kehamilan

Dukungan Keluarga Bantu Cegah Depresi Postpartum

Yuni Ayu Amida Minggu, 31 Mar 2019 16:00 WIB
Dukungan Keluarga Bantu Cegah Depresi Postpartum
Jakarta - Masa setelah melahirkan jika tidak dilewati dengan baik rupanya bisa menyebabkan depresi postpartum lho, Bun. Apa itu? Simak penjelasan ahli berikut ya.

Menurut bidan Laili Romdina Amd., postpartum adalah masa setelah bersalin sampai 40 hari, ketika keluar darah nifas. Masa ini rentan jika tidak disikapi dengan baik.


"Jadi ketika ibu bersalin, masuk masa menyusui, itu masuk masa postpartum, biasanya 0 masa kelahiran ampai 40 hari," kata Laili kepada HaiBunda usai acara Folkaland di Jakarta, Sabtu (30/3/2019).


Kata Laili, memasuki masa postpartum, emosi ibu sangat fluktuatif atau naik turun. Ini karena banyak tekanan dari berbagai hal. Nah, inilah yang akhirnya menyebabkan depresi postpartum yang berkaitan dengan psikis ibu.

"Dia biasanya ngalamin yang namanya lagi cape, ada bayi baru, apalagi awam, enggak tahu perawatan bayi baru lahir, terus ditambah ada omongan orang, kok ASI-nya sedikit, atau apa, emosinya kan jadi meningkat, makanya ada namanya depresi, baby blues," tutur Laili.

Depresi postpartum dan baby blues adalah dua hal berbeda ya, Bun. Dijelaskan Laili, baby blues hanya sampai tahap ibu tidak mau melihat bayinya, tidak mau gendong, menyalahkan bayinya, bahkan sampai si ibu menangis. Sedangkan depresi postpartum itu tindakan menyakiti fisik bayi, seperti dicubit, dipukul, bahkan dibunuh. Seram ya, Bun.

Itu sebabnya, untuk mencegah depresi postpartum ini, Laili menyarankan sebelum berencana hamil dan memiliki anak, orang tua sudah harus siap secara fisik dan mental. Sebaiknya belajar ilmu parenting juga. Dan pastinya keluarga harus memberi dukungan ya.


"Belajar sama suami dan keluarga tentang ilmu persalinan. Dan enggak cuma belajar kehamilan, persalinan, tapi juga masa setelah persalinan," ujar Laili.

[Gambas:Video 20detik]

(yun/som)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi