MOM'S LIFE

Komunitas Ini Mendorong Ibu-ibu Agar Nggak Gampang Termakan Hoax

Amelia Sewaka 27 Nov 2017
Komunitas Ini Mendorong Ibu-ibu Agar Nggak Gampang Termakan Hoax/ Foto: thinkstock Komunitas Ini Mendorong Ibu-ibu Agar Nggak Gampang Termakan Hoax/ Foto: thinkstock
Jakarta - Di zaman serba digital kayak sekarang, beragam informasi bisa didapat dengan gampang. Tapi mesti jeli juga kita, Bun. Jangan sampai termakan 'hoax'. Nah, dengan harapan para ibu bisa bijak pakai internet sehingga nggak gampang termakan hoax, komunitas bernama Indonesia Voice of Women (INVOW) ini pun dibentuk.

Salah satu founder INVOW, Citra Indah Lestari bilang idenya membentuk komunitas ini muncul karena kehebohan masa Pilkada DKI beberapa waktu lalu. Menurut Citra, biasanya ibu-ibu nih yang paling cepat dapat info dan menyebarkannya. Ya, walaupun info itu belum tentu benar. Dari situlah ia dan temannya Karlina yang akrab disapa Alin membuat komunitas yang fokus mengedukasi para ibu supaya bisa mengecek lagi info yang didapat sebelum menyebarkannya.

"Saya juga punya pengalaman ibu saya suka banget nge-share info soal kesehatan. Pas ditanya sumbernya, nggak tahu. Kalau Alin, kebetulan ikut ngurus Pilkada DKI juga dan dia lihat warga terutama ibu-ibu dapat berbagai berita dari mana-mana," kata Citra ditemui di sela-sela Tempo Media Week di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Kebetulan, beasiswa yang menaungi sekolah Citra dan Alin yaitu Chevening dari Inggris mau mendanai kegiatan alumninya untuk masyarakat. Dirasa temanya menarik dan memang pemerintah Inggris juga concern membantu Indonesia terutama soal digital literacy, perempuan, kelas menengah ke bawah, lahirlah INVOW di bulan Maret 2017.

Bareng Alin, Citra yang merupakan lulusan University of Birmingham ini pun bergerak membuat modul dan melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama beberapa pakar untuk tahu gimana caranya bisa 'masuk' untuk mengedukasi para ibu dan apa yang mesti disampaikan ke mereka. Karena edukasi dimulai pas masa Pilkada DKI, Citra sama Alin sempat dianggap memihak salah satu kandidat.

"Tapi karena kita tujuannya pengen mengedukasi ibu-ibu sebagai penyaring info buat keluarga. Kita nggak gentar. Pas survei di rusun, ibu-ibu memang pakai WhatsApp tapi sayangnya nggak tahu gimana cara ngecek bener atau nggaknya info itu. Pas kita tanya dari mana sumber info yang dishare, bilangnya dari WhatsApp aja," tambah Citra.



Saat ini, Citra, Alin, dan satu temannya bernama Ajeng yang merupakan dosen di Universitas Moestopo, udah mengadakan pelatihan di Jakarta, Tangerang Selatan, dan Bandung. Ajeng sendiri pernah bikin yellow cabin, semacam web tentang perempuan dan digital literacy. Tiap habis pelatihan, Citra bikin grup WhatsApp beranggotakan para ibu peserta. Jadi, kalau ada info yang diragukan benar atau nggaknya, bisa di-share di grup itu.

Suka Duka Mengedukasi Para Ibu

Di tiap wilayah, ada masing-masing cerita yang didapat Citra waktu mengedukasi para ibu. Contohnya di Tangerang Selatan, ibu-ibunya memang udah jago banget pake media sosial, Bun. Bahkan ada yang jualan online. Tapi, mereka masih kagok pakai browser dan cenderung kurang me-recheck kebenaran info yang didapat.

Sedangkan di Bandung, para ibu yang dilatih Citra dan kawan-kawan lebih banyak berprofesi sebagai tenaga pendidik seperti kepala sekolah PAUD, tenaga sosial dan karyawan kelurahan. Jadi, para ibu itu diajak pakai internet dengan bijak dan cerdas supaya mereka bisa menjalankan tugas dengan baik.

Di tiap pelatihan, pesertanya 15-20 ibu berusia 20-45 tahun yang berasal dari 3 sampai 4 kelurahan. Pelatihan dilakukan di hari Sabtu atau Minggu dengan durasi 2-3 jam.

"Fokus dasar pelatihannya lebih ngingetin pondasi internet, lalu apa itu hoax, setelah itu gimana caranya cek kembali berita yang diterima atau situs-situs apa aja sih yang mesti dilihat seharusnya. Untuk cari informasi yang benar biasanya kita arahin ke media mainstream atau situs kementerian. Biar nggak terlalu banyak, nanti pusing. Soalnya, ada nih ibu yang cuma tahu WhatsApp jadi kalau dapat informasi dari situ mereka pikir ya itu sumbernya," papar Citra.

Terus, para ibu juga diajarin browsing mulai dari kata kunci sampai komponen 5W+1H. Ada juga edukasi soal pemakaian medsos kayak Facebook. Materi yang dikasih misalnya keyword dan gimana mengetahui akun yang mencurigakan. Selama pelatihan, berbagai respons mereka dapat. Misalnya aja ada ibu yang baru ngeh kalau internet nyatanya nggak sebatas Facebook atau Whatsapp aja.



"Kita berharap INVOW bisa mengedukasi ibu-ibu nggak di pulau Jawa aja. Nggak cuma di rusun tapi juga ke ibu-ibu (https://www.haibunda.com/mom-life/d-3616583/dulu-kupikir-aku-nggak-butuh-komunitas-ibu-ibu-tapi) PKK. Tapi karena ada kendala waktu ya. Pengennya ke depan bisa bikin trainner of trainner. Jadi nurunin ilmu ke semuanya, either ibu-ibunya yang jadi pelatih selanjutnya," kata Citra.

Jika bunda atau teman-teman ada yang mau coba gabung, coba lihat di Facebook-nya INVOW aja ya, Bun, yaitu Indonesia Voice of Women - Invow @InvowID. Kalau mau jadi relawan, boleh juga lho, Bun. (rdn/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi