mom-life

3 Hal Ini Sering Ditanyakan ke Pengantin Baru Seperti Kahiyang

Radian Nyi Sukmasari Senin, 27 Nov 2017 13:00 WIB
3 Hal Ini Sering Ditanyakan ke Pengantin Baru Seperti Kahiyang
Jakarta - Setelah resmi jadi pasangan suami istri kayak Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution pasti kita merasa bahagia ya, Bun. Cuma, kadang-kadang status sebagai pengantin baru sering jadi objek pertanyaan orang di sekitar nih, termasuk soal anak.

Kalau kata psikolog keluarga dari Tiga Generasi Anna Surti Ariani yang akrab disapa Nina, di Indonesia memang budaya bertanya soal sesuatu termasuk momongan bisa jadi tanda peduli atau sekadar basa-basi. Kalau memang jadi tanda kepedulian orang lain, kita boleh kok menanggapinya dengan serius.

"Tapi kalau dirasa basa-basi aja karena nggak ada topik yang dibicarakan, cukup disenyumin aja. Meskipun respons yang dikasih kembali lagi ke masing-masing pasangan ya," kata Nina.


Nah, buat pengantin baru kayak Kahiyang dan Bobby, biasanya tiga pertanyaan soal anak ini sering didapatkan. Apa aja?

1. Nunda Punya Momongan atau 'Langsung'?

Meneruskan keturuan memang bisa jadi salah satu tujuan pernikahan. Makanya, nggak heran kalau pertanyaan apakah mau langsung punya momongan atau menundanya dilontarkan ke pengantin baru kayak Kahiyang Ayu dan Bobby. Memang, ingin langsung punya anak atau nggak tergantung dari keputusan pasangan suami istri alias pasutri ya, Bun.

Kata psikolog klinis dewasa dari Tiga Generasi, Sri Juwita Kusumawardhani atau Wita, baiknya sih pembicaraan soal momongan dilakukan sebelum menikah. Sehingga, kita dan pasangan saling tahu gimana persepsi dan keinginan masing-masing terkait anak dan pola pengasuhan nantinya. Wita juga bilang nih, Bun. Pasangan yang sudah siap menikah belum tentu siap punya anak karena menikah dan punya anak adalah dua hal yang berbeda.

3 Hal Ini Sering Ditanyakan ke Pengantin Baru Seperti Kahiyang3 Hal Ini Sering Ditanyakan ke Pengantin Baru Seperti Kahiyang( Foto: Grandyos Zafna/detikcom)


"Menikah idealnya melibatkan dua orang dewasa yang mampu saling mengurus, saling bertanggung jawab, dan saling bertoleransi. Sedangkan, menjadi orang tua artinya kita dituntut untuk menjadi pihak yang mengurus, merawat, serta melindungi bayi yang 'lemah'. Dan nggak semua orang siap untuk mengemban tanggung jawab sebesar itu," papar Wita.

Nah, di luar faktor finansial, faktor adaptasi saat jadi orang tua sehingga ada perubahan besar dalam hidup, bahkan masih ada rencana atau prioritas lain dalam kehidupan rumah tangga bisa jadi penyebab belum ada rencana bagi pasutri untuk punya momongan. Ya, walaupun ini lagi-lagi tergantung keputusan kedua belah pihak ya, Bun.

2. Pengen Punya Anak Berapa?

Nah, ini dia pertanyaan yang sering juga mampir ke telinga pasca jadi pasangan suami istri kayak Kahiyang dan Bobby. Berapa jumlah anak yang ingin kita punya. Ya, kayak menunda atau langsung punya momongan, jumlah anak yang ingin dipunya juga kembali lagi pada keputusan kita dan pasangan. Cuma, yang perlu diperhatikan adalah jarak kelahiran antar anak, Bun.

dr Dyana Safitri SpOG dari Siloam Hospitals Lippo Village mengatakan idealnya jarak kelahiran antara satu anak dengan anak selanjutnya minimal dua tahun. Soalnya, dalam rentang waktu itu kondisi ibu yang baru melahirkan udah mulai pulih. Selain itu, di rentang usia 2 tahun si kakak berpeluang lebih besar dapat ASI eksklusif bahkan lebih.

Sementara itu, kalau terlalu sering hamil bisa ada risiko komplikasi berupa gangguan plasenta, demikian disampaikan dr Boy Abidin SpOG(K) dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading. Pada kehamilan normal plasenta harusnya nempel di bagian atas dinding rahim. Tapi karena sudah ada 'kerusakan', plasenta bisa tumbuh nggak teratur.

"Plasenta ini bisa menempel di sembarang tempat, bisa di bagian samping atau akarnya dalam sampai-sampai menembus dinding rahim. Kenapa? Secara teori plasenta akan menempel di mana aliran darahnya baik, maka dari itu ketika waktu anak pertama dia tumbuhnya pas di tengah, terus anak kedua agak geser ke kiri dan kanan, anak ketiga semakin geser, begitu seterusnya," papar dr Boy.

Kalau plasenta terbentuk nggak normal, ada risiko misalnya bayi jadi mudah terlilit tali pusar atau sulit dilahirkan karena terhalang plasenta. Dampak paling fatalnya yaitu keguguran.

3 Hal Ini Sering Ditanyakan ke Pengantin Baru Seperti Kahiyang3 Hal Ini Sering Ditanyakan ke Pengantin Baru Seperti Kahiyang (Foto: Agus Suparto/Setpres)


3. Pengen Punya Anak Cewek atau Cowok?

Buat pengantin baru kayak Kahiyang dan Bobby, pertanyaan kayak gini juga sering dilontarkan nih. Memang sih, jadi hak masing-masing pasangan, bahkan individu untuk lebih suka punya anak perempuan atau laki-laki. Tapi ya, Bun, misalnya kita inginnya anak perempuan tapi suami ingin punya anak laki-laki. Ternyata, si kecil berjenis kelamin laki-laki. Apakah kita bakal nggak sayang ke si kecil? Nggak juga kan, Bun?

Walaupun, ada juga nih pasangan yang nggak memusingkan punya anak perempuan atau laki-laki, toh nanti mereka akan punya menantu juga, he-he-he. Soal jenis kelamin anak, pakar parenting Dr Justin Coulson PhD yang juga ayah dari 5 anak perempuan bilang secara pribadi dirinya nggak pernah mempermasalahkan punya lima anak dan semuanya perempuan. Soalnya, Coulson bilang dia sama istrinya yakin punya anak karena memang ingin memiliki anak.

"Kami tidak pernah peduli apakah anak kami laki-laki atau perempuan. Karena setiap bayi lahir, kami menangis bersama di RS dan mengalami keajaiban baru. Entah kita punya bayi perempuan atau laki-laki, kita akan membesarkan mereka dengan cinta dan perhatian yang sama serta harapan yang umumnya di (rdn/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi