MOM'S LIFE

Bunda Sering Teriak-teriak ke Anak Saat Marah atau Nggak?

Melly Febrida 14 Feb 2018
Bunda Sering Teriak-teriak ke Anak Saat Marah atau Nggak?/ Foto: Ilustrasi/ Thinkstock Bunda Sering Teriak-teriak ke Anak Saat Marah atau Nggak?/ Foto: Ilustrasi/ Thinkstock
Jakarta - Seharusnya saat marah, orang tua nggak teriak-teriak ke anak ya, Bun. Tapi kadang benteng pertahanan jebol, sehingga teriakan ke anak pun nggak terbendung. Meski sesudahnya pasti ada penyesalan.

Seorang ibu bernama Claire Lavelle ternyata termasuk yang sering berteriak ke anaknya. Kata Claire banyak alasan yang membuat dirinya berteriak ke anaknya. Mulai dari meminta si kecil mandi, sikat gigi, berpakaian, atau apa saja yang memicu suaranya meninggi.

Memang benar berteriak (sementara) bisa mengurangi stres tapi ini cerita yang berbeda. Ada perasaan jengkel karena kehilangan kendali, baik situasi maupun diri kita sendiri. Selain itu, kok rasanya menjadi orang tua yang tenang itu butuh perjuangan banget. Padahal, berteriak belum tentu juga didengar anak kan?

"Berteriak tidak efektif, terutama jika Anda sering melakukannya," kata psikolog klinis, Emma Citron, seperti dilansir Netdoctor.

Kata Emma, berteriak hanya membuat lingkungan menjadi bising dan anak belajar keluar dari zona ini.

"Konon, ada beberapa situasi di mana teriakan diperlukan dan sah, misalnya jika anak berlari di depan mobil yang hendak melintas. Dalam situasi ini berarti semua orang yang bersangkutan akan menyadari ini adalah keadaan darurat, bukan hanya bunda yang berteriak lagi," kata Emma.

Tapi kalau kita meminta anak melakukan sesuatu dengan teriakan, sebenarnya itu bikin kita makin stres lho. Soalnya saat kita berteriak, bisa jadi anak nggak melakukan apa yang kita minta. Malah anak bisa jadi ikutan berteriak. Alhasil kita jadi saling teriak deh, hiks.



"Ketika Anda meneriaki anak kecil mereka jadi takut, melawan, atau lari," kata ahli pengembangan anak Dr Rebecca Chicot, salah satu pendiri Essential Parent.

Soal teriakan ini ada juga lho penelitiannya. Seperti yang dilakukan di Dubai, India, serta di University of Pittsburg dan University of Michigan, Amerika Serikat. Studi ini menemukan berteriak jauh lebih berbahaya daripada yang selama ini mungkin dipikirkan para orang tua.
Kebiasaan ini memberi pengaruh pada psikologis anak dan juga mempengaruhi hubungan antara orang tua dan anak.

"Meskipun mungkin tidak meninggalkan bekas luka fisik, penelitian jelas menunjukkan bahwa pelecehan emosional dan verbal, dalam hal ini berteriak, turut merusak psikologis anak sama seperti kekerasan fisik. Anak-anak yang mengalami pelecehan emosional semacam ini cenderung menarik diri karena takut," kata Dr Amy Bailey, psikolog klinis di kidsFIRST Medical Center, Dubai, seperti dilansir dari Empowher.

Ingat juga, Bun, anak-anak itu belum bisa melihat situasi dalam konteks yang sama yang dilakukan orang dewasa. "Cobalah untuk tetap bersikap empati terhadap situasi ini," saran Dr Clare Bailey, pakar parenting di Parenting Matters.

Bunda Sering Teriak-teriak ke Anak Saat Marah atau Nggak?/Bunda Sering Teriak-teriak ke Anak Saat Marah atau Nggak?/ Foto: Thinkstock


Nah, ketimbang kita berteriak tapi nggak masuk juga pesan yang ingin disampaikan ke anak, alternatif ini bisa kita lakukan:

1. Berbicara dengan Nada Rendah dan Lambat

Rebecca berpendapat nada yang lambat dan berwibawa memberi lebih banyak pengaruh, terutama jika kita sedang menjelaskan perilaku yang tidak dapat diterima. Nada suara rendah juga lebih bisa mengungkapkan perasaan kita.

"Hal ini akan membantu mengajarkan anak menjadi empatik dan tekun saat mengkomunikasikan kebutuhan mereka sendiri," terang Rebecca.

2. Menjauh Sejenak

Saat hasrat ingin berteriak-teriak begitu menggelora saking amarah sudah di ubun-ubun, baiknya kita menyingkir dulu, Bun. Sebelum menyingkir, pastikan anak-anak ada di tempat yang aman dulu ya.

"Tarik napas dalam-dalam dan masuk kembali setelah merasa tenang. Saya berbicara dengan suara tegas, berbeda dengan nada biasa saya, dan ini menunjukkan bahwa saya percaya diri dengan apa yang saya katakan dan bahwa saya yang memegang kendali," ujat Kathryn Mewes, bintang dalam program televisi The Three Day Nanny.

3. Kompromi

Orang tua tak harus menang untuk menjadi orang tua yang tegas dan efektif. Batasan itu penting tapi kita bisa fleksibel dengan batasan tersebut.

Misalnya Bunda ingin TV mati sekarang tapi anak menginginkan 10 menit lagi. Setuju lima menit lagi membantu anak merasa memiliki kendali dan didengarkan.

4. Mengenali Perasaan dan Pikiran Sendiri

Bun, kita perlu banget bicara dengan diri sendiri untuk memahami perasaan dan pikiran kita dengan baik.

Kita perlu juga lho Bun menyadari apa yang ada di dalam pikiran ini. Jangan sampai gara-gara pikiran runyam jadi memengaruhi pola asuh kita ke anak-anak.

"Gunakan waktu untuk mengenali keadaan pikiran kita sendiri dan bagaimana hal itu dapat mempengaruhi pola asuh kita," saran Clare Bailey.

5. Berempati

Orang tua sering mengabaikan pentingnya mengenali perasaan anak-anak karena takut memanjakan mereka. Padahal, mengetahui perasaan anak-anak bisa mengurangi teriakan ke mereka lho.

"Dengan mencoba memahami perilaku anak Anda, Anda akan tahu mengapa mereka tidak menanggapi Anda," tutur Clare Bailey.



Bunda Sering Teriak-teriak ke Anak Saat Marah atau Nggak?/Bunda Sering Teriak-teriak ke Anak Saat Marah atau Nggak?/ Foto: Thinkstock


6. Teknik SEED Demi Perilaku yang Baik

"Bila Bunda terbiasa menggunakan teknik ini, Bunda bisa menggunakannya untuk menghindari 'lomba' berteriak dengan anak," ucap Clare Bailey.

Teknik SEED yang dimaksud adalah:

S - (Show sympathy). Kalau anak-anak menolak permintaan kita, cobalah menunjukkan simpati ke anak dan katakanlah ke mereka kalau kita memahaminya.

E - (Explain) Kita bisa menjelaskan alasan kenapa meminta anak melakukan sesuatu.

E - (outline your Expectations) Biarkan anak-anak tahu seberapa cepat kita ingin mereka melakukan sesuatu, kemudian ingatkan anak-anak lagi kapan waktunya habis.

D - (Divert) Alihkan perhatian mereka dengan alternatif yang positif.

7. Berteriak Meski Sudah Berusaha Terbaik

Anak tak membutuhkan orang tua yang sempurna Bun. Mereka hanya ingin orang tua yang baik.

Kata Dr Laura Markham, penulis Calm Parents, Happy Kids: The Secrets of Stress-free Parenting, cobalah berhenti berteriak dan meluangkan waktu sejenak untuk tenang.

"Kadang-kadang kita bahkan tidak menyadari kita melakukannya. Suara kita menjadi semakin keras dan keras, tidak mudah untuk berhenti berteriak, terutama jika kita sendiri diteriaki," kata Laura.

Nah, Bun, kalau kita sudah telanjur berbicara dengan nada tinggi, kita perlu ambil waktu sejenak untuk diam dan berusaha tenang. Cara kita mengendalikan dan mengelola emosi ini akan dilihat anak, dan mereka bisa belajar tuh untuk mengelola diri mereka sendiri. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi