MOM'S LIFE

Dampak Nikah Siri bagi Bunda dan Anak

Asri Ediyati Selasa, 13 Nov 2018 - 16.02 WIB
Dampak Nikah Siri bagi Bunda dan Anak/ Foto: Thinkstock Dampak Nikah Siri bagi Bunda dan Anak/ Foto: Thinkstock
Jakarta - Baru-baru ini aktris Sisca Dewi jadi perbincangan publik. Dilaporkan detikcom, Sisca Dewi sedang bermasalah dengan suami sirinya yang seorang polisi. Sisca dilaporkan atas pencemaran nama baik oleh pria yang diakui sebagai suaminya tersebut. Sisca kebingungan terkait pelaporan suaminya. Dia menyebut alasan dipolisikan lantaran memajang foto berdua dengan sang suami di media sosial.

Sisca Dewi dilaporkan sejak Agustus lalu. Saat itu juga dia langsung masuk ke Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sisca Dewi merasa suaminya tak mau masalah pernikahan siri diumbar ke publik. Namun akhirnya hal itu kini telah diketahui banyak orang.

Terkait nikah siri, mengutip dari laporan Kementerian PPPA 'Perkawinan Siri dan Dampaknya di Provinsi Jawa Barat', nikah siri adalah nikah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, ada yang dicatat tapi disembunyikan dari masyarakat. Ada juga yang tidak dicatatkan pada Petugas Pencatat Nikah.


Merugikan istri dan anak

Menurut Farida Prihantini, staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, perkawinan di bawah tangan atan nikah siri tidak sah menurut hukum negara. Hal ini tentu membawa akibat hukum, terutama sangat merugikan istri dan anak.

"Istri bukan merupakan istri sah, sehingga tidak mempunyai hak untuk mendapatkan nafkah, tempat tinggal, harta gono gini juga harta warisan. Anak bukan merupakan anak yang sah. Karena menurut Pasal 42 Undang Undang perkawinan dan Pasal 99 Kompilasi Hukum Islam, anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah," tulis Farida dalam publikasinya 'Dampak Nikah Siri terhadap Istri dan Anak'.
Dampak Nikah Siri bagi Bunda dan AnakDampak Nikah Siri bagi Bunda dan Anak/ Foto: Thinkstock

Selanjutnya pada Pasal 43 ayat (1) Undang Undang Perkawinan dan Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam, anak yang dilahirkan di luar pernikahan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Sehingga anak kehilangan hak atas nama atau nasab bapaknya, nafkah lahir maupun batin, tempat tinggal, pendidikan, dan warisan jika bapaknya meninggal dunia.

"Anak tidak mempunyai hubungan hukum dengan bapaknya. Hal ini akan berdampak pada jiwa anak karena ia dianggap anak luar kawin, apalagi jika ayah tidak mau bertanggung jawab dan tidak menjalankan fungsinya sebagai bapak," tambah Farida.

Sementara itu, beberapa waktu lalu Maria Advianti dari Komisi Perlindungan Anak Indonesua (KPAI) menjelaskan karena pernikahan siri tidak diakui oleh negara, pasangan yang melakukannya tidak bisa mendapatkan surat nikah, kartu keluarga, dan keterangan peristiwa kelahiran anak dari rumah sakit. Karena surat-surat itu juga adalah syarat untuk membuat akte kelahiran, maka sang anak pun terancam tidak diakui negara.

"Ketiadaan akte kelahiran selanjutnya dapat berakibat anak sulit meperoleh pemenuhan hak sipil dan politiknya," kata Maria dikutip dari CNN Indonesia.

Selain itu, jika sebelumnya sang orang tua sudah mempunyai anak dari pernikahan lain, maka anak hasil nikah siri rentan mengalami diskriminasi dari lingkungan sekitar. "Stigma masyarakat terhadap anak hasil nikah siri masih banyak yang bersifat negatif," sambungnya.
Dampak Nikah Siri bagi Bunda dan AnakDampak Nikah Siri bagi Bunda dan Anak/ Foto: Istock

Dampak psikologis pada anak

Status anak yang terlahir dalam sebuah pernikahan siri juga sering dipermasalahkan. Ini bisa menjadi masalah baru, karena menyangkut psikologis si anak. Dalam akta lahir, tidak akan ada nama kedua orangtuanya. Itu bisa membuat si anak merasa ada yang berbeda dengan dirinya.

"Ketika anaknya besar bisa dipertanyakan, ada kemungkinan dilakulkan kebohongan-kebohongan lain. Psikologisnya kalau dia melihat, siri itu hal memalukan, itu yang terpengaruh secara negatif. Anak ini melihat kok akta saya nggak ada nama ayah saya, kenapa ayah saya jarang pulang. Itu yang kemudian akan dirasa saya bukan anak yang diinginkan," jelas psikolog anak dan keluarga dari Klinik Terpadu Universitas Indonesia Anna Surti Ariani kepada detikcom. (aci/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait
Rekomendasi