kehamilan

Cerita Bunda yang Mengalami Masalah Kekentalan Darah Saat Hamil

Nurvita Indarini 19 Feb 2018
Cerita Bunda yang Mengalami Masalah Kekentalan Darah Saat Hamil/ Foto: dok. pribadi Cerita Bunda yang Mengalami Masalah Kekentalan Darah Saat Hamil/ Foto: dok. pribadi
Jakarta - Mulanya kehamilan yang dialami seorang sahabat HaiBunda ini biasa saja. Nggak ada yang terasa berat. Tapi di usia kehamilan menjelang lima bulan, dia mengalami sakit kepala yang nyaris nggak tertahankan.

"Itu sakit kepala bisa dari pagi sampai malam. Pas malam bisa tiba-tiba kebangun, jantung berdetak kencang," tutur sahabat HaiBunda bernama Dewi ini.

Kata Dewi, dia berusaha melawan sakit kepala itu meskipun saat beraktivitas memang harus 'maksa'. Sakit kepala itu membuatnya pucat seperti kurang darah, tapi nyatanya dia nggak kekurangan darah. "Aduh itu sampai mikir pun nggak bisa," ucap Dewi.

Karena khawatir obat bisa berpengaruh ke janin yang dikandungnya, Dewi hanya bisa berusaha mengurangi sakit kepala dengan minyak telon. Tapi ya gitu, Bun, nggak ada pengaruhnya.

Dewi lantas berkonsultasi ke dokter. Awalnya dokter menduga perubahan hormon saat hamil yang membuatnya jadi mengalami sakit kepala parah seperti itu. Tapi Dewi punya feeling bukan perubahan hormon yang membuatnya begitu. Akhirnya dokter menyarankan untuk mengecek kekentalan darah.

"Ternyata hasil tesnya menunjukkan aku mengalami masalah kekentalan darah. Aku juga melakukan USG fetomaternal karena katanya kekentalan darah bisa bikin janin kecil dan tiba-tiba meninggal. Tapi syukurlah hasil fetomaternal baik," terang Dewi.

Nah, oleh dokter, Dewi pun diresepkan obat pengencer darah yang harus dikonsumsi tiga kali dalam sehari. Kekentalan darah yang dialaminya membuat darahnya mudah beku, sehingga seperti terblok di leher dan nggak sampai ke otak. Tapi untunglah plasenta baik-baik saja, sehingga kondisi tersebut nggak mempengaruhi si janin yang dikandungnya.



Dewi pun harus cek darah tiap bulan untuk melihat perkembangannya. Untunglah di usia kehamilan 8,5 bulan ini, masalah kekentalan darahnya sudah normal, sehingga dosis obat pengencer darahnya dikurangi. Bahkan kata dokter, sejauh ini Dewi bisa melahirkan secara vaginal birth karena di pengecekan terakhir agregasi trombosit oke.

Nggak sampai di situ saja, Bun, Dewi juga mengalami alergi obat. Jadi obat pengencer darah dan suplemen kehamilan yang dikonsumsinya 'crash' di tubuhnya sehingga membuat sekujur tubuhnya jadi gatal-gatal. Dokter pun merekomendasikan untuk menghentikan konsumsi semua obat.

"Aku disarankan makan makanan yang bergizi. Biasanya aku makan sup, ayam kampung rebus, sawi putih, jamur. Aku sembelit juga sih seminggu terakhir ini, jadi diakali dengan makan buah, banyakin pir, apel, pepaya, semangka," sambung perempuan berkacamata ini.

"Selama dicek terakhir agregasi trombosit oke, yang lain oke. Tapi kalau bayinya nggak lahir juga sampai minggu 40, aku rasa aku bakalan sakit kepala parah lagi karena nggak minum obat pengencer darah," tambahnya.

Cerita Bunda yang Mengalami Masalah Kekentalan Darah Saat Hamil/Cerita Bunda yang Mengalami Masalah Kekentalan Darah Saat Hamil/ Foto: dok. pribadi


Dari kasus yang dialaminya, Dewi berkesimpilan bahwa terkadang kita harus percaya sama feeling kita. Kadang kita punya feeling tubuh kita lagi nggak oke nih karena segala hal yang kita alami, jadi saat itulah kita harus cari tahu apa penyebabnya.

Kata Dewi, saat kita didiagnosis dengan masalah kekentalan darah saat hamil, baiknya nggak menyamakan kondisi kita dengan ibu lain yang punya masalah serupa. Kenapa? Karena masalah kekentalan darah itu luas.

"Ada yang impact-nya ke ibu seperti aku, ada yang ke janin, dan ada pula yang baru terlihat saat nanti lahiran," ucapnya.



Prof Dr dr Karmel L Tambunan SpPD-KHOM seperti dikutip detiHealth pernah menuturkan nih, Bun, pada ibu hamil masalah pembekuan darah di tempat yang tak seharusnya (trombosis) bisa menjadi salah satu penyebab keguguran pada ibu hamil. Tapi sekali lagi, dilhat dulu nih pada pembuluh darah mana yang mengalaminya.

Jika pembuluh darah di plasenta yang tersumbat, maka tidak ada nutrisi dan oksigen yang diberikan ke bayi. Dalam kondisi inilah ibu bisa keguguran. Menurut pengalaman Prof Karmel, biasanya usia janin bahkan tak sampai tiga bulan.

Kalaupun ada yang bisa bertahan, biasanya janin mengalami gagal tumbuh, bahkan ibu bisa mengalami preeklampsia di trimester ketiga kehamilan. Karena itulah pada ibu yang mengalami pembekuan darah, biasanya akan diberi obat antikoagulan dan hampir 90 persen kondisinya bisa diatasi.

Bunda punya pengalaman serupa dengan Bunda Dewi? Bisa berbagi cerita lho, Bun, di kolom komentar. Siapa tahu cerita Bunda bisa menyemangati bunda-bunda lainnya. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi