HaiBunda

MOM'S LIFE

Aksi Solidaritas Wanita Selandia Baru, Ajarkan Keberagaman pada Anak

Asri Ediyati   |   HaiBunda

Selasa, 26 Mar 2019 20:03 WIB
Aksi Solidaritas Wanita Selandia Baru, Ajarkan Keberagaman pada Anak/ Foto: Reuters
Christchurch, Selandia Baru - Tepat pada Jumat lalu, warga di seluruh dunia berduka atas tragedi penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. Akibat kejadian penembakan itu, beberapa wanita muslim mengaku terlalu takut untuk pergi ke luar karena mengenakan hijab. Melihat kenyataan tersebut, seorang dokter dari Auckland, Dr.Thaya Ashman, menggagas acara Headscarf for Harmony.

Acara tersebut mengajak wanita non muslim di Selandia Baru mengenakan kerudung. Tak ada aturan baku bagaimana cara memakainya. Acara tersebut difokuskan untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap wanita muslim dan korban penembakan. Demikian dikutip dari New Zealand Herald.

Mengenakan kerudung adalah tradisi Islam yang dijalankan oleh kebanyakan wanita Muslim. Kerudung atau hijab lebih berfungsi sebagai penguat identitas wanita Muslim ya, Bun. Mirip dengan pakaian yang dikenakan oleh para biarawati dan wanita Yahudi Ortodoks, kerudung melambangkan komitmen terhadap agama.


Beberapa wanita Selandia Baru berbicara kepada CNN tentang mengapa mereka memutuskan untuk mengambil bagian dalam gerakan ini.

Aksi Solidaritas Wanita Selandia Baru, Ajarkan Keberagaman pada Anak/ Foto: Reuters

"Kami ingin menunjukkan kepada anak-anak bahwa hanya karena kami tidak termasuk dalam agama yang sama, atau kami mungkin terlihat berbeda, kami semua sama. Saya tahu sehari-hari, minggu, bahkan bulan berlalu, kami tak mengenakan kerudung. Tapi bagi komunitas Muslim, mereka akan terus berlanjut. Untuk saat ini, kami ingin menunjukkan kepada mereka bahwa kami sama dengan mereka, mencintai mereka, dan mereka adalah keluarga kami," ujar seorang bunda, Izzy Ford.

Seorang bunda bernama Tarusha Naidoo bilang, kerudung yang dikenakan pada acara itu mewakili kebebasan dan harmoni. Acara tersebut menjadi ajang kebebasan berbicara, hak untuk hidup, dan hak untuk memilih agama tanpa rasa takut.

Salut ya untuk para bunda ini, mereka juga mengajarkan anak-anak mereka tentang harmoni, kedamaian di tengah perbedaan. Menurut psikolog klinis, Christina Tedja yang akrab disapa Tina, pada dasarnya tak ada anak yang rasis, semua belajar dan input informasi dari sekitar.

Makanya, Tina berpesan hal yang perlu dihindari saat bicara dengan anak adalah ketidaksengajaan menggiring anak pada opini publik terkait perbedaan agama. Ingat, Bun, cara tersimpel mengajarkan anak untuk menerima perbedaan antar agama, suku, dan etnis dimulai dari si orang tua sendiri.

"Termasuk penilaian sehari-hari terhadap orang yang beda etnis dan agama. Dengan merespons baik segala perbedaan yang ada, anak akan meniru. Sebaliknya apabila kita melihat perbedaan saja, lalu ngomel terkait kejadian itu atau protes, anak akan membentuk pola pikir yang sama," tutur Tina.

(aci/rap)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Atalia Praratya Tulis Ucapan Manis untuk Sang Putri Tercinta di Hari Ultah, Intip Momennya

Mom's Life Annisa Karnesyia

Ciri Orang Tua Tidak Peka pada Perasaan Anak, Terlihat dari Ucapannya

Parenting Annisa Karnesyia

Kisah Ibu Hamil Terkena Sindrom HELLP hingga Jari Tangan Diamputasi Usai Melahirkan

Kehamilan Annisa Karnesyia

Pakar Ungkap Pola Makan Ibu Hamil yang Salah Bisa Hambat Pertumbuhan Bayi

Kehamilan Annisa Karnesyia

Terpopuler: Fakta Menarik Pernikahan Cristiano Ronaldo & Georgina Rodriquez

Mom's Life Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Atalia Praratya Tulis Ucapan Manis untuk Sang Putri Tercinta di Hari Ultah, Intip Momennya

Ciri Orang Tua Tidak Peka pada Perasaan Anak, Terlihat dari Ucapannya

Kisah Ibu Hamil Terkena Sindrom HELLP hingga Jari Tangan Diamputasi Usai Melahirkan

Drama China 'The Road to Splendor': Sinopsis, Daftar Pemain, dan Fakta Menarik yang Perlu Diketahui

Pakar Ungkap Pola Makan Ibu Hamil yang Salah Bisa Hambat Pertumbuhan Bayi

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK