Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

menyusui

Bertahun-tahun Tangani Kanker Payudara, Dokter Onkologi Ini Tak Menyangka juga Mengidap Penyakit Itu

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Minggu, 01 Feb 2026 08:30 WIB

Young Japanese female medical worker
Bertahun-tahun Tangani Kanker Payudara, Dokter Onkologi Ini Tak Menyangka juga Mengidap Penyakit Itu/Foto: Getty Images/lielos
Daftar Isi
Jakarta -

Bunda, siapa sangka seorang dokter onkologi, yang setiap hari menangani pasien kanker payudara justru harus menghadapi diagnosis yang sama pada dirinya sendiri. Inilah yang dialami oleh seorang dokter spesialis kanker payudara, yang selama bertahun-tahun mengedukasi pasien tentang pentingnya deteksi dini, tetapi tak pernah menyangka bahwa suatu hari ia akan berada di sisi ranjang pasien.

Kisah ini menjadi pengingat penting bahwa kanker payudara bisa menyerang siapa saja, bahkan mereka yang memahami penyakit ini secara mendalam. Berikut kisahnya dikutip dari Business Insider.

Tak ada gejala, tapi diagnosis datang mendadak

Dokter onkologi bernama Dr. Sue Hwang terkejut ketika dirinya sendiri didiagnosis kanker payudara pada usia 46 tahun, meskipun ia tidak memiliki gejala dan menganggap dirinya berada dalam kelompok risiko rendah.

Dalam pengakuannya, Dr. Sue Hwang mengungkapkan bahwa ia tidak merasakan gejala apa pun. Tidak ada benjolan, nyeri, perubahan kulit payudara, atau keluhan yang sering dikaitkan dengan kanker payudara. Ia merasa sehat, aktif, dan termasuk dalam kelompok yang selama ini dianggap berisiko rendah.

Namun segalanya berubah ketika ia menjalani pemeriksaan rutin. Dari hasil pencitraan medis, ditemukan beberapa tumor di payudaranya serta kelenjar getah bening yang sudah terlibat. Diagnosis itu datang seperti petir di siang bolong terlebih karena ia sangat paham apa arti temuan tersebut secara medis.

Dari dokter menjadi pasien

Setelah diagnosis ditegakkan, ia harus menjalani rangkaian pengobatan yang tidak ringan, mulai dari operasi pengangkatan payudara (mastektomi), kemoterapi, radioterapi, hingga terapi lanjutan. Semua prosedur yang sebelumnya sering ia jelaskan kepada pasien, kini harus ia jalani sendiri.

Ia mengakui, berada di posisi pasien memberi pengalaman emosional yang sama sekali berbeda. Ketakutan, kecemasan, hingga kelelahan fisik dan mental menjadi bagian dari hari-harinya.

“Selama ini saya tahu secara teori betapa beratnya pengobatan kanker. Tapi mengalaminya sendiri benar-benar membuka mata saya,” ungkapnya.

Seberapa mematikan kanker payudara?

Dikutip dari WHO, kanker payudara adalah kondisi ketika sel-sel di jaringan payudara mengalami perubahan abnormal dan tumbuh tidak terkendali, membentuk massa atau tumor yang dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya dan bahkan ke bagian tubuh lain jika tidak ditangani. Tumor ini biasanya berasal dari saluran susu (duktus) atau kelenjar penghasil susu (lobulus) di payudara. 

Secara global, kanker payudara adalah salah satu kanker yang paling sering diidap oleh wanita dengan jutaan kasus baru setiap tahun. Tanpa penanganan efektif, tumor dapat menyebar ke organ lain dan mengancam nyawa, tetapi dengan deteksi dini dan pengobatan tepat, banyak perempuan dapat pulih atau hidup lama bersama penyakit ini. 

Deteksi dini sangat berpengaruh pada prognosis semakin awal kanker ditemukan, semakin besar peluang kesembuhan. Banyak kasus kanker payudara tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga skrining seperti mammografi disebut sebagai alat penting dalam menemukan kanker sebelum terlihat atau terasa

Selain itu dikutip dari The Guardian, Menurut penelitian besar, perempuan yang melewatkan skrining awal memiliki risiko 40 persen lebih tinggi meninggal akibat kanker payudara dibanding mereka yang rutin skrining sejak awal. 

Siapa yang berisiko mengidap kanker payudara?

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko kanker payudara meliputi:

1. Usia bertambah (risiko meningkat pada usia di atas 40–50 tahun)
2. Jenis kelamin perempuan (sekitar 99 persen kasus terjadi pada perempuan)
3. Riwayat keluarga yang pernah mengidap kanker payudara atau mutasi gen BRCA1/BRCA2
4. Paparan radiasi sebelumnya
5. Gaya hidup tidak sehat: Obesitas, konsumsi alkohol berlebihan, kurang aktivitas fisik
6. Pemakaian terapi hormon jangka panjang setelah menopause
7. Reproduksi (seperti haid dini atau menopause terlambat)

Meski demikian, banyak perempuan yang terdiagnosis tidak memiliki faktor risiko kuat selain usia dan jenis kelamin. 

Gejala yang perlu diwaspadai

Gejala kanker payudara dapat bervariasi, tetapi beberapa tanda yang sering dilaporkan meliputi:

  • Benjolan baru di payudara atau ketiak
  • Perubahan pada ukuran atau bentuk payudara
  • Kulit payudara terasa cekung atau menyerupai 'kulit jeruk'
  • Perubahan puting (tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan tak biasa
  • Nyeri payudara yang persisten

Tidak semua kanker menimbulkan gejala awal, itulah sebabnya skrining rutin penting bahkan saat tidak ada keluhan. Kanker Payudara Tak Selalu Beri Tanda

Dari pengalamannya, sang dokter menekankan satu hal penting untuk semua perempuan, termasuk para Bunda: kanker payudara tidak selalu menunjukkan gejala di awal. Banyak kasus kanker payudara stadium awal hanya bisa terdeteksi melalui:

  • Pemeriksaan payudara klinis
  • Mammografi
  • USG payudara (terutama pada payudara padat)
  • Pemeriksaan lanjutan sesuai rekomendasi dokter

Inilah mengapa deteksi dini dan pemeriksaan rutin sangat krusial, bahkan jika Bunda merasa sehat dan tidak memiliki riwayat keluarga.

Kini, setelah melalui pengobatan dan memasuki masa pemulihan, dokter tersebut kembali menjalani profesinya dengan sudut pandang yang berbeda. Ia merasa lebih mampu memahami perasaan pasien—bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga secara emosional.

Pengalaman ini juga mendorongnya untuk lebih terbuka membicarakan sisi mental dan psikologis kanker, yang sering kali terabaikan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda