HaiBunda

MOM'S LIFE

Diet Masakan Tradisional Nepal Disebut Bisa Lawan Diabetes

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Senin, 16 Feb 2026 13:20 WIB
Ilustrasi masakan tradisional Nepal / Foto: Getty Images/iStockphoto/MosayMay

Diabetes memang bisa mengancam nyawa. Tahukah Bunda diet masakan tradisional Nepal bisa lawan diabetes? Masakan seperti apa itu?

Masakan tradisional yang selama ini menjadi santapan turun-temurun masyarakat di Nepal kini disebut berpotensi membantu melawan epidemi diabetes tipe 2 yang terus meningkat. Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan sederhana berbasis lentil dan nasi khas Nepal mampu membantu mengendalikan bahkan membalikkan kondisi diabetes pada sebagian pasien.

Lonjakan konsumsi makanan cepat saji bergaya Barat dinilai menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka diabetes di negara Asia Selatan tersebut. Para dokter dan peneliti menemukan bahwa kembali ke pola makan tradisional yang lebih alami dan rendah kalori dapat menjadi solusi yang lebih efektif sekaligus terjangkau bagi masyarakat Nepal, terutama karena biaya pengobatan diabetes masih sulit dijangkau sebagian besar penduduk.


Hasil penelitian awal bahkan menunjukkan tingkat remisi diabetes yang cukup signifikan hanya dengan menerapkan diet tradisional terkontrol. Temuan ini membuka harapan baru bahwa pendekatan berbasis pangan lokal dapat menjadi strategi kesehatan masyarakat untuk menekan angka diabetes yang terus meningkat, tidak hanya di Nepal tetapi juga di negara berkembang lainnya.

Diabetes jadi beban kesehatan dan ekonomi

Di Nepal, diabetes tipe 2 menjadi masalah serius. Diperkirakan satu dari lima orang berusia di atas 40 tahun mengalami penyakit tersebut.

Selain berisiko menyebabkan kematian dini, diabetes juga memicu komplikasi berat seperti penyakit ginjal, amputasi anggota tubuh, hingga kebutaan. Dokter residen yang berbasis di Kathmandu, Dr. Ashish Tamang, menyebut diabetes bukan hanya persoalan medis semata.

“Bagi banyak keluarga, diabetes bukan hanya kondisi medis, tetapi juga beban sosial dan ekonomi jangka panjang,” kata Dr. Ashish Tamang, mengutip The Guardian.

Studi: diet tradisional tunjukkan hasil menjanjikan

Sebuah studi percontohan yang melibatkan 70 pasien diabetes kronis menunjukkan hasil cukup menggembirakan. Sekitar 43 persen peserta berhasil mencapai kondisi remisi setelah mengikuti pola makan tradisional Nepal yang dikontrol secara ketat.

Penelitian lanjutan yang melibatkan 120 orang di daerah pedesaan dan pinggiran kota juga menunjukkan hasil serupa. Meski masih tahap awal, sekitar setengah dari pasien bebas dari diabetes setelah empat bulan dengan penurunan berat badan rata-rata hanya 4 sampai 5 kg.

Penelitian ini dilakukan melalui kerja sama antara University of Glasgow dengan Dhulikhel Hospital. Program tersebut dirancang berlangsung selama empat tahun dengan tujuan membuktikan bahwa diet tradisional juga dapat mencegah diabetes pada kelompok berisiko tinggi.

Cara diet tradisional Nepal

Diabetes tipe 2 terjadi ketika kadar gula darah tinggi akibat tubuh tidak memproduksi insulin cukup atau insulin tidak bekerja secara optimal. Kondisi ini sering dipicu oleh kelebihan berat badan.

Program diet dalam penelitian tersebut mengatur asupan sekitar 850 kalori per hari selama 8 minggu. Menu yang diberikan, meliputi sarapan yoghurt dan buah serta menu utama berupa dal bhat, yakni kombinasi lentil dan nasi yang menjadi makanan pokok masyarakat Nepal.

Setelah fase awal, peserta beralih ke pola makan dengan kalori lebih tinggi namun tetap menggunakan menu tradisional yang sama untuk menjaga berat badan tetap stabil. Untuk memastikan keberhasilan program, peserta diberikan alat ukur seperti gelas takar dan timbangan makanan.

Peserta juga mengikuti sesi kelompok pendukung secara rutin agar tetap disiplin menjalani pola makan sehat.

Apa lebih efektif dibanding menggunakan obat diabetes?

Pendekatan diet tradisional dinilai sangat efektif bahkan melebihi sejumlah metode pengobatan modern. Dalam penelitian di Inggris pada 2017, menunjukkan diet penurunan berat badan berbasis sup dan minuman pengganti makanan mampu membalikkan diabetes.

Program tersebut kini menjadi bagian dari standar perawatan diabetes di layanan kesehatan Inggris, yaitu NHS. Meski demikian, pendekatan diet tradisional di Nepal dinilai berpotensi lebih efektif.

Hal ini karena masyarakat Asia secara genetik lebih rentan terhadap diabetes tipe 2, tapi juga cenderung membutuhkan penurunan berat badan yang lebih kecil untuk mencapai remisi.

Bahan pangan lokal yang lebih sehat

Program ini menekankan penggunaan bahan pangan lokal yang murah dan mudah didapat. Para peneliti juga mendorong masyarakat mengganti nasi putih giling halus dengan nasi merah yang memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi, termasuk vitamin B1 untuk membantu metabolisme karbohidrat.

Selain itu, peserta diminta menghindari camilan serta makanan olahan tinggi gula, lemak, dan garam yang banyak ditemukan pada produk makanan Barat. Sebuah studi tahun 2025 bahkan menunjukkan 87 persen makanan kemasan yang dijual di Kathmandu melampaui ambang batas kandungan gula, lemak, dan garam yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO).

Makanan cepat saji disebut pemicu utama diabetes

Para peneliti menilai peningkatan diabetes di Nepal berkaitan erat dengan masuknya makanan cepat saji ala Barat. Perubahan pola konsumsi masyarakat terjadi seiring perkembangan transportasi dan teknologi yang membuat makanan olahan semakin mudah diakses.

Selain pola makan, penurunan aktivitas fisik akibat modernisasi juga berkontribusi terhadap meningkatnya angka diabetes. Perubahan gaya hidup membuat masyarakat lebih jarang melakukan aktivitas fisik berat dibanding generasi sebelumnya.

Tim peneliti berharap hasil penelitian di atas dapat menjadi model pencegahan diabetes berbasis komunitas yang murah dan mudah diterapkan. Program juga dirancang melibatkan relawan perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung sistem kesehatan masyarakat Nepal.

Pendekatan berbasis makanan tradisional tersebut bahkan mulai menarik perhatian negara-negara tetangga yang menghadapi lonjakan kasus diabetes. Para pejabat kesehatan di kawasan Asia Selatan melihat peluang besar jika strategi tersebut terbukti efektif dalam jangka panjang.

Dengan hasil awal yang menjanjikan, diet masakan tradisional Nepal menunjukkan bahwa solusi kesehatan modern tidak selalu harus mahal. Coba Bunda kembali ke pola makan lokal yang lebih sehat untuk melawan diabetes.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

Dari Serat hingga Skyr, Ini 7 Tren Makanan Sehat di 2026

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Bolehkah Mandi Wajib setelah Sahur? Ketahui Hukum & Mana yang Perlu Didahulukan

Mom's Life Natasha Ardiah

Menkeu Purbaya Ungkap Sebagian Besar Perhiasan Tiffany & Co Selundupan dari Spanyol

Mom's Life Nadhifa Fitrina

7 Ciri Kepribadian Orang yang Jalannya Cepat Menurut Studi Psikologi

Mom's Life Azhar Hanifah

7 Makanan Kaya Zat Besi untuk Anak Usia 1-3 Tahun

Parenting Asri Ediyati

Cerita Sederet Artis Diet saat Hamil, Simak Alasan di Baliknya

Kehamilan Annisa Karnesyia

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Bolehkah Mandi Wajib setelah Sahur? Ketahui Hukum & Mana yang Perlu Didahulukan

Cerita Sederet Artis Diet saat Hamil, Simak Alasan di Baliknya

7 Makanan Kaya Zat Besi untuk Anak Usia 1-3 Tahun

Menkeu Purbaya Ungkap Sebagian Besar Perhiasan Tiffany & Co Selundupan dari Spanyol

Terpaut Usia dengan Pasangan, Apakah Pernikahan Bisa Langgeng? Simak Penjelasannya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK