moms-life

Cerita Manis Anak Melanie Putria Hibur Sang Ibu yang Berkabung

Annisa Karnesyia Sabtu, 16 Mar 2019 06:48 WIB
Cerita Manis Anak Melanie Putria Hibur Sang Ibu yang Berkabung
Jakarta - Presenter Melanie Putria sedang berduka, Bun. Bagaimana enggak, dalam waktu berdekatan, Melanie ditinggal dua kakak tercintanya dalam waktu berdekatan.

Bagi Melanie, kepergian kedua kakaknya adalah hal terberat dalam hidupnya. Kakak kedua Melanie yang laki-laki meninggal pada 2017. Nah, kakak pertamanya, Mercylia Krenata meninggal akhir Februari lalu karena kanker rahim yang diidapnya sejak 2016.

"Dalam waktu yang hanya dua tahun, aku kehilangan dua saudara kandung. Itu bukan sesuatu yang pernah aku bayangin dalam hidup. Tiba-tiba dalam waktu dekat semuanya udah enggak ada," kata Melanie, dikutip dari InsertLive.


Nah, ada cerita dari anak semata wayang Melanie nih, Bun, Sheemar Rahman Puradiredja. Kebetulan, Sheemar dekat banget dengan kakak Melanie. Ketika tahu sang bunda bersedih, Sheemar pun menghiburnya sehingga Melanie kembali bersemangat dan bisa bangkit.

"Kadang kalau aku kangen sama kakak suka nangis. Momen itulah Sheemar meluk aku, tepuk-tepuk bahu mamanya, dan ngelus-ngelus punggung aku. Untuk anak umur 8 tahun hal itu ajaib banget sih, aku jadi bersyukur banget punya dia, karena dikasih support yang luar biasa banget," ujarnya.


Kesedihan wanita 36 tahun itu bertambah mengingat sang ayah juga sudah berpulang ke pangkuan Ilahi beberapa tahun lalu, sebelum kedua kakak Melanie berpulang. Setelah resmi bercerai dengan vokalis grup musik Maliq & D'Essentials, Angga Puradiredja, sekarang Melanie hanya tinggal bersama ibunya dan si kecil Sheemar. Meski merasa sedih karena kini dia hanya tinggal bertiga, Putri Indonesia 2002 itu berusaha untuk tegar dan melanjutkan hidup.

"Aku itu orangnya sangat positif, berusaha untuk selalu belajar positif. Tapi enggak mungkin enggak ada momen berdarah-darah dan nangisnya. Walaupun di depan, teman-teman lihatnya aku ketawa-tawa, ceria, tapi ada saatnya aku juga merasa sedih, terpuruk dan enggak tahu harus ngapain," tutur Melanie.

Kesedihan ditinggal oleh saudara kandung untuk selamanya seperti Melanie memang tidak mudah dihadapi ya, Bun. Menurut konselor dan pendidik Dr.Alan Wolfelt, hubungan saudara begitu kompleks karena saudara adalah teman yang tumbuh bersama. Saudara bisa menjadi teman, musuh, pesaing, dan teman bermain yang berbagi cinta dan kasih sayang orang tua.

"Meninggalnya saudara saat dewasa merupakan kehilangan yang signifikan. Semakin kita merasa terhubung dengan seseorang, semakin sulit untuk menerima kepergiannya," ujar Wolfelt, dikutip dari Center For Loss.


Mungkin sulit untuk menerima kematian saudara, tapi yang Bunda butuhkan adalah memberi waktu dan mencari dukungan selama masa berkabung. Jika memiliki orang tua yang masih hidup, mereka juga akan merespons kehilangan dengan cara berbeda. Saat itulah Bunda baiknya membuka jalur komunikasi agar saling jujur dengan kesedihan masing-masing.

"Perasaan sedih itu wajar terjadi selama beberapa minggu atau berbulan-bulan setelah kematian. Pendekatan terbaik adalah bersikap terbuka satu sama lain dengan keluarga terdekat atau orang tua tanpa saling menyalahkan," kata Wolfelt.

Selain berbicara dengan orang tua, coba cari seseorang seperti teman atau bila sudah menikah, bicarakan kesedihan dengan pasangan atau anak untuk mendapatkan dukungan. Bunda juga bisa melakukan kegiatan baru yang lebih positif untuk mengurangi kesedihan.

"Setiap manusia pasti ingin 'berkabung dengan baik' setelah ditinggal saudara kandung atau orang tercinta untuk selamanya. Namun, jangan terus berkabung, pilihlah untuk sembuh dan hidup kembali dengan cinta dari orang di sekitar yang masih ada," tutup Wolfelt.

[Gambas:Video 20detik]

(ank/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi