HaiBunda

KEHAMILAN

Cuaca Panas Sebabkan Angka Kelahiran Semakin Menurun di Jepang

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Jumat, 06 Nov 2026 06:00 WIB
Cuaca Panas Sebabkan Angka Kelahiran Semakin Menurun di Jepang/Foto: Getty Images/iStockphoto/Pheelings Media
Jakarta -

Cuaca panas selama ini lebih sering dikaitkan dengan dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan kesehatan. Namun, sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa suhu lingkungan yang tinggi juga berkaitan dengan perubahan angka kelahiran di Jepang.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Human Dynamics pada 5 Oktober 2026 ini menganalisis hubungan antara perubahan suhu harian dan angka kelahiran di Jepang. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan panas yang berlangsung terus-menerus, termasuk suhu malam hari yang tinggi, berkaitan dengan penurunan angka kelahiran beberapa bulan kemudian.

Temuan ini menambah bukti mengenai kemungkinan hubungan antara perubahan iklim dan kesehatan reproduksi. Meski demikian, Bunda perlu memahami bahwa penurunan angka kelahiran tidak selalu berarti seseorang mengalami gangguan kesuburan.


Studi temukan cuaca panas berkaitan dengan penurunan angka kelahiran

Penelitian yang dilakukan oleh Qifan Fu dari Osaka University, Jepang, menggunakan data statistik kelahiran bulanan dari 47 prefektur di Jepang selama periode 2012–2019. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan catatan suhu harian untuk melihat apakah paparan panas berkaitan dengan perubahan angka kelahiran pada bulan-bulan berikutnya.

Peneliti membandingkan beberapa ukuran suhu, termasuk suhu maksimum pada siang hari, suhu minimum yang umumnya tercatat pada malam hari, dan suhu rata-rata harian.

Hasilnya menunjukkan bahwa suhu minimum dan suhu rata-rata harian yang tinggi memiliki hubungan yang lebih konsisten dengan penurunan angka kelahiran dibandingkan suhu maksimum harian.

Secara terperinci, satu hari dengan suhu minimum mencapai setidaknya 25 derajat Celsius berkaitan dengan penurunan angka kelahiran sekitar 0,39 persen sembilan bulan kemudian dan 0,25 persen sepuluh bulan kemudian.

Sementara itu, satu hari dengan suhu rata-rata mencapai setidaknya 30 derajat Celsius berkaitan dengan penurunan angka kelahiran sekitar 0,50 persen sepuluh bulan kemudian.

Angka tersebut merupakan hasil estimasi statistik dalam penelitian, bukan persentase perempuan yang mengalami penurunan kesuburan.

Peneliti juga menegaskan bahwa data yang digunakan belum dapat memastikan apakah hubungan tersebut berkaitan dengan perubahan waktu pembuahan, kehilangan kehamilan pada tahap awal, perubahan durasi kehamilan, atau faktor lainnya.

Mengapa suhu panas bisa berkaitan dengan angka kelahiran?

Ada beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan hubungan antara suhu lingkungan dan angka kelahiran. Namun, mekanisme yang mendasarinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

1. Paparan panas yang berlangsung sepanjang hari

Suhu maksimum hanya menggambarkan titik terpanas dalam sehari. Sebaliknya, suhu rata-rata memberikan gambaran kondisi panas yang berlangsung selama periode yang lebih panjang.

Ketika suhu tetap tinggi selama berjam-jam, tubuh mungkin memiliki lebih sedikit kesempatan untuk kembali ke kondisi nyaman, terutama apabila suhu pada malam hari juga tinggi.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, dan tingkat kenyamanan seseorang. Akan tetapi, penelitian ini tidak mengukur paparan panas yang benar-benar dialami setiap individu di rumah maupun di tempat kerja.

2. Kemungkinan perubahan perilaku terkait pembuahan

Cuaca panas juga dapat memengaruhi rutinitas, aktivitas fisik, dan pola istirahat. Secara teori, perubahan aktivitas sehari-hari mungkin berkaitan dengan perilaku pasangan yang berhubungan dengan waktu pembuahan.

Namun, hal ini belum terbukti sebagai penyebab penurunan angka kelahiran dalam penelitian tersebut. Peneliti tidak memiliki data individual mengenai aktivitas seksual, penggunaan kontrasepsi, maupun rencana pasangan untuk memiliki anak.

Karena itu, tidak tepat menyimpulkan bahwa cuaca panas secara langsung membuat pasangan lebih jarang melakukan hubungan seksual atau menyebabkan mereka menjadi tidak subur.

3. Kemungkinan pengaruh terhadap proses kehamilan

Suhu lingkungan juga menjadi perhatian dalam penelitian kesehatan ibu dan kehamilan. Meski demikian, hubungan antara suhu panas dan jumlah bayi yang lahir perlu dibedakan dari hubungan antara suhu panas dan risiko komplikasi kehamilan.

Dalam penelitian di Jepang ini, pemeriksaan terhadap data kematian janin yang tercatat tidak menemukan pola luas yang secara jelas menjelaskan penurunan angka kelahiran.

Temuan tersebut belum cukup untuk memastikan ataupun menyingkirkan kemungkinan adanya pengaruh panas terhadap proses kehamilan, terutama karena kehilangan kehamilan pada tahap sangat awal tidak seluruhnya tercakup dalam data yang dianalisis.

Apakah cuaca panas bisa menyebabkan sulit hamil?

Bunda tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa tinggal di daerah panas akan membuat seseorang sulit hamil.

Penelitian ini mengamati perubahan angka kelahiran pada tingkat wilayah, bukan memeriksa kesuburan setiap perempuan atau pasangan secara langsung. Angka kelahiran yang menurun setelah periode panas juga tidak otomatis berarti jumlah pasangan yang mengalami infertilitas meningkat.

Selain itu, peneliti menemukan hubungan statistik dalam jangka pendek, bukan bukti bahwa paparan panas mengurangi jumlah anak yang akan dimiliki seseorang sepanjang hidupnya.

Diperlukan penelitian lanjutan yang melibatkan riwayat pembuahan, usia kehamilan, kondisi kesehatan individu, serta paparan suhu di dalam dan luar ruangan untuk memahami hubungan tersebut dengan lebih jelas.

Pentingnya menjaga kesehatan saat cuaca panas

Terlepas dari kaitannya dengan angka kelahiran, cuaca panas tetap perlu diwaspadai, terutama bagi ibu hamil yang perlu menjaga kondisi tubuh selama kehamilan.

Bunda dapat melakukan beberapa langkah sederhana, seperti mencukupi kebutuhan cairan, menghindari aktivitas berat saat suhu sedang tinggi, menggunakan pakaian yang nyaman, serta beristirahat di tempat yang sejuk.

Jika Bunda sedang merencanakan kehamilan, menjaga kesehatan secara menyeluruh dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu mempersiapkan kehamilan dengan lebih baik.

Pada akhirnya, penelitian di Jepang ini menunjukkan bahwa paparan panas yang berkepanjangan mungkin berkaitan dengan perubahan angka kelahiran. Namun, hubungan tersebut masih perlu dipelajari lebih lanjut sebelum dapat digunakan untuk menarik kesimpulan mengenai kesuburan individu.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Penyebab Program Hamil Anak Kedua Terasa Lebih Sulit

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Cara Mengenali Orang EQ Tinggi dari Sikapnya saat Marah, Tak Sembarangan Meluapkan Emosi

Mom's Life Amira Salsabila

Ciri Orang yang Sangat Sensitif, Kerap Ucapkan 9 Kalimat Ini saat Tersinggung

Mom's Life Amira Salsabila

Cuaca Panas Sebabkan Angka Kelahiran Semakin Menurun di Jepang

Kehamilan Annisa Aulia Rahim

Intip Keindahan Lovenest, Rumah Pevita Pearce yang Serba Aesthetic dan Homey

Mom's Life Annisa Karnesyia

Ciri Orang IQ Tinggi yang Terlihat dari Cara Menyelesaikan Masalah

Mom's Life Tim HaiBunda

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Kandungan ASI Ini Terbukti Sudah Mampu Lawan Bakteri Jahat sejak Zaman Purba

Cara Mengenali Orang EQ Tinggi dari Sikapnya saat Marah, Tak Sembarangan Meluapkan Emosi

Ciri Orang yang Sangat Sensitif, Kerap Ucapkan 9 Kalimat Ini saat Tersinggung

Cuaca Panas Sebabkan Angka Kelahiran Semakin Menurun di Jepang

Intip Keindahan Lovenest, Rumah Pevita Pearce yang Serba Aesthetic dan Homey

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK