sign up SIGN UP search


moms-life

6 Dampak Psikologis Ortu Terlalu 'Drama' bagi Perkembangan Anak

Yuni Ayu Amida Senin, 19 Nov 2018 14:32 WIB
Ketika orang tua terlalu mendramatisasi kehidupan, bisa berdampak buruk bagi anak. Berikut dampaknya bagi psikologis sang buah hati. caption
Jakarta - Orang tua adalah cerminan bagi anaknya. Ketika orang tua memiliki emosi labil, kekanak-kanakan, atau over drama dalam menyikapi suatu hal, pasti akan berdampak buruk pada sang anak.

Masalah rumah tangga yang diumbar ke publik dan ditonton banyak orang, bukanlah hal yang baik untuk pasangan apalagi yang sudah memiliki anak. Karena anak akan melihat apa yang dilakukan orang tuanya. Membuatnya malu, bahkan dicemooh lingkungan.


Menurut Danardi Sosrosumihardjo, dokter spesialis kejiwaan, orang tua sangat berperan dalam perkembangan kepribadian anak. Orang tua lah yang meletakkan dasar-dasar yang kokoh dalam perkembangan daya tahan anak.


"Ketika orang tua tidak suportif kepada anak, mengabaikannya, maka anak akan mencari identifikasi lain. Anak akan meniru orang di dekatnya." kata Danardi, dikutip dari CNN Indonesia.

Baru-baru ini, heboh kabar tentang penggerebekan seorang selebriti pada pasangannya, yang dituding selingkuh. Kejadian ini menjadi sorotan publik. Apa yang dilakukan pasangan ini, bisa disebut mencirikan orang tua yang memiliki emosi labil. Hal ini pastinya memiliki dampak tertentu untuk anak mereka.

Dilansir Psychcentral, berikut dampak pertumbuhan anak di bawah orang tua yang kekanak-kanakan dan memiliki emosi labil.

1. Jadi pribadi yang defensif atau terlalu protektif

Ilustrasi anak defentifIlustrasi anak defentif /Foto: iStock

Masa kecil anak memengaruhi bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain di kemudian hari. Jika anak dicintai dan dirawat dengan benar, kemungkinan besar akan menunjukkan sifat-sifat yang sama dengan orang dewasa. Jika anak tidak dirawat dengan baik dan diabaikan, dia mungkin akan mengembangkan karakteristik untuk melindungi diri sebagai orang dewasa, seperti menjadi defensif atau terlalu protektif.

Walau memang, tidak setiap anak dengan orang tua yang secara emosional labil, akan berkembang menjadi pribadi yang bermasalah. Namun, untuk sebagian besar anak-anak dengan orang tua yang kekanak-kanakan, akan berkembang menjadi orang dengan masalah seperti yang dialami orang tuanya.

2. Takut terhadap cinta

Anak-anak yang berkembang di bawah orang tua yang labil, kemungkinan besar akan menjadi orang yang berjuang secara emosional untuk mencari orang lain agar dapat menerima atau menunjukkan cinta, yang tidak mereka dapatkan dari orang tuanya. Kepercayaan adalah komponen utama dari ikatan emosional yang positif. Ketika anak belum merasakan cinta, kasih sayang, dan perlindungan dari orang dewasa bisa membuat dia tumbuh menjadi pribadi yang mengasingkan diri. Ini juga membuatnya merasa tidak percaya diri untuk merasa bahagia dalam sebuah hubungan.

3. Jadi pribadi narsistik

NPD (narcissistic personality disorder) atau gangguan kepribadian narsistik dan BPD (borderline personality disorder) atau gangguan kepribadian ambang adalah dua gangguan yang dapat memengaruhi seseorang dalam pengasuhan orang tua yang tidak baik.

Suasana yang tidak stabil, sering emosional menjadi ciri khas BPD, ini dapat menyebabkan seringnya terjadi pertengkaran, paranoia, menyalahkan, dan agresi fisik atau verbal. Perilaku egois, terlalu percaya diri, dan arogan dari NPD dapat membuat anak-anak yang sedang berkembang merasa terasing secara emosional dari orang tua tersebut.

4. Tumbuh jadi anak egois

Ilustrasi anak egoisIlustrasi anak egois /Foto: iStock

Keegoisan adalah bentuk dari kurang terbentuknya pribadi baik dalam diri si anak. Tidak dapat berbagi dengan orang lain menjadikannya tidak dewasa. Keegoisan semacam ini mengakibatkan konflik antara orangtua dan anak terjadi bertahun-tahun, ini pun dapat membuat hubungan hancur.

5. Kecanduan obat terlarang

Ilustrasi obat terlarangIlustrasi obat terlarang /Foto: iStock

Penyalahgunaan obat-obatan sering terjadi pada anak yang melihat terlalu banyak drama dalam kehidupan orang tuanya. Untuk mengatasi rasa sakit dan kesedihan adalah alasan mereka menggunakan obat terlarang ini.



6. Krisis identitas dan arah

Ketika anak tahu siapa dirinya, apa yang dia inginkan, dan apa yang terbaik untuknya, ia cenderung lebih berhati-hati dalam memilih orang untuk masuk ke dalam hidupnya. Kurang mengenal diri sendiri serta kurang pengarahan dari orang tua, akan menyebabkan anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak kuat secara mental. Dampak lebih jauhnya, akan menyebabkan dia memiliki serangkaian hubungan yang tidak stabil, dangkal, dan berumur pendek. (yun)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi