HaiBunda

MOM'S LIFE

Belanja Lebaran: Mana Kebutuhan, Mana Tekanan Sosial?

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Jumat, 06 Mar 2026 13:30 WIB
Ilustrasi Belanja Lebaran: Mana Kebutuhan, Mana Tekanan Sosial?/Foto: Getty Images/Liubomyr Vorona
Jakarta -

Menjelang Idul Fitri, momen belanja Lebaran sering kali menjadi hal yang dinantikan banyak keluarga. Namun, di tengah persiapan semarak tersebut, penting bagi Bunda untuk membedakan mana yang benar-benar kebutuhan dan mana yang muncul karena tekanan sosial.

Sebab, tidak sedikit orang yang akhirnya membeli berbagai hal hanya karena ingin mengikuti tren masa kini atau kebiasaan, sehingga merasa tidak enak jika terlihat berbeda dari yang lainnya.

Tanpa disadari, dorongan konsumtif sering kali muncul lewat kalimat sederhana yang mungkin tanpa disadari menjadi tanda bahwa Bunda belanja hanya karena tekanan sosial. Padahal, jika tidak dikendalikan, kebiasaan ini dapat membuat pengeluaran membengkak menjelang Lebaran.


Pada akhirnya, kondisi keuangan Bunda juga menjadi kurang sehat setelah hari raya berakhir. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk menyusun prioritas dan mengelola keuangan secara bijak.

Cara membedakan kebutuhan dan tekanan sosial

Financial Planner, Rista Zwestika CFP, menyarankan Bunda untuk melakukan 3T Lebaran (tanya, tahan, dan tentukan) terlebih dahulu sebelum membeli sesuatu menggunakan THR atau anggaran Lebaran.

“Saya sering memakai jargon Rista: 3T Lebaran, yakni tanya-tahan-tentukan. Sebelum belanja, tanyakan dulu pada diri sendiri. Tanya: Apakah ini benar-benar kebutuhan atau hanya ikut tren Lebaran? Tahan: Jangan langsung beli, tunda minimal 24 jam. Tentukan: Jika setelah ditunda masih merasa penting, baru beli,” saran Rista kepada HaiBunda, Kamis (5/3/2026).

Sebab, ia mengatakan yang membuat keuangan Lebaran bikin bengkak itu bukan kebutuhan, melainkan tekanan sosial alias gengsi.

“Karena dalam keuangan Lebaran ada satu prinsip, yang bikin boncos bukan kebutuhan, tapi gengsi yang disamarkan sebagai tradisi,” tuturnya.

Dalam hal ini, Rista juga membagikan beberapa ciri Bunda belanja Lebaran hanya karena tekanan sosial. Ia menyebut ada tiga alarm konsumtif yang sering muncul, berikut di antaranya:

  • “Takut dibilang pelit”
  • “Tidak enak kalau beda sendiri”
  • “Setahun sekali, tidak apa-apa”

Menurutnya, beberapa kalimat di atas sering kali disampaikan orang yang belanja hanya karena keinginan semata, bukan berdasarkan kebutuhan.

“Kalimat terakhir ini sangat berbahaya karena dalam keuangan ada istilah yang saya sebut, ‘Setahun sekali mindset, tapi cicilannya bisa setahun’,” ungkap Rista.

4 Tips mengeluarkan anggaran yang aman untuk belanja Lebaran

Ada beberapa langkah yang perlu Bunda ikuti agar tetap bisa belanja aman tanpa perlu khawatir anggaran Lebaran akan membengkak. Berikut di antaranya:

1. Tentukan prioritas

Jika masih bingung saat menentukan prioritas pengeluaran Lebaran, Rista juga membagikan kembali jargonnya, yakni 3P Lebaran (Pahala-people-penampilan).

“Urutannya harus jelas, pahala (zakat, sedekah, ibadah), people (keluarga, makanan bersama, silaturahmi), dan penampilan (baju baru, hampers, dan dekorasi,” saran Rista.

2. Gunakan strategi keuangan 3B

Rista juga membagikan strategi dalam mengelola keuangan menggunakan jargon 3B Lebaran, yakni budget-batas-berhenti.

Budget, tentukan jumlah uangnya sebelum belanja. Batas, tentukan batas maksimal per kategori. Berhenti, ketika angka sudah tercapai, berhenti belanja karena banyak orang gagal bukan karena kurang uang, tetapi karena tidak punya batas,” ujarnya.

3. Tentukan batas pengeluaran yang aman

Sering kali orang, termasuk Bunda, mungkin bingung dalam menentukan batas pengeluaran yang aman. Menjawab hal ini, Rista menyarankan untuk membatasi pengeluaran 30-40 persen dari THR.

“Secara umum, saya sering menyarankan, maksimal 30-40 persen dari THR. Kenapa? Karena THR bukan hanya untuk Lebaran, tapi juga untuk dana darurat, tabungan, investasi, kebutuhan setelah Lebaran,” ujar Rista.

“Saya selalu bilang, THR itu bonus bukan tiket untuk balas dendam belanja,” sambungnya.

4. Hindari gengsi

Jika anggaran terbatas, Bunda bisa menggunakan prinsip potong gengsi, jangan potong anggaran untuk silaturahmi.

Rista mengungkap bahwa urutan yang bisa dipangkas, yaitu hampers mahal, baju baru setiap tahun, buka bersama terlalu banyak, dan dekorasi berlebihan.

“Yang jangan dipangkas, zakat, kebutuhan keluarga inti, dan perjalanan untuk bertemu orang tua karena esensi Lebaran sebenarnya bukan kemewahan,” ungkap Rista.

Ia pun mengatakan Lebaran itu tentang kemenangan hati, bukan soal gengsi. “Kalau kita bisa mengelola uang dengan bijak, Lebaran tetap hangat tanpa harus membuat kondisi finansial kita ‘kalah’ setelahnya,” tuturnya.

Nah, itulah mana yang lebih penting untuk belanja Lebaran di antara kebutuhan dan tekanan sosial. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

5 Tips Mengatur Keuangan untuk Biaya Sekolah Anak Jelang PPDB 2026/2027

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Cecillia Gina Putri Limbad Diambil Sumpah Jadi Dokter Gigi, Ini 5 Potretnya

Mom's Life Annisa Karnesyia

9 Penyebab Darah Haid Hitam dan Hanya Keluar Sedikit di Hari Pertama

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Nurah Pasya Istri Teuku Rafly Pasya Alami Keguguran Anak Keempat

Kehamilan Annisa Karnesyia

7 Perusahaan yang Bersiap Menggantikan Karyawan dengan AI

Mom's Life Arina Yulistara

Rumah Termahal di Dunia Milik Pangeran Saudi Senilai Rp5,28 Triliun, Intip Isi Huniannya

Mom's Life Azhar Hanifah

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Normalkah Panas Anak Sempat Turun Lalu Naik Lagi? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Malam Nuzulul Quran 17 Ramadhan: Waktu, Doa, Amalan, Kisah Sejarah di Baliknya

9 Penyebab Darah Haid Hitam dan Hanya Keluar Sedikit di Hari Pertama

Cecillia Gina Putri Limbad Diambil Sumpah Jadi Dokter Gigi, Ini 5 Potretnya

Jangan Sampai Boros, Ini 5 Kesalahan Saat Buka Puasa Bareng Teman

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK