MENYUSUI
Diagnosis Kanker Payudara Pasca Melahirkan Disebut Lebih Berisiko, Ini Alasannya
Annisa Aulia Rahim | HaiBunda
Sabtu, 25 Jul 2026 12:40 WIBKehamilan dan melahirkan merupakan fase besar yang membawa banyak perubahan pada tubuh perempuan. Namun, di balik perubahan hormon yang terjadi, ada kondisi kesehatan yang perlu diwaspadai lho Bunda, salah satunya adalah kanker payudara yang terdiagnosis setelah melahirkan.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa perempuan yang mengalami diagnosis kanker payudara dalam beberapa tahun setelah melahirkan dapat memiliki risiko penyakit yang lebih agresif dibandingkan perempuan yang belum pernah melahirkan atau mereka yang didiagnosis kanker payudara jauh setelah masa persalinan.
Kondisi ini dikenal sebagai postpartum breast cancer atau kanker payudara pasca persalinan.
Mengapa kanker payudara setelah melahirkan bisa lebih berisiko?
Salah satu alasan utama adalah perubahan biologis pada jaringan payudara selama kehamilan dan menyusui.
Saat hamil, payudara mengalami perkembangan besar untuk mempersiapkan produksi ASI. Hormon seperti estrogen, progesteron, dan prolaktin menyebabkan sel-sel payudara tumbuh dan berkembang.
Setelah melahirkan, terutama ketika proses menyusui berhenti, jaringan payudara mengalami proses yang disebut involusi, yaitu kembalinya jaringan payudara ke kondisi sebelum hamil.
Dalam proses ini, terjadi perubahan pada sel dan lingkungan sekitar jaringan payudara yang dapat menciptakan kondisi tertentu yang mendukung perkembangan sel kanker.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, risiko kematian akibat kanker payudara dapat meningkat pada perempuan yang didiagnosis dalam periode sekitar 5 tahun setelah melahirkan dibandingkan perempuan yang belum pernah melahirkan. Risiko tersebut terlihat lebih tinggi terutama pada perempuan dengan usia lebih muda saat melahirkan.
Perubahan hormon bisa memengaruhi pertumbuhan sel kanker
Hormon reproduksi memiliki peran besar dalam perkembangan kanker payudara tertentu. Selama kehamilan, kadar hormon meningkat secara signifikan untuk mendukung pertumbuhan jaringan payudara. Pada sebagian kecil kasus, perubahan hormonal ini dapat mempercepat pertumbuhan sel abnormal yang sebelumnya sudah ada tetapi belum terdeteksi.
Peneliti dari University of North Carolina Lineberger Comprehensive Cancer Center menemukan bahwa kanker payudara yang muncul setelah kehamilan cenderung memiliki karakteristik lebih agresif dan lebih sering ditemukan pada stadium lanjut.
Salah satu dugaan penyebabnya adalah perubahan mikro lingkungan jaringan payudara setelah melahirkan yang dapat memengaruhi kemampuan sel kanker untuk berkembang dan menyebar.
Gejalanya sering disalahartikan sebagai efek menyusui
Salah satu tantangan terbesar dalam mendeteksi kanker payudara setelah melahirkan adalah gejalanya sering dianggap normal akibat menyusui.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Benjolan pada payudara yang tidak hilang setelah beberapa minggu
- Perubahan bentuk atau ukuran salah satu payudara
- Kulit payudara tampak seperti kulit jeruk (peau d'orange)
- Puting tertarik ke dalam secara tiba-tiba
- Keluar cairan dari puting selain ASI
- Nyeri atau perubahan yang terasa berbeda dari biasanya
Banyak ibu menyusui mengalami payudara keras, bengkak, atau nyeri akibat sumbatan ASI dan mastitis. Namun, jika keluhan tidak membaik dengan perawatan biasa, pemeriksaan medis tetap diperlukan.
Usia muda bukan berarti bebas risiko
Sebagian perempuan menganggap kanker payudara hanya terjadi pada usia lanjut. Padahal, kanker payudara yang berkaitan dengan masa kehamilan dan setelah melahirkan lebih sering ditemukan pada perempuan usia muda.
Data dari American Cancer Society menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar kanker payudara terjadi pada usia lebih tua, kasus pada perempuan muda dapat memiliki tantangan tersendiri karena sering terlambat dikenali.
Selain itu, perempuan yang baru melahirkan terkadang menunda pemeriksaan karena fokus merawat bayi atau menganggap perubahan pada payudara sebagai bagian normal dari masa menyusui.
Apakah menyusui bisa menurunkan risiko kanker payudara?
Meski diagnosis kanker payudara setelah melahirkan memiliki risiko tertentu, menyusui tetap memiliki banyak manfaat kesehatan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menyusui dalam jangka waktu tertentu berkaitan dengan penurunan risiko kanker payudara sepanjang hidup. Efek perlindungan ini diduga terjadi karena menyusui mengurangi jumlah siklus menstruasi selama hidup sehingga paparan hormon tertentu menjadi lebih rendah. Namun, manfaat menyusui tidak berarti seseorang sepenuhnya terbebas dari risiko kanker payudara.
Sebuah analisis besar oleh Collaborative Group on Hormonal Factors in Breast Cancer yang melibatkan data dari hampir 50.000 perempuan dengan kanker payudara dan lebih dari 96.000 perempuan tanpa kanker menemukan bahwa, risiko kanker payudara menurun sekitar 4,3 persen untuk setiap 12 bulan menyusui sepanjang hidup. Selain itu, setiap kali melahirkan juga dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 7 persen, terlepas dari efek menyusui.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) dan American Cancer Society (ACS) juga menyatakan bahwa menyusui merupakan salah satu faktor yang dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium.
Pentingnya mengenali perubahan tubuh setelah melahirkan
Masa setelah melahirkan sering membuat ibu lebih fokus pada kesehatan bayi dibandingkan dirinya sendiri. Padahal, menjaga kesehatan ibu juga menjadi bagian penting dalam keluarga.
Jika menemukan perubahan yang tidak biasa pada payudara, jangan menunggu terlalu lama untuk berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu meningkatkan peluang mendapatkan penanganan yang tepat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)Simak video di bawah ini, Bun:
Bayi Menyusu Lama tapi Berat Tak Naik, Kenapa?
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Menyusui Bisa Kurangi Risiko Kanker Hingga 91 Persen, Begini Caranya
Amankah Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayi? Ini Kata Dokter
4 Jenis Tes Kesehatan Payudara dan Kisaran Biayanya, Simak Bun
Cara Bedakan Benjolan Payudara Akibat Masalah Menyusui dan Kanker
TERPOPULER
Ciri-Ciri Orang yang Suka Mencari Perhatian Tanpa Disadari dalam Kehidupan Sehari-hari
Kisah Rossa Adopsi Anak Perempuan, Yoyo Padi Bersedia Jadi Figur Ayah
Deretan Anak Artis Sekolah PJJ Imbas Erupsi Anak Krakatau
Resep Soto Ayam Bening yang Lezat, Nikmat Disantap Hangat
Momen Bahagia Brisia Jodie dan Jonathan Alden Ungkap Kehamilan Anak Pertama
REKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Kompor Portable Terbaik untuk Dapur dan Aktivitas Outdoor
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Wajan untuk Masak Nasi Goreng yang Bagus, Anti Lengket, dan Awet
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Bibit Timun Unggul & Terbaik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Tanah Liat Terbaik, Cocok untuk Dapur Rumahan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lulur untuk Kulit Cerah, Halus, dan Glowing
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Ciri-Ciri Orang yang Suka Mencari Perhatian Tanpa Disadari dalam Kehidupan Sehari-hari
Deretan Anak Artis Sekolah PJJ Imbas Erupsi Anak Krakatau
Cuti Tahunan Berkurang Jika Karyawan Mangkir, Bolehkah Perusahaan Melakukannya?
Kisah Rossa Adopsi Anak Perempuan, Yoyo Padi Bersedia Jadi Figur Ayah
Belanja Jadi Makin Seru, Ajak Si Kecil Eksplorasi 6 Dunia Menarik di Lilla WonderWorld
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Males Ribet Lilit Kain? Kebaya Set Praktis Ini Bisa Jadi Solusi Tanpa Pusing Padu Padan
-
Beautynesia
4 Cara Mengenali Orang yang Tidak Mampu Berpikir Kritis dari Ucapan Sehari-hari
-
Female Daily
Adidas Originals Sport: Koleksi Baju Olahraga yang Bikin Workout Makin Stylish
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
5 Gaya Seksi Irina Shayk di Venice, Pakai Gaun Cut-out Dolce & Gabbana
-
Mommies Daily
10 Rekomendasi Body Lotion Bayi dan Anak, Favorit para Mommies di 2026