Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Kandungan ASI Ini Terbukti Sudah Mampu Lawan Bakteri Jahat sejak Zaman Purba

Melly Febrida   |   HaiBunda

Jumat, 06 Nov 2026 07:55 WIB

Ilustrasi Pumpung ASI Perah Menyusui
Kandungan ASI Ini Terbukti Sudah Mampu Lawan Bakteri Jahat sejak Zaman Purba/Foto: Getty Images/iStockphoto/geargodz
Daftar Isi
Jakarta -

Air Susu Ibu (ASI) terkenal dengan kandungan nutrisi dan manfaatnya dalam mendukung daya tahan tubuh bayi. Tahukah Bunda bahwa salah satu protein pelindung di dalamnya ternyata sudah memiliki kemampuan melawan bakteri sejak zaman purba?

Protein yang dimaksud adalah laktoferin, Bunda. Melansir StudyFinds, para ilmuwan menemukan bahwa bagian pelawan bakteri dalam protein ini sudah berfungsi sekitar 160 juta tahun lalu, ketika dinosaurus masih hidup. Ini tercantum dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS Biology. 

Untuk mengetahuinya, para ilmuwan memperkirakan susunan bagian protein tersebut pada mamalia purba berdasarkan data genetik. Bagian protein itu kemudian dibuat kembali dan diuji di laboratorium untuk melihat kemampuannya melawan bakteri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mengenal laktoferin, kandungan ASI yang membantu melindungi bayi

Laktoferin merupakan protein pengikat zat besi. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), protein ini memiliki sifat bakteriostatik, yaitu menghambat pertumbuhan bakteri.

Caranya dengan mengikat zat besi yang dibutuhkan sejumlah bakteri untuk tumbuh, termasuk Staphylococcus dan Escherichia coli. Ketika akses terhadap zat besi terbatas, pertumbuhan bakteri tersebut dapat terhambat.

IDAI juga menjelaskan bahwa kadar laktoferin paling tinggi terdapat pada kolostrum, yakni ASI awal yang keluar setelah persalinan. Selain laktoferin, ASI mengandung komponen pelindung lain, seperti lisozim, sel kekebalan, dan antibodi. Jadi, perlindungannya melibatkan banyak komponen yang saling mendukung, Bunda.

Penelitian menelusuri kemampuan antibakteri sejak zaman purba

Penelitian yang ditulis Titas Sil bersama tim, termasuk Matthew F. Barber dari University of Oregon, diterbitkan pada 25 Agustus 2026. Tim menggunakan data genetik untuk memperkirakan urutan protein leluhur, kemudian membuat fragmennya di laboratorium. Pendekatan ini membantu mereka menelusuri perubahan fungsi protein sepanjang evolusi.

Fokusnya adalah laktoferisin, bagian kecil di dalam laktoferin yang memiliki aktivitas antimikroba. Hasil pengujian menunjukkan bahwa versi leluhur laktoferisin sudah dapat merusak membran bakteri. Pada beberapa versi yang muncul kemudian, kemampuan membunuh bakterinya menjadi lebih kuat.

Bagaimana bagian protein ini melawan bakteri?

Laktoferin memiliki lebih dari satu cara untuk menghadapi kuman. Selain membatasi ketersediaan zat besi, protein ini menyimpan bagian antimikroba yang dapat melubangi membran bakteri.

Bayangkan membran sebagai pembatas yang menjaga isi sel bakteri tetap berada di tempatnya. Ketika pembatas tersebut rusak, fungsi sel bakteri ikut terganggu.

Dalam penjelasan resmi University of Oregon, Titas Sil, penulis utama penelitian sekaligus mahasiswa doktoral di laboratorium Barber, menyebut peptida antimikroba sebagai bagian penting dari pertahanan awal tubuh. Kemampuannya menghadapi beragam patogen membuat kelompok molekul ini menarik untuk diteliti bagi pengembangan terapi.

Perubahan kecil bisa memengaruhi kekuatan melawan bakteri

Peneliti juga menemukan bahwa perubahan pada satu posisi asam amino dapat memengaruhi aktivitas laktoferisin terhadap bakteri tertentu.

Meski demikian, evolusi tidak membuat setiap versi protein selalu lebih kuat terhadap semua bakteri. Efeknya bergantung pada susunan peptida dan bakteri yang dihadapi.

Temuan semacam ini memberi petunjuk untuk penelitian obat. Matthew F. Barber, associate professor bidang biologi di University of Oregon, menjelaskan bahwa mempelajari sifat yang terbentuk dan terseleksi melalui evolusi dapat membantu ilmuwan merancang perangkat antimikroba baru.

Dengan kata lain, mempelajari protein masa lampau dapat membuka ide untuk menghadapi persoalan infeksi pada masa kini.

Apa arti temuan ini untuk Bunda dan Bayi?

Penelitian tersebut menguji fragmen protein di laboratorium. Hasilnya belum membuktikan bahwa peptida purba sudah bisa digunakan sebagai obat infeksi pada manusia.

Untuk keseharian, manfaat menyusui tetap mengacu pada bukti kesehatan yang lebih luas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa ASI mengandung antibodi yang membantu melindungi bayi dari berbagai penyakit yang umum terjadi pada anak.

WHO dan UNICEF merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Setelah itu, bayi mulai mendapatkan MPASI yang aman dan memadai sambil melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.

Apabila Bunda menghadapi kendala menyusui, dukungan tenaga kesehatan dapat membantu mengatasi masalah dan memantau pertumbuhan bayi.

Di balik kandungan ASI yang kita kenal hari ini, ternyata tersimpan perjalanan evolusi yang luar biasa panjang, Bunda. Penelitian tentang laktoferin pun memberi kita kesempatan untuk memahami lebih jauh bagaimana perlindungan alami tubuh terbentuk.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda