Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Viral Olahan Ikan Sapu-sapu Jadi Siomay dan Abon, Ini Penjelasan Pakar

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Rabu, 28 Jan 2026 14:40 WIB

Ilustrasi siomay
Ilustrasi Viral Olahan Ikan Sapu-sapu Jadi Siomay dan Abon, Ini Penjelasan Pakar/Foto: Getty Images/Tyas Indayanti
Jakarta -

Bunda, belakangan ini konten olahan makanan seperti siomay hingga abon menjadi perbincangan hangat karena berbahan dasar ikan sapu-sapu.

Fenomena ini tentu saja langsung menuai pertanyaan publik terkait kesehatannya, mengingat ikan sapu-sapu dikenal hidup di perairan tercemar, termasuk sungai-sungai di kawasan perkotaan.

Ada kekhawatiran paparan cemaran saat masuk ke tubuh dalam jangka waktu panjang bisa berisiko termasuk potensi kanker.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ikut mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan mengonsumsi ikan yang berasal dari perairan tercemar karena berpotensi membahayakan kesehatan.

“Kalau ikannya hidup di sungai yang tercemar, maka yang berbahaya bukan hanya ikannya, tapi semua cemaran yang dia makan. Logam berat itu tidak bisa dibersihkan hanya dengan dimasak,” ujar Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari laman detikcom, Rabu (28/1/2026).

Lebih lanjut, Nadia menjelaskan bahwa ikan yang hidup di lingkungan tercemar berisiko mengandung berbagai zat berbahaya, termasuk logam berat dan bahan toksik lain yang dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia.

“Kalau ikannya makan limbah atau cemaran, maka itu pasti masuk ke tubuh ikannya. Dan ketika dikonsumsi manusia, zat itu ikut masuk ke tubuh kita,” ujar Nadia.

Senada dengan Kemenkes, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) semula menekankan ikan sapu-sapu dari Sungai Ciliwung dan perairan tercemar lainnya tidak layak dikonsumsi.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menyebut ikan tersebut berpotensi mengandung logam berat berbahaya dan bakteri patogen.

“Pada perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat sangat tinggi. Termasuk cemaran bakteri seperti E.coli yang berbahaya jika dikonsumsi,” jelasnya.

TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/rap)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda