kehamilan

Kaitan Musim Saat Bercinta dengan Risiko Anak Gemuk atau Kurus

Melly Febrida 18 Jul 2018
Ilustrasi ibu hamil anak gemuk atau kurus/ Foto: Thinkstock Ilustrasi ibu hamil anak gemuk atau kurus/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Risiko anak kelak jadi orang yang gemuk dan kurus dipengaruhi oleh bagaimana kondisinya saat di kandungan dan ketika dia sudah lahir. Eh, tapi tahu nggak, Bun, musim ketika pasangan suami istri bercinta disebut berkaitan juga lho dengan risiko anak bakal jadi orang gemuk atau kurus.

Temuan yang dipublikasikan di Nature Medicine menyebutkan hubungan seks yang dilakukan di musim dingin cenderung menghasilkan individu berbadan kurus. Sedangkan hubungan seks yang dilakukan di musim panas disebut lebih mungkin menghasilkan individu yang gemuk.

Selama ini, para ilmuwan telah menghubungkan hamil saat cuaca dingin dengan banyaknya lemak cokelat yang membakar kalori pada tikus dan manusia. Penelitian ini dilakukan ilmuwan Swiss yang menganalisis CT Scan 8.400 orang dewasa. Peneliti membandingkan hasil CT scan wanita yang hamil di musim dingin dan melahirkan antara bulan Juli dan November serta yang melahirkan antara bulan Januari dan Juni.

Mereka menemukan ibu yang melahirkan di antara bulan Juli dan November memiliki lemak cokelat lebih aktif daripada ibu yang melahirkan di bulan Januari dan Juni. Tim peneliti mencoba menghubungkan konsepsi pada cuaca dingin dengan banyaknya jaringan adiposa cokelat (brown adipose tissue/BAT) pada tikus dan manusia. Peneliti melihat banyaknya lemak cokelat yang membakar kalori pada tikus dan manusia.



Hasilnya, hanya sedikit kalori yang terbakar oleh lemak cokelat pada manusia dewasa, terutama di bawah lidah, di sekitar tulang leher dan sepanjang tulang belakang. Lemak cokelat berbeda dengan lemak putih yang terkait penyakit termasuk penyakit jantung dan kanker, Bun. Lemak cokelat bermanfaat membakar kalori, menghasilkan panas, dan mengurangi risiko kelebihan berat badan atau mengembangkan gangguan metabolisme.

Nah, penelitian pada tikus yang kawin dalam kondisi cuaca panas atau dingin menunjukkan bahwa perbedaan suhu hanya mempengaruhi tikus jantan yang dinilai lebih aktif secara seksual. Ditemukan juga keturunan tikus jantan yang ditaruh di lingkungan dingin selama beberapa hari sebelum kawin memiliki jumlah lemak cokelat yang lebih besar. Tikus ini juga lebih terlindungi dari penambahan berat badan dan gangguan metabolisme ketika diberi diet tinggi lemak, Bun.

"Penelitian ini menunjukkan perubahan suhu kimia memengaruhi DNA sperma yang dapat diwariskan. Prosesnya dikenal sebagai pemrograman epigenetik. Secara bersama-sama, hasil riset kami menunjukkan pada manusia dan pada tikus, musim atau induksi eksperimental memengaruhi program epigenetik sperma sehingga keturunannya mengandung BAT yang hiperaktif serta meningkatkan adaptasi keturunan terhadap kelebihan gizi dan hipotermia," kata ketua peneliti Profesor Christian Wolfrum di Universitas ETH Zurich seperti dilansir news.com.au.

Prof Christian menambahkan penelitian sebelumnya telah menemukan bahwa orang-orang di daerah dingin memiliki tingkat BAT yang sangat tinggi. Sehingga, bisa dikatakan tinggal di daerah dingin berefek pada pemrograman epigenetik jika seseorang terpapar udara dingin selama periode yang lebih lama.

"Jadi hal sederhana seperti memakai air dingin atau menghabiskan waktu singkat berbaring di balok es mungkin nggak berpengaruh. Hingga saat ini, asumsinya adalah jika seseorang terpapar suhu tertentu dalam waktu panjang bisa jadi itu berpengaruh pada proses konsepsi mereka. Tapi pengamatan kami menunjukkan suhu sebelum konsepsi mungkin juga memengaruhi tingkat lemak cokelat nantinya," kata Prof Christian dilansir Telegraph.

Saat ini Prof Christian dan tim sedang merencanakan penelitian baru yang membandingkan pemrograman epigenetik sperma manusia di musim panas dan musim dingin.

(rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi