moms-life
Kisah IRT Bermimpi Masuk Kedokteran, Sekolah Lagi dari Kelas 10
HaiBunda
Jumat, 30 Jan 2026 17:40 WIB
Daftar Isi
Bunda, hampir setiap orang memendam harapan besar tentang masa depannya. Namun sayangnya, tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk meraih cita-citanya karena berbagai keterbatasan yang dihadapi dalam hidup.
Kondisi tersebut juga dialami oleh Pham Thuy Kieu Huong yang harus menunda impiannya menempuh pendidikan kedokteran. Keadaan membuatnya berhenti sekolah sejak kelas 10 dan menjalani kehidupan sebagai ibu rumah tangga.
Meski demikian, keinginan untuk kembali bersekolah dan mengejar cita-citanya tidak pernah padam. Dengan tekad kuat, ia pun berusaha bangkit dan melanjutkan pendidikan untuk mewujudkan mimpinya yang sempat tertunda.
Ibu rumah tangga kembali sekolah dari kelas 10
Perempuan 28 tahun itu diketahui melanjutkan sekolahnya dari kelas 10 di Pusat Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Lanjutan Distrik 1, Kota Ho Chi Minh, Vietnam. Ia menjadi murid paling tua, yang berada di antara murid kelahiran 2009 dan 2010.
Dilansir dari laman Vietnam.VN, setiap hari pukul 07.30 waktu setempat, Huong memulai harinya sebagai ketua kelas, berpartisipasi dalam kegiatan belajar bersama murid yang 10 tahun lebih muda darinya.
Namun ketika bel sekolah berbunyi, ia langsung bergegas pulang, melepaskan citra dirinya sebagai pelajar untuk menjadi pemilik bisnis kacamata online, melanjutkan kehidupan sehari-harinya dalam mencari nafkah untuk dua anak.
Perasaan gugup dan takut tentu menjadi emosi yang dirasakan oleh Huong pada hari pertamanya kembali bersekolah setelah lama absen.
Memasuki kelas, Huong mengaku khawatir dengan tatapan teman-teman sekelasnya, perbedaan usia, dan tekanan karena tidak mampu mengikuti kurikulum setelah satu dekade tidak bersekolah.
Untuk setiap pelajaran, Huong selalu mengulas materi di rumah terlebih dahulu dan membuat catatan dengan cermat sebelum kelas dimulai.
Motivasi Pham Thuy Kieu Huong untuk melanjutkan sekolah
Keputusan perempuan asal Vietnam itu untuk melanjutkan studinya setelah hiatus selama 10 tahun, berakar dari peristiwa kehidupan dan kesadaran yang jelas akan keterbatasannya sendiri karena kurangnya kualifikasi dan pengetahuan.
Setelah putus sekolah di kelas 11, Huong percaya dia bisa mencari nafkah tanpa pendidikan. Namun, keluarganya mengalami krisis keuangan pada 2019.
Hal ini membuat Huong harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup melalui berbagai pekerjaan, seperti memperbaiki mobil, jualan teh, bekerja sebagai pelayan di kafe, hingga jualan kacamata.
Perasaan terjebak dalam kariernya membuat Huong menyadari bahwa tanpa pendidikan formal, akan sulit baginya untuk mengembangkan karier jangka panjang, Bunda.
“Saat itulah saya merasa paling tidak berdaya. Saya dan ibu saya harus mengemis untuk mendapatkan makanan gratis atau makan makanan vegetarian seharga 10.000 VND (sekitar Rp6.400) hanya untuk bertahan hidup dan menabung sebanyak mungkin,” ungkap Huong.
“Kemiskinan dan kurangnya pengetahuan membuat saya menyadari bahwa jika saya tidak mendapatkan pendidikan, saya tidak akan pernah bisa keluar dari lingkaran ini,” sambungnya.
Melalui pekerjaannya di bisnis kacamata, Huong secara bertahap mengembangkan minat pada refraksi oftalmik dan memutuskan untuk kembali bersekolah untuk mengejar pendidikan formal.
Huong berbagi bahwa perbedaan usia dan pola pikir telah menyulitkannya untuk bekerja dalam kelompok dengan teman-teman sekelasnya. Ia menghadapi kesulitan dan penolakan dari teman-temannya. Namun, dia tidak pernah menyerah.
“Begitu saya sudah mengambil keputusan, saya tidak akan peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain. Saya akan gigih mengejar apa yang saya inginkan sampai akhir,” jelas Huong.
Selain itu, motivasinya juga berasal dari kedua anaknya yang masih kecil, Bunda. Ia bersekolah bukan hanya untuk mengubah hidupnya sendiri, tetapi juga untuk memberi contoh agar anak-anaknya memiliki fondasi yang lebih baik di masa depan.
“Hanya ketiga generasi sebelumnya ditingkatkan, generasi selanjutnya dapat hidup bebas,” ujar Huong.
Menurutnya, mengulang kelas 10 di usia hampir menginjak kepala tiga bukan sebuah kesalahan, melainkan menjadi peluang.
“Di usia ini, saya tahu mengapa saya belajar. Saya sangat bersyukur atas kesempatan untuk belajar lagi, menyerap lebih banyak pengetahuan setiap hari, dan menjalani hidup sepenuhnya dalam perjalanan masa muda ini,” tuturnya.
Berencana kuliah kedokteran
Huong mengatakan ibundanya adalah orang pertama yang diberi tahu tentang keputusan untuk melanjutkan sekolahnya.
Dalam waktu dekat, Huong juga mengungkap berencana mengikuti ujian blok B untuk mengambil jurusan Refraksi Oftalmik di Universitas Kedokteran Pham Ngoc Thach, meskipun ia tahu itu akan sangat sulit dan menantang.
“Guru wali kelas saya bersikeras bahwa tidak ada batasan usia di kelas ini, semua orang adalah siswa dan diperlakukan dengan hormat serta diajar secara adil,” ujar Huong.
“Pemahaman dan kesepakatan itulah yang membantu saya menghilangkan perasaan tersesat, dan percaya bahwa saya tidak sendirian dalam perjalanan istimewa ini,” tuturnya.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/fir)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
Gerakan Perempuan Jadi Ibu Rumah Tangga Makin Marak di Barat, Mengapa
Mom's Life
Survei: Ibu Rumah Tangga Jadi Pekerjaan Paling Bikin Bahagia
Mom's Life
Ini Alasan Bunda Full IRT Rentan Alami Stres, Jangan Anggap Remeh ya!
Mom's Life
Cerita Jennifer Bachdim Mengurus 4 Anak Tanpa Babysitter dan Helper
Mom's Life
Pernah Jadi Ketua BEM & Lulus IPK Tinggi, Ini Alasan Wanita Bandung Pilih Jadi IRT
5 Foto
Mom's Life
Lita Hendratno Bandingkan Kehidupan sebagai Finalis Miss Indonesia & saat jadi IRT, Ini 5 Potretnya
HIGHLIGHT
HAIBUNDA STORIES
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Kisah IRT Bunda Ory Sukses Jadi Content Creator, Dibantu Suami Bikin Studio di Rumah
Kisah Savitri Jindal, Dahulu IRT Kini Jadi Salah Satu Perempuan Terkaya Dunia
Curhat IRT Belanja Rp100 Ribu Tak Cukup untuk Sehari karena Kenaikan Harga Bahan Pokok