dalam kasus Lisa, kadar prolaktin yang tinggi turut membuatnya sulit untuk hamil kembali.

Dikutip dari Pubmed, sebuah tinjauan yang diterbitkan pada 2026 menjelaskan bahwa kadar prolaktin yang terlalu tinggi dapat mengganggu gonadal axis, yaitu sistem hormon yang mengatur fungsi reproduksi. Pengobatan dengan obat agonis dopamin, terutama cabergoline, umumnya dapat menormalkan kadar prolaktin dan membantu mengembalikan fungsi reproduksi dalam waktu sekitar 6-12 bulan pada sebagian besar pasien. 

Sementara itu, position statement dari Brazilian Federation of Gynecology and Obstetrics Associations (Febrasgo) dan Brazilian Society of Endocrinology and Metabolism menyebutkan bahwa hiperprolaktinemia dapat menyebabkan menstruasi tidak teratur, tidak menstruasi, keluarnya ASI di luar masa menyusui, gangguan hormon reproduksi, hingga infertilitas. Penyebabnya beragam, mulai dari kondisi fisiologis seperti kehamilan dan menyusui, penggunaan obat tertentu, hingga prolaktinoma.

Mengapa prolaktin bisa memengaruhi kesuburan?

Prolaktin memang memiliki fungsi penting setelah persalinan, terutama dalam membantu produksi ASI.

Saat menyusui, peningkatan prolaktin juga dapat menekan hormon yang berperan dalam proses ovulasi. Karena itu, menyusui dapat menyebabkan menstruasi belum kembali untuk sementara dan menurunkan kemungkinan terjadinya ovulasi.

Namun, kadar prolaktin yang tetap tinggi di luar kondisi fisiologis dapat menyebabkan gangguan pada sistem reproduksi. Hormon ini dapat menekan pelepasan gonadotropin-releasing hormone (GnRH), yang kemudian memengaruhi hormon luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). Akibatnya, ovulasi dapat terganggu.

Itulah sebabnya hiperprolaktinemia dapat berkaitan dengan menstruasi yang tidak teratur, tidak menstruasi, hingga infertilitas.

Tidak semua gejala setelah melahirkan bisa dianggap normal

Kisah Lisa menjadi pengingat bahwa keluhan setelah melahirkan memang perlu diperhatikan, terutama jika berlangsung jauh lebih lama dari yang seharusnya.

Gejala seperti tidak menstruasi atau perubahan tubuh memang bisa terjadi selama menyusui. Namun, jika keluhan terus berlangsung setelah berhenti menyusui atau disertai gejala lain, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter.

Hiperprolaktinemia sendiri tidak selalu disebabkan oleh prolaktinoma. Kondisi tersebut dapat terjadi karena kehamilan, menyusui, obat-obatan tertentu, gangguan pada kelenjar pituitari, maupun penyebab lainnya. Karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Pada kasus tertentu, dokter dapat melakukan pemeriksaan kadar prolaktin dan pemeriksaan lanjutan, termasuk pencitraan kelenjar pituitari jika memang diperlukan.

Lisa kembali hamil setelah menjalani pengobatan

Lisa kemudian mendapatkan obat untuk mengatasi prolaktinoma. Namun, setelah sekitar satu tahun, pemeriksaan menunjukkan tumornya justru membesar.

Ia akhirnya menjalani operasi minimal invasif melalui hidung pada April 2025. Sehari setelah operasi, kadar prolaktinnya kembali normal. Sekitar 30 hari kemudian, Lisa mendapatkan menstruasi pertamanya setelah hampir empat tahun.

Beberapa minggu kemudian, kadar prolaktinnya kembali meningkat. Lisa sempat khawatir tumor tersebut kembali tumbuh. Namun, pemeriksaan justru memberikan kabar yang membahagiakan.

Ia ternyata sedang hamil anak keduanya. Lisa kemudian melahirkan anak perempuan keduanya pada Februari 2026. Setelah persalinan, kadar prolaktinnya kembali normal dan ia dapat menyusui seperti sebelumnya.

Kisah tersebut menunjukkan pentingnya tidak mengabaikan keluhan yang menetap setelah melahirkan. Meski beberapa perubahan tubuh memang merupakan bagian dari proses postpartum, gejala yang berkepanjangan perlu dievaluasi untuk memastikan tidak ada kondisi medis lain yang mendasarinya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Kenapa Operasi Caesar Semakin Sering Dipilih dalam Persalinan?

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Selain Terapi, 7 Cara Stimulasi Anak dengan Speech Delay di Rumah

Parenting Kinan

Bukan Sekadar Hari Libur, Frisian Flag #TanggalMerahUntukIbu di Bandung Ajak Keluarga Beri Waktu Istimewa untuk Ibu

Mom's Life Annisa Karnesyia

Tak Suka Basa-basi? 12 Kalimat Ini Bisa Dipakai untuk Akhiri Percakapan dengan Sopan

Mom's Life Amira Salsabila

Bunda Ini Bingung Gejala Postpartum Tak Berakhir, Ternyata Alami Kondisi Ini

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

6 Kebiasaan saat Ngobrol yang Bikin Seseorang Terlihat Kurang Cerdas

Mom's Life Amira Salsabila

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Viral! Penulis Taylor Cox Tampil Nyentrik dengan Breast Pump Bertabur Kristal

Bukan Sekadar Hari Libur, Frisian Flag #TanggalMerahUntukIbu di Bandung Ajak Keluarga Beri Waktu Istimewa untuk Ibu

Selain Terapi, 7 Cara Stimulasi Anak dengan Speech Delay di Rumah

Bunda Ini Bingung Gejala Postpartum Tak Berakhir, Ternyata Alami Kondisi Ini

5 Fakta Against the Current, Drama China Terbaru yang Lagi Viral & Bertabur Bintang

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK