MOM'S LIFE

Ketika Ibu Mertua dan Menantu Perempuan 'Bersaing'

Nurvita Indarini 11 Jul 2018
Ketika Ibu Mertua dan Menantu Perempuan Bersaing/ Foto: Thinkstock Ketika Ibu Mertua dan Menantu Perempuan 'Bersaing'/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang teman lama. Dia bercerita rumahnya seperti 'medan perang'. Bukan karena teman saya ini sering bertengkar dengan suaminya, tapi karena ia merasa ibu mertua yang pindah ke rumah mereka ingin bersaing mendapatkan perhatian anak laki-lakinya.

"Biasanya aku yang mengurus segala keperluan rumah ini, tapi tiba-tiba peran itu diambil. Sakit? Iyalah, pasti. Ibu mertuaku seperti bersaing untuk dapat perhatian suamiku," tutur teman saya dengan wajah ditekuk.

Ilustrasi ibu mertua/Ilustrasi ibu mertua/ Foto: Thinkstock


Teman saya bilang, dia dan si ibu mertua sama-sama menyiapkan sarapan dan menyusun menu, namun dengan cara yang berbeda. Ibu mertua lebih suka memasak sarapan, sementara teman saya sudah langganan katering. Nah, dia kesal karena tanpa koordinasi, ibu mertua langsung masak sarapan dan menu makan seharian.

"Aku tahu, tujuannya sama-sama baik, cuma kami punya cara yang beda. Harusnya ibu tanya-tanya dulu kek, membiasakan dengan kebiasaan di rumah ini, jangan terlalu inisiatif begitu. Aku jadi merasa nggak dihargai aja di rumah sendiri," sambung teman saya.



Teman saya mengaku sudah mengingatkan ibu mertua untuk nggak repot-repot menyiapkan makanan, tapi ditolak dengan alasan anak laki-lakinya yang notabene suami teman saya, harus makan makanan rumahan dan makanan kesukaannya sejak kecil. Hmm, hidup memang nggak seperti yang kita harapkan.

Deanna Brann, Ph.D dalam bukunya Reluctantly Related mengatakan terkadang hubungan ibu mertua dan menantu perempuannya memang sulit. Sebagian besar orang menyangka persaingan ibu mertua dan menantu perempuannya adalah untuk mendapatkan cinta laki-laki yang merupakan suami kita. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah persaingan untuk mendapatkan pengaruh. Demikian dikutip dari Huffington Post.

"Ini adalah kompetisi yang tidak terucapkan. Kebanyakan perempuan akan merasakan ketegangan terkait sesuatu yang dilakukan atau dikatakan perempuan lainnya itu," tutur Deanna.

Sering kali menantu perempuan bilang bahwa ibu mertuanya masih aja 'megangin' anak laki-lakinya yang sudah menikah. Sebaliknya ibu mertua mengklaim menantu perempuannya mencoba menjauhkan anak laki-lakinya dari keluarga.

Ilustrasi menantu kesal/Ilustrasi menantu kesal/ Foto: Thinkstock


Nah, dituturkan psikolog keluarga dari Tiga Generasi, Anna Surti Ariani atau Nina, ibu mertua sering membandingkan cara kita dalam mengurus suami dengan caranya mengurus si anak lelaki karena suami kita adalah anak kesayangannya. Dalam situasi kayak gini, apa yang bisa dilakukan ya?

"Mau nggak mau kompakin suaminya. Tanyakan suami lebih suka kita memperlakukan dia seperti apa. Diperdetail aja. Misalnya lebih suka teh atau kopi, gulanya seberapa, lebih suka dikasih di pagi hari atau malam? Diperdetail aja," saran Nina waktu ngobrol sama HaiBunda.

Nah, karena kita sudah bertanya ke suami, saat ibu mertua mengkritik tentang apa yang kita lakukan ke suami, kita punya alasan. Selain itu perlu juga nih pendekatan dengan mengobrol dari hati ke hati. Biar bagaimanapun ibu mertua adalah ibu dari laki-laki yang kita cintai, sosok yang melahirkan suami kita, mungkin lebih banyak tahu tentang suami kita.



Mungkin kita bisa tanya atau minta diajarkan gimana caranya bikin makanan kesukaan suami di masa kecil. Dan hal-hal lain yang membuat ibu mertua tetap merasa penting, merasa dihargai, dan tidak merasa anaknya diambil.

Kalau kita pengantin baru, kita tentu ingin ya mengurus rumah dan semua keperluan suami. Tapi ada baiknya juga kita turut melibatkan ibu mertua yang selama ini mengurus suami, setidaknya minta pendapat ibu mertua, apalagi jika tinggal bersama mertua. Kita perlu ingat, kadang tugas atau tanggung jawab yang dikurangi tidak membuat seseorang happy. (vit/vit)
Share yuk, Bun!
Rekomendasi