HaiBunda

MENYUSUI

Benarkah Perasaan Bahagia Ibu Menyusui Bisa Bantu Produksi Kolostrum? Ini Kata Studi

Dwi Indah Nurcahyani   |   HaiBunda

Kamis, 06 Aug 2026 15:15 WIB
Benarkah Perasaan Bahagia Ibu Menyusui Bisa Bantu Produksi Kolostrum? Ini Kata Studi/Foto: Getty Images/shih-wei
Jakarta -

Tertawa lepas dan merasa bahagia tidak saja membuat tubuh jadi plong dan mood baik tetapi juga membantu kelancaran ASI lho, Bunda. Lantas, benarkah perasaan bahagia ibu menyusui bisa membantu produksi kolostrum? Ini kata studi.

Ya, ternyata bahagia itu bukan sekadar melegakan diri tetapi juga bisa memengaruhi keluarnya kolostrum pasca melahirkan. Seperti diketahui bahwa kapasitas produksi ASI memang sangat penting untuk mendukung kebutuhan selama menyusui. 

Sebuah studi terbaru dilakukan dan menerapkan intervensi psikologi positif pada perempuan primipara di akhir kehamilan. Tujuannya yakni mengeskplorasi bagaimana regulasi emosional memengaruhi perubahan hormon terkait laktasi pasca persalinan dan hasil pemberian ASI di rumah sakit.


Penelitian suasana hati ibu menyusui dan produksi kolostrum

Partisipan yang terlibat di dalamnya direkrut dari rumah sakit ginekologi dan obstetri di Tiongkok. Dalam praktiknya, intervensi penulisan positif diberikan melalui kuesioner elektronik WeChat. Dalam hal ini, kelompok kontrol mencatat tiga hal pertama dan kelompok intervensi tiga hal baik selama dua kali seminggu.

Hasil utama pun dikumpulkan dan dilakukan persamaan estimasi umum untuk digunakan dalam menganalisis data pengukuran berulang. Selama periode Januari- Agustus 2022, sebanyak 204 dengan 95 di antaranya intervensi dan 10 kontrol akhirnya dianalisis setelah mengecualikan peserta yang keluar dari penelitian.

Analisis generalized estimating equations (GEE) menunjukkan kelompok intervensi memiliki skor ketahanan yang secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok kontrol (15,55 vs. 15,01, Wald χ2 = 4,53, P = 0,033). Kemudian, tidak ditemukan perbedaan signifikan antar kelompok dalam skor kecemasan, depresi, jadwal afek positif dan negatif (PANAS), atau skor menyusui.

Pasca persalinan, kadar prolaktin (PRL) berbeda secara signifikan antar kelompok (P = 0,031), tetapi kadar insulin-like growth factor-1 (IGF-1) tidak berbeda (P > 0,05). Serta, efek perilaku menyusui juga tidak menunjukkan perbedaan antar kelompok.

Studi ini menunjukkan intervensi psikologis positif berdasarkan pendekatan 'tiga hal baik' dapat secara efektif meningkatkan ketahanan psikologis perempuan primipara dan mendorong sekresi prolaktin, tetapi tidak memiliki efek signifikan pada perilaku menyusui seperti dikutip dari laman Nature. 

Menyusui promosikan kesehatan dan kelangsungan hidup anak

Seperti halnya anjuran dari WHO bahwa menyusui memang direkomendasikan sejak bayi lahir. ASI dengan nutrisi seimbang, suhu yang sesuai, manfaat ekonomi, dan lainnya,  dianggap sebagai makanan paling alami dan ideal untuk bayi. 

ASI sendiri diketahui mengandung beragam mikrobiota dan berbagai komponen aktif biologis yang berkontribusi pada perkembangan sistem kekebalan bayi. Dengan demikian, dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula, anak yang disusui memiliki insiden penyakit yang lebih rendah dan tingkat kematian yang lebih rendah. 

Seperti yang disarankan WHO bahwa bayi memang perlu diberikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupannya dan dilanjutkan menyusui hingga usia dua tahun atau lebih. 

Guna mendorong menyusui eksklusif dalam enam bulan pertama pasca melahirkan, banyak studi mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi serta langkah-langkah intervensi.  Studi sebelumnya menunjukkan bahwa sikap positif terhadap menyusui adalah prediktor terkuat dan berhubungan dengan peningkatan inisiasi dan pemeliharaan menyusui sebesar 20- 30 persen pada semua titik waktu.

Karenanya, program mendukung menyusui dilakukan guna meningkatkan sikap dan kognisi mengenai menyusui di kalangan ibu hamil. Ternyata, ini merupakan  langkah efektif untuk menunda penghentian menyusui, sehingga durasi dan eksklusivitasnya meningkat.

Selain faktor kognitif, status psikologis dan emosi juga memainkan peran penting dalam menyusui. Bukti saat ini menunjukkan bahwa kecemasan dan depresi terkait dengan perilaku membuat menyusui eksklusif yang lebih rendah. Selain itu, adanya tekanan psikologis menyebabkan nafsu makan rendah, penurunan berat badan, dan status nutrisi yang buruk, yang semuanya membuat menyusui menjadi sulit. 

Menariknya, gangguan stres emosional dan traumatis ditemukan memiliki dampak terbesar pada hasil menyusui. Sementara, relevansi klinis, menangani stres prenatal dan pasca persalinan sebagai bagian dari pelaksanaan intervensi praktik menyusui dapat meningkatkan tingkat menyusui. 

Meskipun studi intervensi telah berfokus pada tekanan psikologis, masih sedikit studi yang melakukan intervensi psikologi positif untuk mendorong menyusui. Intervensi psikologi positif sendiri diperlukan karena dapat meningkatkan kesejahteraan mental perempuan selama periode perinatal.  Oleh karena itu, intervensi psikologi positif mungkin layak dieksplorasi sebagai langkah untuk mendorong perilaku menyusui. 

'Tiga Hal Baik', sebagai instruksi intervensi psikologi positif kepada peserta untuk menuliskan tiga hal baik setiap malam, diusulkan oleh Seligman pada tahun 2005. Ini membantu mengembangkan keterampilan dalam mengatur emosi, yang dapat meningkatkan pengalaman emosi positif dan meredakan gejala depresi.

Intervensi psikologis ini telah diuji dalam berbagai studi dan dapat direplikasi serta mudah diterapkan oleh individu. Oleh karena itu, studi ini akan menggunakan dan mengevaluasi efek 'Tiga Hal Baik' sebagai intervensi untuk meningkatkan emosi positif dan mengurangi emosi negatif di antara ibu hamil.

Penting diketahui, sebenarnya perilaku menyusui dipengaruhi oleh kapasitas laktasi, yang tercermin dalam kadar hormon. Prolaktin (PRL) adalah hormon protein yang disekresikan oleh kelenjar pituitari anterior yang dapat merangsang dan mempertahankan laktasi.  Insulin-like growth factor I (IGF-I) adalah jenis polipeptida yang dapat memediasi galactagogue hormon pertumbuhan.

Pada studi sebelumnya telah menunjukkan bahwa emosi dan sekresi kedua hormon ini sangat terkait erat. Emosi positif dapat mendorong sekresi prolaktin, sementara depresi dapat menyebabkan ketidakseimbangan sekresi prolaktin dan kejadian stres serta kecemasan juga dapat menyebabkan tingkat sekresi IGF-I yang rendah.

Studi ini sendiri bertujuan menggunakan intervensi 'Tiga Hal Baik' untuk mempromosikan emosi positif di antara perempuan hamil selama kehamilan tengah dan akhir kehamilan, sehingga meningkatkan sekresi hormon terkait laktasi serta inisiasi dan kelanjutan perilaku menyusui.

Dalam studi tersebut memang memiliki beberapa keunggulan. Pertama, berbeda dengan intervensi saat ini yang berfokus pada peningkatan pengetahuan, studi ini berupaya mendorong sekresi hormon terkait laktasi dengan meningkatkan emosi positif, lalu perilaku menyusui.

Kedua, sebagian besar intervensi sebelumnya yang mempromosikan menyusui dilakukan pada periode pascapersalinan. Mengingat pentingnya pengalaman menyusui dini, maka terdapat pemindahan periode intervensi ke tahap akhir kehamilan.

Ketiga, intervensi campuran pendidikan dan pendukung yang lebih awal sulit untuk dievaluasi dan direplikasi secara presisi. Studi ini kemudian akan menggunakan ukuran psikologis umum, 'Tiga Hal Baik' dilakukan untuk meningkatkan emosi positif, yang memungkinkan individu melakukan dan lebih mudah dipromosikan serta dipopulerkan di kalangan perempuan hamil seperti dikutip dari laman NCBI.

Di luar sisi positifnya yang dihasilkan dari studi, ternyata studi ini juga memiliki beberapa kekurangan. Pertama, karena keterbatasan teknologi pengujian dan kerumitan dalam membedakan antara sumber endogen dan eksogen, peneliti tidak akan menguji oksitosin dalam serum ini, meskipun hal ini telah banyak dilaporkan terkait dengan laktasi. Namun, pelepasan oksitosin terkait dengan kadar prolaktin, yang akan dimasukkan dalam tes kami.

Kedua, peneliti membatasi pengukuran hasil perilaku terkait menyusui hanya pada masa rawat inap pasca melahirkan, tanpa mengikuti periode 6 bulan atau lebih. Namun demikian, menyusui eksklusif pada periode awal pasca persalinan (1 jam dan dalam beberapa hari setelah persalinan) telah berkorelasi positif dengan durasi menyusui setelah persalinan.

Sebagai kesimpulan, studi ini akan menguji efek intervensi 'Tiga Hal Baik' baik terhadap emosi perempuan selama kehamilan, maupun terhadap sekresi kolostrum dan perilaku menyusui. Studi ini juga akan membantu siapapun lebih mengidentifikasi mekanisme fisiologis dari hubungan antara emosi dan perilaku menyusui. 

Selain itu, intervensi cenderung meningkatkan emosi positif pasca persalinan dan mengurangi kecemasan serta emosi negatif. Terpenting, studi ini memberikan bukti klinis untuk meningkatkan sekresi kolostrum melalui intervensi psikologi positif prenatal.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI.

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Blind Ranking, Seberapa Challenging Jadi Bunda Menyusui

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

25 Contoh Pantun Kiasan, Lengkap dengan Nasihat dan Pesan Moralnya

Parenting Annisya Asri Diarta

Cara Mengenali Orang dengan Self-Esteem Rendah Menurut Psikolog

Mom's Life Amira Salsabila

Apa yang Terjadi jika Makan Telur Rebus Setiap Hari? Ini 5 Efeknya pada Tubuh

Mom's Life Pritadanes

Potret Nikita Willy Ikut Resmikan Masjid di Kanada Bareng Cindy Fatikasari

Mom's Life Amira Salsabila

Benarkah Perasaan Bahagia Ibu Menyusui Bisa Bantu Produksi Kolostrum? Ini Kata Studi

Menyusui Dwi Indah Nurcahyani

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Daftar Orang Paling Terkenal di Dunia, Cristiano Ronaldo hingga Member BTS

25 Contoh Pantun Kiasan, Lengkap dengan Nasihat dan Pesan Moralnya

Psikiater Ungkap Burnout Bisa Bikin Dokter-Nakes Kehilangan Empati

Benarkah Perasaan Bahagia Ibu Menyusui Bisa Bantu Produksi Kolostrum? Ini Kata Studi

Cara Mengenali Orang dengan Self-Esteem Rendah Menurut Psikolog

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK