mom-life

Rayakan Tahun Baru Imlek, Soraya Haque Ajarkan Toleransi ke Anak

Yuni Ayu Amida Selasa, 05 Feb 2019 12:03 WIB
Rayakan Tahun Baru Imlek, Soraya Haque Ajarkan Toleransi ke Anak
Jakarta - Tahun baru Imlek bisa jadi hari yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat keturunan China maupun etnis Tionghoa. Mereka yang merayakan biasanya menghabiskan momen ini dengan berkumpul bersama orang tersayang termasuk keluarga Soraya Haque.

Setelah Natal, kini Soraya ikut memeriahkan perayaan Imlek di vihara. Menurut artis 53 tahun ini, apa yang dilakukannya bersama keluarga adalah bentuk toleransi yang besar atas keberagaman Indonesia.


"Pokoknya kami di sini merayakan keberagaman sebetulnya warna Indonesia sesungguhnya, karena sesuatu yang harus mesti dipraktekan itu bukan hanya bicara toleransi beragama tapi lebih ke pada, 'Ayo kita secara fisik merayakan, ikut menikmati'. Mereka bahagia lho dengan perpindahan tahun," ujar Soraya dikutip dari Insertlive.

Sependapat dengan bundanya, Nadia Ayesha Mieke Soekarno mengatakan bahwa Indonesia maju karena keberagaman. Perbedaan agama dan budaya bukan untuk memecah, melainkan untuk menyatukan Ibu Pertiwi.

Putri pertama Soraya Haque ini juga menegaskan, keluarganya memang ingin mendobrak benteng perbedaan dengan menjunjung toleransi. Itu sebabnya, ia dan keluarga kerap terlihat merayakan hari besar keagamaan mana pun.
Rayakan Tahun Baru Imlek, Soraya Haque Ajarkan Toleransi ke AnakFoto: insertlive

"Ada beberapa orang yang memilih untuk tidak peduli dengan keberagaman ini, tapi dengan hadirnya keluarga kami, bisa peduli dan toleransi. Menurut saya ini sesuatu cara bisa membuat Indonesia bisa maju dan menghargai perbedaan," terang wanita 24 tahun ini.

Apa yang diterapkan Soraya Haque pada keluarganya ini, senada dengan pendapat psikolog anak, Feka Angge Pramita. Dengan mengajari anak beragam kebudayaan daerah atau bahkan negara lain bisa membantu mereka menerima perbedaan. Selain itu penting agar orang tua jelaskan ke anak bahwa kita hidup di tengah masyarakat yang heterogen. Bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku, agama, dan sebagainya.


Anak harus sadar bahwa tidak ada 'norma' tentang bagaimana melihat seseorang. Dorong mereka untuk memiliki teman dengan latar belakang dan etnis berbeda. Bermain dan berkomunikasi dengan anak-anak lain akan membantunya menyadari bahwa mereka adalah anak-anak yang sama, terlepas dari warna kulit, agama, atau latar belakang budaya mereka.

"Anak-anak harus dikenalkan dengan perbedaan itu dan menanamkan sikap saling menghormati, menghargai, dan mencintai perbedaan yang ada. Jadi jangan langsung melarang anak untuk berteman dengan anak yang berbeda suku, agama, dan ras," kata Feka. (yun)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi