MOM'S LIFE

Kisah Ayah yang Mencoba Bertahan dari Depresi

Amelia Sewaka 22 Nov 2017
Ilustrasi depresi/ Foto: thinkstock Ilustrasi depresi/ Foto: thinkstock
London, Inggris - Depresi bisa melanda siapa saja. Bisa datang dan pergi, juga bisa dialami siapapun, nggak peduli laki-laki atau perempuan.

Ini pula yang dirasakan Craig Stone, seorang penulis sekaligus ayah. "Saya telah berjuang selama 15 tahun sejak saya berusia 15 tahun. Tapi yang membuat hidup dengan depresi makin sulit adalah bukan depresinya, tapi cara melihat sesuatu yang tidak bisa saya gambarkan," papar Craig seperti dilansir Babble.

Ini adalah kondisi yang tidak mungkin diabaikan tapi juga sulit untuk didefinisikan. Namun, pada beberapa hari lalu Craig berhasil merangkum apa arti hidup dengan depresi di Twitter-nya, kurang dari 50 kata.



"Lihat bangku itu? 8 tahun yang lalu saya duduk di sana sambil berpikir untuk mengakhiri hidup dari jembatan Blackfriars, dan hari ini saya kembali ke sini dengan anak saya," tulis Craig dalam status yang menyertai fotonya.

Craig mengatakan bahwa mungkin hidup besok hari akan sama, tapi bisa saja akan lebih terang malah bisa lebih cemerlang dari yang diduga. Karena itu pria yang pernah menjadi tunawisma ini berpesan saat depresi itu datang, bertahanlah

Craig berpesan pada siapapun agar tetap bertahan ketika depresi melanda. Percayalah, cinta akan datang dan mewarnai hari-hari kita yang terasa gelap dan suram. Karena kita nggak akan melihat indahnya pelangi sebelum datang hujan yang deras.

Postingan Craig ternyata banyak mendapat respons positif lho, Bun. Cuitan Craig hingga saat ini telah mendapat like 20 ribu lebih dan telah di re-tweet kurang lebih 6 ribu kali.

"Tentu saja ini sesuatu yang hebat buat saya. Saya pernah berada di bangku tersebut, merenungkan hidup. Faktanya, di bangku tersebut pula saya mencoba untuk mengakhiri hidup saya," ungkap Craig.

Craig menuturkan saat usianya 17 tahun, ia juga pernah mencoba mengakhiri hidupnya dengan sebotol tylenol dan sekaleng cola. Untunglah hingga hari ini Tuhan masih memberi kesempatan Craig untuk hidup.

Memang, hal semacam penyakit mental atau depresi ini cukup sulit dimengerti orang lain. Untuk mengerti bagaimana seseorang bisa mencintai orang lain dengan baik, tapi tetap ada perasaan ingin mengakhiri semuanya.

Depresi memang bisa membuat seseorang punya keyakinan bahwa keluarga akan lebih baik tanpa dirinya. Bahkan yang bersangkutan juga merasa dunia akan jauh lebih baik tanpa kehadirannya.

Keluarga dan orang-orang yang dicintai memang tidak selalu bisa menyelamatkan seseorang dari depresi. Tapi setidaknya berada bersama mereka akan membuat orang yang depresi jadi lebih baik, karena mereka membutuhkan dukungan. Ya, menyadari adanya cahaya dari sisi lain, membuat orang yang depresi punya alasan untuk mempertahankan hidupnya.

Kasus Craig mengingatkan kita bahwa depresi nggak hanya dialami perempuan, tapi juga laki-laki. Nah, berbicara soal depresi, suatu studi menemukan bahwa anak-anak yang hidup dengan seorang ayah depresi pun cenderung memiliki masalah kesehatan mental dan perilaku.

Studi yang dipimpin oleh Dr Michael Weitzman dari NYU Langone Medical Center menemukan bahwa 11 persen anak yang tinggal dengan ayah menderita depresi memiliki masalah perilaku dan emosional. Menurut peneliti, hal ini diyakini karena orang tua yang depresi akan mempengaruhi cara berinteraksi dengan anak, yang pada gilirannya dapat berkontribusi terhadap perilaku anak.

Jika suami atau orang tersayang curhat dengan kita, respons apa yang sebaiknya dilakukan? "Jangan dinasihati. Ibaratnya dia sudah kenyang dinasihati, sudah capeklah," ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan NAPZA, Kemenkes RI, Dr dr Fidiansyah SpKJ MPH.

Menurut dr Fidi, orang tersebut butuh bicara dan didengarkan. Sehingga, menyalahkan atau menasihatinya justru membuat suasana makin buruk. Justru, respons yang disarankan adalah kita bisa menjadi pendengar yang baik. (aml/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi