moms-life

Fenomena Pengemis Tajir, Bagaimana Menyikapinya?

Radian Nyi Sukmasari Sabtu, 30 Nov 2019 18:41 WIB
Fenomena Pengemis Tajir, Bagaimana Menyikapinya?
Jakarta - Bunda pasti sering menemui pengemis di jalan atau di area lain? Nyatanya, enggak semua pengemis betul-betul miskin, Bun. Sebab, ada pula fenomena pengemis tajir nih.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, Sudin Sosial Jakarta Selatan (Jaksel) mengamankan pengemis tajir bernama Muklis (65) yang membawa uang Rp 194,5 juta di Kebayoran Lama. Pengemis itu disebut juga pernah diamankan pada 2017.

"Iya betul, itu malah Rp194,5 juta, betul jadi dia ketika dilakukan penjangkauan oleh Sudin Sosial Jakarta Selatan, nah itu dia sudah diikuti pengemis itu, kemudian dia itu lagi pergi ke bank," kata Kepala Dinas Sosial DKI Jakarta Irmansyah mengutip detikcom.


Setelah dari bank, diketahui pria itu adalah PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial) atau pengemis. Usai diperiksa, pengemis tersebut memang berencana mengumpulkan uang Rp200 juta dan dibawa ke kampungnya. Menurut Irmansyah, pada 2017, pihaknya juga mengamankan pengemis tersebut.

"Pakai buat apa (uangnya) belum tahu. Yang pasti, dia pengemis itu. Dulu sudah pernah juga dia kena jangkauan sama kita tahun 2017. Waktu itu dia juga nilai besar, sampai Rp90 juta," ujarnya.

Irmansyah mengimbau kalau masyarakat mau membantu, sebaiknya ke lembaga yang sudah terpercaya ketimbang ke individu. Menanggapi fenomena pengemis tajir ini, pengajar psikologi sosial di Universitas Pancasila, Muhammad Akhyar, menjelaskan persoalannya adalah di motif menolongnya.

Ilustrasi pengemisIlustrasi pengemis/ Foto: Rengga Sancaya
Akhyar menjelaskan, salah satu motif menolong adalah mengurangi perasaan negatif yang ada ketika melihat seseorang yang sepertinya butuh dibantu. Perasaan negatif itu ketika melihat pengemis, kasih saja uang, perihal apakah uang itu bermanfaat atau tidak, tak masuk dalam perhitungan, yang penting kita tidak merasa bersalah (perasaan negatif).

"Jika memang benar benar mau membantu, jadilah donatur tetap di lembaga kemanusiaan atau ziswaf yakni zakat, infaq, shadaqah, dan wakaf. Kalau bicara membedakan pengemis yang benar-benar membutuhkan dan yang hanya berkedok jadi pengemis, sepertinya sulit ya," papar Akhyar saat berbincang dengan HaiBunda.

Dihubungi terpisah, psikolog sosial dari Ikatan Psikologi Sosial, Wahyu Cahyono, menjelaskan pada dasarnya pengemis adalah fenomena sosial. Hal ini jg dimasukan ke dalam kategori PMKS (penyandang masalah kesejahteraan sosial). Kemudian, beberapa daerah mengeluarkan sanksi bagi orang yang memberi.

"Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Pertama, tetap memberikan perhatian kepada mereka melalui menyapa atau minimal kontak mata sambil tersenyum ramah. Beberapa pengemis memiliki kecenderungan mangkal atau beroperasi di wilayah tertentu," papar Wahyu.

Wahyu mengimbau, hindari memberi uang pada pengemis secara langsung. Jika sudah 'familiar' cobalah sampaikan,

"Saya ingin membantu tetapi tidak dalam bentuk uang, apa yang bisa saya bantu ya? Bapak atau ibu mau saya hubungkan dengan orang dinas sosial atau kelurahan? Kebetulan saya kenal mereka, Anda mau?"

Kata Wahyu, pertanyaan semacam itu bisa dijadikan alat untuk mengecek apakah si pengemis benar-benar mengalami situasi sulit atau hanya modus ekonomi. Wahyu menambahkan, jika memang betul membutuhkan bantuan, mereka akan mau dihubungkan dengan pihak-pihak yang bisa mendukung.

"Misalnya dinas sosial, LSM, dan sebagainya. Ini akan lebih berkelanjutan daripada sekadar memberi uang dalamĀ jumlah kecil," pungkas Wahyu.

Simak tips mendekor rumah dari bahan daur ulang di video berikut.

[Gambas:Video Haibunda]



Simak kisah unik k-pop dengan meng-klik banner di bawah ini.
https://www.insertlive.com/tag/cerita+unik+kpophttps://www.insertlive.com/tag/cerita+unik+kpop/ Foto: Istimewa
(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!
Artikel Terkait

Rekomendasi