HaiBunda

MOM'S LIFE

Musim Kemarau 2023 Diprediksi Lebih Kering, BMKG Ungkap Dampak pada Lingkungan

Tim HaiBunda   |   HaiBunda

Minggu, 29 Jan 2023 12:16 WIB
Ilustrasi Musim Kemarau 2023 Diprediksi Lebih Kering, BMKG Ungkap Dampak pada Lingkungan. Foto: Getty Images/iStockphoto/happy8790
Jakarta -

Musim kemarau 2023 disebut-sebut akan lebih kering daripada tahun-tahun sebelumnya, Bunda. Kondisi kemarau yang lebih kering ini juga berbeda dari tiga tahun sebelumnya, yakni 2020-2022.

Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati. Musim kemarau yang lebih kering tentunya akan berdampak pada lingkungan nih, Bunda. Lalu apa saja dampak yang akan ditimbulkan?

Dampak kondisi kemarau 2023 yang lebih kering

Dwikorita memaparkan kondisi kemarau yang lebih kering ketimbang tahun-tahun sebelumnya mengakibatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bakal semakin mudah terjadi. Menurutnya, kewaspadaan pun harus lebih ditingkatkan.


"Kalau tiga tahun terakhir ini saat musim kemarau masih sering terjadi hujan, maka di tahun ini (2023), intensitas hujan akan jauh menurun," ungkap Dwikorita dalam keterangannya.

Oleh karena itu, dibutuhkan pencegahan sejak dini sebagai bentuk antisipasi. Hal ini terutama di daerah-daerah yang masuk ke dalam kategori rawan Kahutla, seperti di Sumatera dan Kalimantan.

Berdasarkan pemantauan terbaru, Kepala BMKG Dwikorita mengungkapkan saat ini intensitas La Nina terus melemah. Pantauan terlihat dari indeks El-Nino Southern Osciliation (ENSO) di 10 hari pertama pada Januari 2023.

El Nino dan La Nina merupakan dinamika atmosfer dan laut yang memengaruhi cuaca di sekitar laut Pasifik. Saat El Nino berlangsung, musim kemarau menjadi sangat kering dan permulaan musim hujan yang terlambat.

Saat La Nina berlangsung, musim penghujan akan tiba lebih awal dari biasanya, Bunda. Hal ini yang menyebabkan hujan tetap terjadi saat musim kemarau.

"Berdasarkan catatan sejarah masa lalu, El Nino kategori lemah yang terjadi setelah pertengahan tahun umumnya berlangsung dengan durasi yang pendek," imbuh Dwikorita.

Sementara itu, beberapa pulau pun akan mengalami periode transisi musim yang disertai dengan kemunculan fenomena cuaca ekstrem. Misalnya saja hujan lebat, angin puting beliung, petir, dan angin kencang.

Lantas pulau mana saja yang akan mengalami periode transisi musim ini?

TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.

(fir/fir)

Simak video di bawah ini, Bun:

Belajar Gendong Bayi di Jerman, Ini Kisah Perjalanan Bunda Golda sebagai Babywearing Consultant

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

9 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Bersihkan Rumah di Malam Hari Menurut Psikologi

Mom's Life Amira Salsabila

5 Potret Kiyomi Anak Jennifer Bachdim Curi Perhatian, Suka Latihan Hyrox & Ikut Ajang Lari

Parenting Nadhifa Fitrina

7 Public Figure yang Hamil dengan Jarak Berdekatan, Lesti Kejora hingga Istri Rigen

Kehamilan Annisa Karnesyia

5 Potret Terbaru Ashanty Makin Langsing Usai Sukses Diet IF & Olahraga

Mom's Life Amira Salsabila

Edutrip Ceria! Winner's Squad Menjelajah Hong Kong Bareng Nutrilon Royal & Indomaret

Parenting Maya Sofia Puspitasari

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

9 Ciri Kepribadian Orang yang Selalu Bersihkan Rumah di Malam Hari Menurut Psikologi

5 Potret Kiyomi Anak Jennifer Bachdim Curi Perhatian, Suka Latihan Hyrox & Ikut Ajang Lari

7 Public Figure yang Hamil dengan Jarak Berdekatan, Lesti Kejora hingga Istri Rigen

Edutrip Ceria! Winner's Squad Menjelajah Hong Kong Bareng Nutrilon Royal & Indomaret

Berapa Kali Normalnya Bayi Baru Lahir BAB?

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK