menyusui

Kekhawatiran Ibu Pekerja yang Perah ASI di Kantor

Melly Febrida Kamis, 18 Okt 2018 - 12.05 WIB
Kekhawatiran Bunda Pekerja yang Perah ASI di Kantor (iStock) Kekhawatiran Bunda Pekerja yang Perah ASI di Kantor (iStock)
Richmond - Bunda yang sudah habis cuti melahirkan tentu sekarang punya tugas tambahan di tempat kerja, yakni memerah Air Susu Ibu (ASI). Meski ibu pekerja yang menyusui fleksibel untuk memerah ASI, ternyata itu juga membuat ibu menyusui khawatir bisa berpengaruh ke kariernya.

Sebuah survei dari Aeroflow, penyedia pompa payudara, yang dibagikan Bloomberg menemukan setengah dari 774 wanita yang disurvei merasa memerah ASI di tempat kerjanya bisa memengaruhi pekerjaan mereka, Bun. Setengah dari ibu menyusui yang bekerja juga mengatakan mereka mempertimbangkan tetap bekerja atau ganti pekerjaan.



Nggak hanya itu Bun, hampir 63 persen berpikir ada stigma yang melekat pada ibu yang menyusui dan bekerja.

"Anda pada dasarnya mengunci diri di sebuah ruangan dan merasa tidak aman," kata
Alexis Diao, seorang produser di NPR dengan dua anak muda, kepada Bloomberg dan dikutip ABCNews. Di perusahaan tempat Alexis bekerja memang memiliki ruang laktasi.

Mayo Clinic juga menyarankan apabila bunda bekerja penuh waktu bisa memerah ASI selama 15 menit setiap beberapa jam selama bunda bekerja. Tapi, menurut catatan Bloomberg, waktu memompa mungkin tak sesuai dengan jadwal kerja.



Sebenarnya berapa jam sekali ibu pekerja yang menyusui harus memerah ASI? Menurut pakar laktasi, dr Wiyarni Pambudi, SpA yang akrab disapa dengan nama dr Wiwin, memerah ASI perlu dilakukan setiap 3-4 jam sekali atau sesuai dengan kebiasaan menyusui bayi. Tujuannya untuk menyiapkan stok ASI pada hari kerja berikutnya untuk bayi di rumah.

Saat weekend, kata dr Wiwin, sebaiknya bayi langsung diberi ASI segar dari ibunya karena kandungan nutrisinya lebih bagus.

"Saya menganjurkan untuk memerah ASI dengan tangan karena lebih alami, payudara lebih nyaman dan tidak tergantung listrik atau baterai. Namun hal itu perlu latihan," kata dr Wiwin.

Diann Burns, ibu tiga anak dan pengacara yang berbasis di Virginia mengatakan, mantan bosnya pernah mengatakan produktivitasnya tertinggal ketika mulai memerah ASI tepat sebelum dia diberhentikan.

"Tidak ada karyawan yang bekerja setiap menit. Saya tahu saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dan kemudian memompa," katanya.

Kekhawatiran Bunda Pekerja yang Perah ASI di KantorKekhawatiran Bunda Pekerja yang Perah ASI di Kantor (Foto: istock)


Phyllis Rippey, seorang profesor sosiologi di Universitas Ottawa, mengatakan di Good Morning America bahwa ada 'ketidakcocokan antara pekerjaan dan menyusui. Dalam sebuah studi tahun 2012, Phyllis melihat menyusui dan dampaknya pada pendapatan perempuan.

"Saya pikir pompa ASI memungkinkan untuk bekerja dan wanita bisa memberikan ASI kepada anak-anak mereka, tetapi saya tidak berpikir itu fleksibel. Saya pikir itu pasti memiliki dampak negatif yang potensial untuk bekerja."

Dalam penelitian Phyllis, wanita yang bekerja dan menyusui lebih dari enam bulan lebih mungkin untuk meninggalkan pekerjaannya dibandingkan dengan ibu yang lebih sebentar menyusui atau ibu yang memberi susu selain ASI. (nwy/nwy)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi