kesehatan

Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan, Bunda Perlu Waspada

Muhayati Faridatun Jumat, 28 Des 2018 - 16.01 WIB
Ilustrasi waspada abu vulkanik/ Foto: iStock Ilustrasi waspada abu vulkanik/ Foto: iStock
Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau diketahui sudah terjadi ratusan kali selama enam bulan terakhir. Inilah yang disebut-sebut sebagai penyebab longsor bawah laut sehingga memicu gelombang tsunami, Sabtu (22/12/2018) malam, yang menelan tak kurang dari 400 korban jiwa di Banten dan Lampung Selatan.

Setelah terjadi tsunami, erupsi Gunung Anak Krakatau belum berhenti. Abu vulkanik pun mulai turun di sekitar Banten. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut, abu vulkanik yang berasal dari gunung merupakan hal yang biasa.


"Nggak ada (tanda-tanda apapun), itu cuma bukti gunung meletus besar gitu saja. Abu vulkanik biasa untuk gunung meletus, umumlah. Di Bumi jadi subur tanah. Abu vulkanik ke laut itu, hanya sedikit terarah ke Kepulauan Seribu dan Banten. Tidak apa-apa itu," kata Kepala Bidang Mitigasi Tata Usaha PVMBG I Gede Suantika kepada detikcom, Rabu (26/12/2018).

Gede menambahkan, erupsi Gunung Anak Krakatau masih aktif tercatat sejak Juni lalu. Ia memastikan, magma gunung api tersebut menjadi abu vulkanik, yang ketinggiannya mencapai 14 kilometer dan semburannya mengarah ke barat daya. Diketahui, abu vulkanik turun menghujani beberapa wilayah Banten di Cilegon, Pandeglang dan Serang.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau/ Aktivitas Gunung Anak Krakatau/ Foto: Antara Foto
Meski demikian, dampak dari hujan abu vulkanik ini juga perlu diwaspadai ya, Bunda. Abu vulkanik, yang merupakan partikel batu kecil dengan diameter kurang dari dua milimeter, memiliki lapisan asam yang dapat mengiritasi saluran pernapasan jika terhirup.

Bahkan, orang sehat pun dapat mengalami masalah pernapasan akut saat terpapar abu vulkanik. Bisa juga menimbulkan gejala bronkitis mulai dari hidung meler, sakit tenggorokan, hingga kesulitan bernapas. Bagi pengidap asma, paparan abu vulkanik ini bisa mengakibatkan serangan asma yang lebih hebat.

Selain itu, masalah pernapasan yang bisa disebabkan lantaran menghirup abu vulkanik adalah silikosis. Ketua Divisi Paru Kerja dan Lingkungan, FKUI-RSUP Persahabatan, dr Feni Fitriani Taufik, SpP(K), MPd, menjelaskan bahwa debu vulkanik juga mengandung silika dengan berbagai ukuran. Seiring waktu, menurut Feni, silika dapat menumpuk di paru-paru dan saluran pernapasan sehingga menimbulkan sesak napas.


"Efek jangka panjang yang berbahaya adalah silikosis. Debu silika yang bisa masuk ke dalam paru atau alveoli akan dapat menyebabkan silikosis," ujar Feni, seperti dilansir detikcom.

Waspada ya, Bunda. Batuk merupakan gejala awal silikosis, yang bisa muncul beberapa minggu hingga bertahun-tahun setelah terpapar debu silika yang terkandung dalam abu vulkanik. Dikutip dari Lung.org, pada silikosis akut, terdapat gejala seperti demam dan nyeri dada berbarengan, sehingga kesulitan bernapas yang bisa datang kapan saja.

Untuk itu, Feni mengimbau warga di wilayah yang dihujani abu vulkanik untuk mengunakan penutup hidung, demi mencegah terserang silikosis.

"Imbauan mewakili dokter paru ialah bila beraktivitas di luar rumah, usahakan untuk selalu gunakan masker. Memang yang baiknya itu menggunakan masker N95. Namun dalam situasi seperti ini, apapun jenis maskernya tentu akan sangat menolong. Persiapkan juga untuk masker cadangan bila masker terkena lembab," tegas Feni.

(muf/rap)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait
Rekomendasi