kesehatan

Cerebral Palsy Bikin Bayi Cantik 9 Bulan Ini Belum Leluasa Gerak

Nurvita Indarini Jumat, 26 Jan 2018 - 17.10 WIB
Selin bersama sang ibunda/ Foto: Nurvita Indarini Selin bersama sang ibunda/ Foto: Nurvita Indarini
Jakarta - Selina Hafla Azzahra. Demikian nama bayi cantik berusia 9 bulan ini. Anak-anak seumuran Selin sudah makan makanan pendamping ASI dan mulai belajar duduk atau merangkak. Namun tangan dan kaki Selin masih kaku. Dokter menyebut Selin mengalami cerebral palsy.

Waktu HaiBunda datang ke kediaman keluarganya, Selin sedang digendong sang bunda, Peppy Nindy Ully Artha. Kulitnya putih, sepintas tidak terlihat Selin mengalami gangguan perkembangan. Namun di hidungnya terpasang nasogastric tubes (NGT) atau sonde untuk memasukkan cairan nutrisi ke tubuh mungilnya.

"Selin lahir saat usia kandungan 40 minggu. Awalnya semua normal. Bahkan aku pernah USG 4D, semuanya baik-baik saja," tutur Nindy.

Kata Nindy, sekitar dua minggu menjelang persalinan, dirinya memang sempat dirawat di rumah sakit karena anemia. Dia pun butuh tambahan beberapa kantung darah. Namun selanjutnya semua terasa normal.

10 April 2017, di hari persalinan, Nindy merasakan keliyengan dan lemas saat sudah bukaan 7. Nindy khawatir dirinya nggak akan kuat mengejan. Di saat bukaan jalan lahir sudah lengkap, Nindy makin lemas. Awalnya kondisi jantung janin masih oke. Namun karena tak kunjung keluar dari jalan lahir, denyut jantung si janin makin turun.

Akhirnya setelah berjuang sekuat tenaga, si kecil pun lahir. Tapi bayi yang kemudian diberi nama Selin itu lahir dalam keadaan tubuh membiru dan tidak menangis. Pertolongan pertama sudah diberikan, namun tidak ada respons positif, sehingga Selin akhirnya dibawa ke NICU. Sedih banget ya, Bun.



Di NICU, Selin baru dapat ventilator manual. "Ayahnya nyetekin sendiri seharian," imbuh Nindy.

Selama 36 hari dirawat di NICU, Selin sempat kritis. Untungnya kondisinya membaik meski dari beberapa pemeriksaan diketahui Selin mengidap HIE (hypoxic ischemic encephalopathy) penyakit yang terjadi karena terlalu lama di jalan lahir akibat kurangnya oksigen, sehingga terjadi semacam trauma otak. Selin juga didiagnosis mengalami bocor jantung jenis ASD, pneumonia, dan kemudian ada diagnosis cerebral palsy.

"Untungnya ada BPJS, jadi kita terbantu banget. Untuk fisoterapi juga kita mau pakai BPJS, tapi masih antre," sambung Nindy.

Merasa Bersalah

Ketika anak sakit, tentu orang tuanya juga ikut merasakan sakit. Di minggu-minggu awal Selin pulang ke rumah, Nindy sering merasa bersalah. Bahkan sampai saat ini, saat melihat anaknya tertidur di malam hari, Nindy masih sering menangis. Tapi sang suami terus menguatkan Nindy.

"Apalagi suka ada yang bilang Selin umur 9 bulan kok belum tengkurap, belum makan. Sedih sih. Tapi aku biasanya bilang, 'iya, masih belajar'. 'Selin makannya susu,'" papar Nindy.

Kata Nindy, pandangan Selin masih belum fokus. Beberapa waktu lalu, saat akan menjalani sejumlah tes di rumah sakit, Nindi sampai harus jual barang-barang yang ada di rumahnya. Memang sih, semua biaya di-cover BPJS, tapi dia harus keluar biaya transportasi ke rumah sakit, juga membeli susu untuk menambah berat badan Selin yang memang tidak murah. Satu kaleng susu 400 gram harganya sekitar Rp 200 ribu dan biasanya habis dalam tiga hari.

Cerebral Palsy Bikin Bayi Cantik 9 Bulan Ini Belum Leluasa Gerak/Cerebral Palsy Bikin Bayi Cantik 9 Bulan Ini Belum Leluasa Gerak/ Foto: dok. keluarga


"Kado-kado, cincin emas kado juga dijual, buat biaya ke RS, beli susu, dan obat-obat yang harus dibeli sendiri kalau sedang kosong," lanjutnya.

Untuk membawa si kecil Selin ke RS yang jaraknya cukup jauh dari rumah, tentu agak sulit bagi Nindy menggunakan angkutan massal. Saat ada uang berlebih tentu nggak masalah ya, Bun. Tapi kalau kebutuhan sedang banyak-banyaknya, sang suami pun narik ojek dulu sepulang kerja, sehingga punya cukup uang untuk menggunakan taksi online. Tapi pernah nih, suatu kali Nindy terpaksa naik KRL saat membawa Selin ke rumah sakit.

NGT yang dipakai Selin pun menarik perhatian banyak penumpang KRL. "Kalau ditanya, aku bilang itu asesoris saja," kenang Nindy.

Sampai umur 9 bulan, Selin sama sekali belum mendapat fisioterapi. Karena harus mengejar banyak ketinggalan tumbuh kembangnya, Nindy berharap bisa segera membawa anaknya ke ahli fisioterapi umum. Nenek Selin juga jualan rempeyek untuk tambahan persiapan fisioterapi. Demi Selin bisa segera fisioterapi umum, semua keluarga bahkan para sahabat, akan berusaha keras.



"Harapannya Selin bisa cepat dapat tindakan biar ada perkembangan, ada penanganan, karena di usia mau 10 bulan nggak bisa apa-apa, cuma bisa berbaring," tambah Nindy.

Nah, bagi Bunda yang ingin mendapatkan update kabar Selin atau ingin memberikan bantuan dalam bentuk apapun, bisa mengontak Nindy melalui Instagram-nya ya di @nindiiiiy.

Semangat ya, Selin... (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi