Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

kehamilan

Ibu Hamil Aktif Bergerak Punya Profil Lemak Plasenta Berbeda, Studi Ungkap Faktanya

Melly Febrida   |   HaiBunda

Sabtu, 24 Oct 2026 15:50 WIB

ibu hamil dan dokter
Ibu Hamil Aktif Bergerak Punya Profil Lemak Plasenta Berbeda, Studi Ungkap Faktanya/Foto: Getty Images/DragonImages
Daftar Isi
Jakarta -

Anggapan bahwa ibu hamil sebaiknya lebih banyak beristirahat dan membatasi gerakan masih sering beredar. Hal ini membuat sejumlah ibu bertanya-tanya, apakah olahraga bermanfaat untuk perkembangan janin?

Padahal, selama kondisi kehamilan memungkinkan, ibu hamil yang aktif bergerak dapat memperoleh sejumlah manfaat kesehatan.

Sebuah studi terbaru mengungkap adanya perbedaan profil lemak pada plasenta ibu hamil yang aktif secara fisik dan yang kurang aktif. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Applied Physiology pada 2026 ini mengidentifikasi sejumlah jenis lipid yang berbeda di antara kedua kelompok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Beberapa di antaranya mengandung docosahexaenoic acid (DHA), asam lemak omega-3 yang berperan penting dalam perkembangan otak dan retina janin.

Perbedaan profil lemak plasenta ibu hamil aktif bergerak

Penelitian berjudul Exploring the placental lipidome in physically active versus inactive pregnancies ini dilakukan Meaghan L. MacDonald dan rekan-rekannya. Para peneliti ingin mengetahui apakah aktivitas fisik selama kehamilan berkaitan dengan perubahan komposisi lipid atau lemak pada plasenta.

Melansir NewsMedicalNet, plasenta merupakan organ penting selama kehamilan yang membantu pertukaran oksigen, nutrisi, dan zat sisa antara ibu dan janin. Organ ini juga memiliki peran dalam fungsi hormonal serta mendukung pertumbuhan janin.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis 36 sampel plasenta dari kehamilan tanpa komplikasi yang dikumpulkan saat persalinan cukup bulan. Sebanyak 17 peserta masuk kelompok tidak aktif secara fisik, sedangkan 19 lainnya masuk kelompok aktif.

Aktivitas fisik peserta diukur secara objektif menggunakan akselerometer, termasuk pada trimester ketiga. Peserta dikategorikan aktif apabila memenuhi rekomendasi aktivitas fisik intensitas sedang selama setidaknya 150 menit per minggu.

Hasil pengukuran menunjukkan bahwa kelompok aktif melakukan aktivitas fisik intensitas sedang hingga berat rata-rata 34,8 menit per hari. Sementara itu, kelompok tidak aktif melakukannya rata-rata 10,8 menit per hari.

Peneliti kemudian menganalisis kandungan lipid dalam jaringan plasenta menggunakan metode liquid chromatography-tandem mass spectrometry (LC-MS/MS).

Hasilnya, mereka mengidentifikasi 192 jenis lipid. Dari jumlah tersebut, 34 jenis menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok aktif dan tidak aktif setelah penyesuaian statistik.

Temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas fisik selama kehamilan berkaitan dengan perbedaan komposisi lipid plasenta. Namun, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa aktivitas fisik secara langsung menyebabkan perubahan tersebut.

Lima jenis lipid bisa membedakan kelompok ibu hamil aktif dan tidak aktif

Dari seluruh lipid yang dianalisis, lima jenis menunjukkan kemampuan membedakan kelompok aktif dan tidak aktif secara sempurna dalam sampel penelitian ini.

Kelima lipid tersebut meliputi:

  1. TG 16:0/18:0/18:1.
  2. TG 18:0/18:1/18:1.
  3. PE 18:1/22:5.
  4. Kolesteril palmitat.
  5. PC 16:0/16:2.

Dalam analisis penelitian ini, kelima lipid tersebut memiliki kemampuan diskriminasi sempurna antara kedua kelompok. Ini artinya, berdasarkan data sampel yang diteliti, profil lipid tersebut dapat memisahkan peserta aktif dan tidak aktif.

Namun, temuan ini belum berarti kelima lipid tersebut dapat langsung digunakan sebagai tes untuk menentukan apakah seorang ibu hamil cukup aktif bergerak.

Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar dan kelompok independen masih diperlukan untuk menguji apakah hasil yang sama dapat ditemukan pada populasi lain.

Para peneliti juga menemukan bahwa jalur fosfatidilserin dekarboksilase atau PISD lebih menonjol pada kelompok ibu hamil yang aktif secara fisik. Jalur ini berkaitan dengan metabolisme fosfolipid, yaitu kelompok lipid yang merupakan komponen penting membran sel.

Temuan tersebut membuka peluang penelitian lebih lanjut mengenai hubungan aktivitas fisik dengan metabolisme lipid dan fungsi plasenta selama kehamilan.

Aktivitas fisik berkaitan dengan lebih banyak lipid yang mengandung DHA

Salah satu temuan yang menarik perhatian peneliti adalah perbedaan lipid yang mengandung DHA. DHA merupakan asam lemak omega-3 yang berperan penting dalam perkembangan otak dan retina janin. Karena janin bergantung pada pasokan DHA dari ibu, proses transfer nutrisi melalui plasenta menjadi salah satu hal yang penting untuk diteliti.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengidentifikasi 17 jenis lipid yang mengandung DHA. Tujuh di antaranya ditemukan dalam jumlah lebih tinggi pada kelompok ibu hamil yang aktif secara fisik.

Hasil ini menimbulkan dugaan bahwa aktivitas fisik mungkin berkaitan dengan lebih besarnya ketersediaan DHA di plasenta untuk mendukung perkembangan janin.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Penelitian ini tidak mengukur secara langsung jumlah DHA yang berhasil ditransfer ke janin.

Para peneliti juga tidak menemukan perbedaan signifikan dalam ekspresi protein MFSD2a, yang berkaitan dengan pengangkutan DHA. Alhasil, belum dapat dipastikan apakah perbedaan lipid tersebut benar-benar meningkatkan pasokan DHA yang diterima janin atau memberikan dampak langsung terhadap perkembangan otaknya.

Penelitian ini lebih tepat dilihat sebagai petunjuk awal mengenai kemungkinan mekanisme biologis yang menghubungkan aktivitas fisik ibu dengan fungsi plasenta.

Apa kata pakar tentang aktivitas fisik selama kehamilan?

Panduan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), organisasi profesi dokter spesialis kebidanan dan kandungan di Amerika Serikat, mencantumkan rekomendasi aktivitas fisik selama kehamilan.

Dalam panduannya, ACOG merekomendasikan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu untuk ibu hamil yang tidak memiliki kontraindikasi medis. Aktivitas tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sesi sepanjang minggu.

Jalan cepat dan aktivitas sehari-hari yang membuat meningkatnya detak jantung menjadi contoh kegiatan yang dapat dilakukan sesuai kondisi ibu.

Panduan National Health Service (NHS) Inggris juga menyebutkan bahwa tetap aktif selama kehamilan dapat membantu menjaga kebugaran, mendukung kesehatan mental, serta mengurangi risiko beberapa komplikasi kehamilan, termasuk diabetes gestasional dan preeklamsia.

Namun, rekomendasi ini bukan berarti setiap ibu hamil harus memaksakan diri mencapai target yang sama. Jenis, durasi, dan intensitas aktivitas perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, kebugaran sebelum hamil, serta perkembangan kehamilan.

Ibu yang memiliki kondisi medis tertentu atau mengalami komplikasi kehamilan sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau bidan untuk menentukan aktivitas yang aman.

Tips aman agar ibu hamil tetap aktif bergerak

Ibu yang ingin mulai aktif bergerak selama kehamilan, berikut beberapa hal yang dapat diperhatikan.

1. Mulai dari aktivitas ringan

Ibu hamil yang sebelumnya jarang berolahraga dapat memulai dengan berjalan santai selama sekitar 10 menit, kemudian menyesuaikan durasinya secara bertahap sesuai toleransi tubuh.

2. Pilih aktivitas yang nyaman

Berjalan kaki, berenang, atau mengikuti kelas yoga khusus kehamilan dapat menjadi pilihan. Hindari aktivitas dengan risiko benturan pada perut atau terjatuh.

3. Jaga hidrasi dan hindari kepanasan

Minum air yang cukup, menggunakan pakaian nyaman, dan menghindari berolahraga terlalu berat saat cuaca panas.

4. Jangan memaksakan diri

Saat melakukan aktivitas intensitas sedang, ibu umumnya masih dapat berbicara meskipun napas terasa lebih cepat. Kurangi intensitas atau berhenti jika merasa tidak nyaman, terlalu kepanasan, atau tidak enak badan.

5. Konsultasikan kondisi kehamilan

Ibu dengan komplikasi kehamilan atau penyakit tertentu perlu mendapatkan arahan tenaga kesehatan sebelum melakukan atau mengubah rutinitas olahraga.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda