Sign Up search


moms-life

Cerita Anak yang Belajar Lewat Metode Home Schooling karena Pernah Dibully

Amelia Sewaka Selasa, 20 Mar 2018 19:00 WIB
Cerita Anak yang Belajar Lewat Metode Home Schooling karena Pernah Dibully caption
Jakarta - Terkadang, beberapa orang hanya menilai apa yang dilakukan orang lain karena melihat 'luarnya' saja. Seperti ketika orang tua menerapkan metode home schooling. Berbagai anggapan pun muncul.

Padahal, seperti kita tahu tiap orang tua punya alasan sendiri untuk memilih metode pendidikan untuk anaknya, termasuk bagi seorang bunda bernama Nini ini. Ia sengaja memilih home schooling untuk anaknya karena si kecil sering dibully ketika bersekolah di sekolah reguler.

"Jadi anak saya sekolah di sekolah internasional, di sana dia dibully dan akhirnya bikin anak trauma," kata Nini kepada HaiBunda ditemui di acara peluncuran buku 'Home Learning, Belajar Seru Tanpa Batas', di Gramedia Matraman, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu.


Nini sudah 5 tahun tinggal di Kuala Lumpur karena sang suami kebetulan bekerja di sana. Tahu sang anak dibully Nini dengan cepat 'mempelajari' anaknya secara psikologi dan perilaku.

"Saya mulai cepat tuh belajar pedagogik dan psikologi anak, pada dasarnya dia trauma pada sekolah bukan pada proses belajarnya jadi saya mulai putar otak gimana caranya dia tetap sekolah. Nggak apa-apa keluar dari sekolah tapi proses belajarnya harus tetap berjalan," papar Nini.

Nggak berhenti di situ, sang guru sempat menawarkan kalau si anak bisa menyelesaikan kelas 2, 3, 4 dalam tempo 5 bulan. Nini sempat bingung dan nggak langsung percaya gitu aja. Tapi, dia memberi pilihan ke anaknya untuk mengikuti tes di sekolah lain atau mau meneruskan home schooling aja.

"Nggak apa-apa mau ambil home schooling juga, at least saya tahu gurunya ngajar bener. Akhirnya saya memilih jalur home schooling untuk anak saya Amirul. Saat itu dia duduk di kelas 2 mau naik kelas 3 sekolah dasar di Kuala Lumpur," tutur Nini.

Jadi, Bun, saat kelas 2 SD Amirul dibully. Sebenarnya masalah ini bisa aja dibawa ke jalur hukum lewat KBRI tapi Nini nggak mau melakukannya. Apalagi kalau udah menempuh jalur hukum bukan nggak mungkin trauma pada anak nggak kunjung selesai. Nini pun berusaha mengambil hikmah dari apa yang dialami anaknya.

"Buktinya kalau nggak ada bully ini saya nggak tahu anak saya ketika placement test bisa naik tingkat dari kelas 2 ke kelas 5 kan lumayan jauh berarti emang proses belajar anak saya nggak ada masalah dong," ungkap Nini.

Untuk membantu anaknya mengatasi trauma akibat dibully, ia menggunakan the art of communication. Artinya, gimana seni kita berkomunikasi ke anak. Apakah selama ini kita sudah memberi reaksi yang baik ke anak sehingga anak bisa terbuka dan percaya pada orang tuanya. Meski anaknya sempat dibully, Nini mengaku nggak kapok menyekolahkan anaknya di sekolah reguler.

Selama beberapa lama Amirul menjalani home schooling di Malaysia. Namun, nggak lama kemudian Nini sekeluarga kembali ke Indonesia. Nah, Nini sempat bingung mencarikan lagi sekolah yang pas buat Amirul. Sempat ingin memilih sekolah internasional tapi biayanya dirasa Nini terlalu besar. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan termasuk kalau nanti sang suami kembali dinas ke luar negeri, Nini memilih supaya Amirul melanjutkan home schooling di Indonesia.

Banyak yang dipelajari oleh Nini ketika ia mengambil jalur metode pendidikan ini. Di ujian SD kelas 6 misalnya yang berdasarkan Cambridge ijazahnya bisa setara dengan ijazah yang dibuat Diknas sehingga tidak perlu ujian paket A.

"Syukurnya prosesnya berlangsung lancar. Selama kita mengikuti aturan yang sama seperti di web resmi semua aman," tambah Nini.

Selama si Kecil Menjalani Home Schooling

Selama home schooling, Nini lebih memilih guru dari teman-teman atau yang lebih ahli untuk mengajar anaknya dibanding dirinya sendiri.

"Saya memang pintar tapi saya bukan guru yang cocok untuk anak, jadi saya selalu mencari guru atau teman-teman yang bisa menolong saya dalam transfer ilmu," ungkap Nini.

Sedangkan kalau soal bayaran, Nini akan membayar per orang dengan per subjek mata pelajaran.

"Bayarannya tergantung, nanti akan ada pembicaraan lagi. Nobody's perfect, saya juga manusia yang nggak sempurna, nggak mungkin satu orang bisa nguasain semua mata pelajaran," tutur Nini.

Sebelum menyekolahkan anak dengan home schooling, wanita yang sudah 2 tahun tinggal di Indonesia ini bilang sudah banyak proses yang ia lalui terkait sekolah anaknya. Ya, Amirul pernah sekolah di Singapura dan Malaysia. Ada benang merah di situ, Bun. Kata Nini, selama proses belajar benar kurikulum apapun nggak masalah dihadapi anak.

Saat anaknya ikut home schooling, Nini sering juga dapat nyinyiran dari orang-orang. Kalau begitu, Nini cuma menanggapi dengan senyuman aja, Bun. Lagipula Nini sudah punya berbagai pertimbangan kan sebelum memilih home schooling untuk anaknya.

Masalah disiplin, menurut Nini, jika kita sudah mengajari anak disiplin sejak dini, anak akan disiplin juga kok. "Jadi orang tua juga belajar di sini, psikologis, parenting, traumatik, dan lainnya," ungkap Nini.

Nah, untuk yang mau lebih banyak tahu soal home schooling, Nini dari salah satu perwakilan event suka cita mengajak para orang tua datang pas peringatan Hari Anak Nasional tanggal 23 Juli 2018 di Taman Mini Indonesia Indah pada Festival Sukacita Belajar di Anjungan Kalimantan dari jam 9 hingga 16.00.

Nanti di sana Bunda bisa lebih banyak tahu jenis home schooling itu ada versi apa aja dari mulai versi agama, kurikulum sekolah maupun profesi. (rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi