HaiBunda

MENYUSUI

Curhatan Bunda Alami Breastfeeding Gaslighting hingga Berhenti Menyusui setelah Sebulan

Annisa Aulia Rahim   |   HaiBunda

Rabu, 09 Sep 2026 08:55 WIB
Curhatan Bunda Alami Breastfeeding Gaslighting hingga Berhenti Menyusui setelah Sebulan/Foto: Getty Images/Peerakorn Chotthanawarapong
Jakarta -

Keputusan untuk menyusui atau memberikan susu tambahan sering kali menjadi hal yang sangat personal bagi seorang Bund. Sayangnya, dalam praktiknya, tidak sedikit Bunda yang justru merasa dihakimi ketika pilihan atau pengalaman menyusuinya tidak sesuai dengan harapan orang lain.

Hal inilah yang belakangan menjadi perhatian setelah Choi Yeon-soo, putri chef Korea Selatan Choi Hyun-seok, membagikan pengalamannya mengalami apa yang ia sebut sebagai breastfeeding gaslighting hingga akhirnya berhenti menyusui setelah satu bulan.

Curhat alami breastfeeding gaslighting hingga berhenti menyusui

Dalam sesi tanya jawab di media sosialnya, Choi Yeon-soo menjawab pertanyaan seorang netizen yang mengaku merasa bersalah karena ingin memberikan susu tambahan kepada bayinya setelah mendapat tekanan untuk terus menyusui.


Choi mengaku pernah mengalami hal serupa. Ia mengatakan sering mendengar komentar seperti bayinya lahir kecil, dirinya memiliki banyak ASI, serta menyusui dianggap sebagai pilihan terbaik untuk bayi. Komentar-komentar tersebut membuatnya merasa bersalah ketika memutuskan untuk berhenti menyusui.

Bahkan, ia sempat menyesal dan mempertimbangkan untuk kembali menyusui atau melakukan relaktasi.  Namun, menurut pengakuannya, kondisi fisiknya membuat keputusan tersebut tidak mudah.

Ia mengalami keluhan pada pergelangan tangan karena harus mempertahankan posisi tertentu saat menyusui. Ia juga merasa posturnya berubah akibat posisi menyusui. Bahkan ketika ASI diperah dan suaminya membantu memberikan ASI kepada bayi, ia merasa tanggung jawab menyusui tetap berada di pundaknya sehingga waktu untuk beristirahat semakin sedikit.

Choi akhirnya mengatakan bahwa ia hanya menyusui selama sekitar satu bulan sebelum memilih berhenti. Ia menegaskan bahwa dirinya tetap menghormati ibu yang memilih menyusui, tetapi berharap keputusan mengenai pemberian makanan kepada bayi tidak dijadikan ukuran kasih sayang seorang ibu.

Apa itu breastfeeding gaslighting?

Istilah breastfeeding gaslighting sebenarnya bukan istilah medis atau diagnosis psikologis resmi. Istilah ini lebih banyak digunakan secara populer untuk menggambarkan pengalaman ketika seorang ibu merasa realitas, kesulitan, atau keputusannya dalam menyusui terus-menerus diragukan, diremehkan, atau dibuat merasa bersalah oleh orang lain.

Misalnya, seorang ibu yang sedang kesulitan menyusui justru mendapatkan komentar seperti:

“ASI-mu sebenarnya banyak, kok.”

“Kalau benar-benar sayang anak, pasti tetap menyusui.”

“Jangan menyerah, ibu lain juga bisa.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin awalnya dimaksudkan untuk mendorong ibu menyusui. Namun, jika disampaikan tanpa memahami kondisi ibu, dukungan tersebut justru bisa berubah menjadi tekanan.

Yang perlu dibedakan, mendapatkan informasi mengenai manfaat ASI bukan berarti mengalami gaslighting. Tenaga kesehatan tetap perlu memberikan informasi berbasis bukti mengenai manfaat menyusui sekaligus membantu ibu mengatasi kendala yang dihadapi.

Masalahnya muncul ketika informasi tersebut berubah menjadi penghakiman atau membuat ibu merasa bahwa dirinya gagal jika tidak mampu menyusui sesuai target tertentu.

Tekanan menyusui bisa memengaruhi mental Bunda

Pengalaman seperti yang diceritakan Choi Yeon-soo juga mendapat perhatian dalam penelitian mengenai tekanan menyusui. Sebuah studi yang diterbitkan di Frontiers in Public Health pada 2024 meneliti hubungan antara tekanan untuk menyusui dengan kondisi mental ibu setelah melahirkan.

Penelitian longitudinal tersebut menemukan bahwa persepsi mendapat tekanan untuk menyusui berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan gejala trauma persalinan empat minggu kemudian.

Para peneliti menemukan bahwa sebagian ibu merasa harus memenuhi gambaran “ASI adalah yang terbaik” dan menganggap keberhasilan menyusui sebagai bagian dari keberhasilan mereka sebagai ibu. Ketika mengalami kesulitan, kurangnya pilihan dan dukungan dapat membuat tekanan tersebut semakin berat.

Penelitian lain yang melibatkan 501 responden juga menemukan tiga tema utama, yaitu tekanan untuk menyusui, tekanan untuk tidak menyusui, serta dampaknya terhadap kesehatan mental.

Studi tersebut menunjukkan bahwa tekanan yang dirasakan ibu dapat berdampak negatif terhadap kesehatan mental, sementara pengalaman menyusui yang positif dan mendapatkan dukungan justru dapat memberikan dampak yang lebih baik.

Artinya, persoalannya bukan sekadar apakah seorang ibu menyusui atau tidak. Bagaimana ibu mendapatkan dukungan dalam proses tersebut juga penting.

Menyusui banyak manfaatnya, tetapi ibu juga membutuhkan dukungan

ASI memiliki banyak manfaat bagi bayi dan ibu. WHO dan UNICEF tetap merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan, kemudian dilanjutkan bersama makanan pendamping hingga usia dua tahun atau lebih.

Namun, rekomendasi tersebut seharusnya berjalan bersama dengan dukungan yang memadai untuk ibu. WHO dan UNICEF di Indonesia pada 2026 menekankan bahwa ibu membutuhkan informasi yang akurat, konseling menyusui yang berkualitas, dukungan keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, hingga lingkungan kerja yang mendukung.

Jadi, ketika seorang ibu mengalami masalah seperti pelekatan bayi yang sulit, produksi ASI yang dirasa kurang, puting nyeri, kelelahan, atau kesulitan memerah ASI, respons yang dibutuhkan bukan sekadar mengatakan, “Pokoknya harus menyusui.”

Ibu membutuhkan bantuan untuk mencari tahu apa masalahnya dan bagaimana solusinya. Menjadi ibu sudah cukup melelahkan tanpa harus terus-menerus merasa diuji oleh lingkungan sekitar.

Menyusui memang merupakan salah satu cara memberikan nutrisi dan perlindungan kepada bayi. Tetapi, pengalaman setiap ibu berbeda. Ada ibu yang dapat menyusui dengan lancar, ada yang membutuhkan bantuan konselor laktasi, ada yang melakukan kombinasi ASI dan susu tambahan, dan ada pula yang akhirnya memilih susu tambahan.

Yang penting, keputusan pemberian makan bayi sebaiknya dibuat berdasarkan kondisi bayi, kondisi ibu, informasi kesehatan yang tepat, serta pertimbangan bersama tenaga kesehatan bila diperlukan.

Sebab, kasih sayang seorang ibu tidak bisa diukur hanya dari bagaimana ia memberikan susu kepada bayinya.

Dan seperti yang ditunjukkan berbagai penelitian, mendukung ibu bukan berarti memberikan tekanan tanpa henti. Dukungan yang baik justru membuat ibu merasa didengar, dihargai, dan tidak sendirian dalam menjalani masa setelah melahirkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Simak video di bawah ini, Bun:

Jangan Asal Pilih Bra Setelah Melahirkan, Bun!

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Momen Haru Shanty Lepas Sang Putra Kuliah di Luar Negeri, Tak Kuat Tahan Tangis

Mom's Life Annisa Karnesyia

4 Emosi yang Sering Sulit Diungkapkan Anak, Begini Cara Membantunya

Parenting Annisa Karnesyia

Curhatan Bunda Alami Breastfeeding Gaslighting hingga Berhenti Menyusui setelah Sebulan

Menyusui Annisa Aulia Rahim

Terpopuler: Zahwa Massaid Kunjungi Rumah Sang Nenek di Belanda

Mom's Life Amira Salsabila

Curhat Shenina Cinnamon Pertama Kali Kerja setelah Melahirkan: Rasanya Campur Aduk!

Kehamilan Amrikh Palupi

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Momen Haru Shanty Lepas Sang Putra Kuliah di Luar Negeri, Tak Kuat Tahan Tangis

4 Emosi yang Sering Sulit Diungkapkan Anak, Begini Cara Membantunya

Curhatan Bunda Alami Breastfeeding Gaslighting hingga Berhenti Menyusui setelah Sebulan

Sedang Naik Daun, Ini 5 Potret Jing Boran Pemeran Luke di Drama China 'The Early Spring'

Curhat Shenina Cinnamon Pertama Kali Kerja setelah Melahirkan: Rasanya Campur Aduk!

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK