kehamilan

Ini Tentang Saran Sebaiknya Hamil Sebelum Usia 35 Tahun

Melly Febrida 19 Mar 2018
Ini Tentang Saran Sebaiknya Hamil Sebelum Usia 35 Tahun/ Foto: iStock Ini Tentang Saran Sebaiknya Hamil Sebelum Usia 35 Tahun/ Foto: iStock
Jakarta - Meski sudah menikah, nggak semua pasangan ingin langsung punya anak. Ada berbagai alasan untuk menunda punya momongan. Tapi pernah mendengar saran agar punya anak sebelum berusia 35 tahun, Bun?

Saran ini cukup beralasan, karena beberapa penelitian memang mengatakan kehamilan di usia 35 tahun ke atas lebih berisiko. Salah satu penelitian tentang risiko kehamilan di atas usia 35 tahun dipublikasikan di jurnal Obstetrics & Gynecology.

"Kami menemukan perempuan hamil berusia 35 tahun ke atas menghadapi risiko lebih tinggi terhadap hasil kehamilan yang merugikan, termasuk kelainan kromosom, keguguran, dan kelahiran prematur, bila dibandingkan dengan perempuan yang hamil di usia 20 sampai 34 tahun," tutur penulis utama penelitian, Line Elmerdahl Frederiksen, seperti dikutip dari Healthline News.

Seorang perempuan yang hamil saat berusia 30 tahun, peluang memiliki bayi dengan Down Syndrome adalah satu dari 900. Sedangkan ketika hamil pada usia 35 tahun ke atas, peluangnya meningkat menjadi satu dari 300. Demikian sebut penelitian tersebut.

Line dan rekannya menganalisis data dari lebih dari 369.500 perempuan di Denmark. Perempuan-perempuan tersebut diobservasi sejak kehamilan di minggu ke 11 sampai masa akhir kehamilannya. Hasilnya, perempuan berusia di atas 35 tahun risiko komplikasi tertentunya meningkat, walaupun secara keseluruhan risiko komplikasi ini tetap rendah.

Di antara perempuan berusia 20 sampai 34 tahun, 0,56 persen memiliki janin dengan kelainan kromosom. Apabila dibandingkan, persentase perempuan hamil berusia 35 tahun ke atas yang memiliki janin dengan kelainan kromosom diketahui lebih dari dua kali lipat.



Peneliti juga menemukan 1,3 persen di kalangan perempuan berusia 35 sampai 39 tahun, dan 3,8 persen di kalanga ibu hamil berusia 40 tahun atau lebih, yang memiliki janin dengan kelainan kromosom.

Sementara keguguran mempengaruhi 0,4 persen perempuan yang hamil di usia 20 sampai 34 tahun. Secara statistik, risiko keguguran ini juga jauh lebih tinggi pada ibu hamil yang berusia 35 tahun ke atas. Hampir 1 persen kasus keguguran pada perempuan berusia 35 sampai 39 tahun, dan lebih dari 1,6 persen kasus pada perempuan hamil berusia 40 tahun ke atas.

Ini Tentang Saran Sebaiknya Hamil Sebelum Usia 35 Tahun/Ini Tentang Saran Sebaiknya Hamil Sebelum Usia 35 Tahun/ Foto: Getty Images


Risiko lainnya adalah kelahiran tidak cukup bulan alias prematur. Ibu hamil yang berusia 20 sampai 34 tahun memiliki risiko kelahiran prematur sebanyak 1,2 persen. Sedangkan yang berusia 35 sampai 39 tahun, risikonya sedikit meningkat yakni di angka 1,35 persen. Sedangkan yang berusia 40 tahun ke atas, risikonya sedikit di atas 2 persen.

Hubungan antara usia lanjut dan risiko saat hamil tidak banyak berubah saat para peneliti mengendalikan etnisitas, indeks massa tubuh, merokok, penggunaan teknologi reproduksi berbantu, atau riwayat kehamilan kelainan kromosom.

"Penting untuk menyatakan bahwa pesan kami dengan penelitian ini bukanlah perempuan berusia 35 tahun tidak memiliki anak, namun kami sangat ingin perempuan ini mendapat informasi yang baik tentang peningkatan risiko mereka," tutur Lien.



Kata peneliti, studi ini diharapkan bisa membantu memperkaya pemahaman akan peningkatan risiko ini sehingga setiap individu bisa menyeimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi keputusannya dan membuat pilihan waktu kehamilan yang tepat. Yang nggak kalah penting, hamil itu perlu persiapan, dengan tahu segala macam risiko, maka mungkin ada hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko yang tidak diinginkan.

Karena itu jika berencana punya anak di usia 35 tahun, kita butuh pemantauan yang memadai, konseling klinis, dan perawatan antenatal untuk mengatasi risiko yang mungkin terjadi.

"Deteksi dini komplikasi kehamilan berpotensi mengurangi risiko kelahiran prematur. Atau deteksi dini malformasi kongenital agar staf medis bisa memberikan perawatan khusus bagi neonatal," ujar Judith Daniluk, PhD, seorang profesor psikologi konseling di University of British Columbia. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi