Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Ciri Ibu Narsistik, Sering Ucapkan 11 Kalimat Ini kepada Anak Dewasa

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Jumat, 13 Mar 2026 18:45 WIB

Ilustrasi Ibu dan Anak
Ilustrasi Ciri Ibu Narsistik, Sering Ucapkan 11 Kalimat Ini kepada Anak Dewasa/Foto: Getty Images/iStockphoto
Daftar Isi
Jakarta -

Seorang ibu narsistik mungkin menunjukkan ciri-ciri, seperti kurang empati, kebutuhan konstan akan kekaguman, dan kecenderungan untuk meremehkan atau manipulasi anak-anaknya. Hal ini juga dapat dikenali melalui beberapa kalimat yang sering mereka ucapkan.

Dibesarkan oleh orang tua narsistik dapat meninggalkan kekosongan perkembangan dan emosional yang terus menghantui hingga dewasa.

Bahkan, sering kali percakapan berujung pada perdebatan, muncul komentar pasif-agresif dan mengontrol yang dapat membuat orang yang sudah dewasa merasa seperti anak kecil lagi. Sebab, mereka hampir selalu mengucapkan kalimat-kalimat tertentu ketika berbicara dengan anak-anak mereka yang sudah dewasa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


11 Kalimat yang menjadi ciri ibu narsistik

Ibu narsistik sulit menerima gagasan anak mereka menjalani hidupnya sendiri, dan itu tercermin dalam kata-kata yang diucapkan. Berikut beberapa di antaranya:

1. “Setelah semua yang telah kulakukan untukmu”

Dilansir dari laman Your Tango, orang yang narsistik akan melakukan apa saja agar tidak perlu bertanggung jawab.

Sebagai seorang bunda, dia mungkin akan menghentikan percakapan begitu saja saat percakapan mulai menyimpan ke arah kesalahan yang mungkin telah dilakukan saat anak-anaknya tumbuh dewasa.

Ini menyiratkan bahwa anak-anaknya memiliki utang budi kepadanya, dan tampaknya hal itu hanya muncul saat anak-anaknya mencoba membela diri.

2. “Kamu salah paham”

Bunda narsistik hampir selalu mengatakan kalimat ini ketika berbicara dengan anak-anaknya yang sudah dewasa.

Namun, alih-alih mengakui komentar menyakitkan yang dilontarkannya, ia malah akan menyalahkan anaknya karena salah menafsirkan ucapannya.

Tiba-tiba, masalahnya tidak ada hubungannya dengan apa yang telah dia katakan. Sekarang masalahnya semata-mata tentang reaksi mereka terhadapnya. Kesalahan dialihkan dari dirinya yang harus memperbaiki perilaku dan tindakannya menjadi masalah untuk mengatasinya.

3. “Aku tidak punya waktu untuk ini”

Saat anak mencoba menyampaikan sesuatu yang penting, tiba-tiba ibunya tidak mau terlibat. Mereka mungkin mencoba menetapkan batasan atau menyampaikan kekhawatiran yang dimiliki, tetapi ibunda tidak memiliki rencana untuk benar-benar menanggapi hal tersebut.

4. “Kamu terlalu sensitif”

Jika dibesarkan oleh ibu narsistik, alih-alih benar-benar terlibat dengan apa yang mungkin telah menyakiti Bunda, ia malah mengabaikan realitas sepenuhnya.

Ia menyarankan bahwa sebenarnya ada sesuatu yang salah dengan Bunda sehingga bereaksi seperti ini. Sekarang, perasaan sakit hati dijadikan masalah.

5. “Dulu kamu selalu menceritakan semuanya padaku”

Membuat anak-anak merasa bersalah hanya salah satu dari banyak taktik manipulasi yang digunakan orang tua narsistik terhadap anak-anak mereka.

“Sudah umum bagi orang tua narsistik untuk menggunakan FOG (fear, obligation, dan guilt) (ketakutan, kewajiban, dan rasa bersalah) pada kita untuk membangkitkan rasa bersalah yang akan menyebabkan kita menuruti keinginan mereka, bahkan dengan mengorbankan kebutuhan dan hak dasar kita sendiri,” jelas peneliti Harvard, Shahida Arabi.

6. “Anak-anak lain akan merasa berterima kasih”

Bagi seorang ibu narsistik, perasaan anak sendiri tidak valid. Dia harus membandingkannya dengan orang lain, dan perbandingan itu tidak pernah bertujuan untuk bersikap adil, melainkan untuk menegaskan kendali.

Anak mungkin dibuat merasa seolah-olah gagal memenuhi standar rasa terima kasih yang telah diciptakan.

Sayangnya, ibu-ibu narsistik hampir selalu mengatakan, “anak-anak lain akan berterima kasih” ketika mereka berbicara dengan anak-anaknya yang telah dewasa.

7. “Itu tidak pernah terjadi”

Menyangkal mentah-mentah bahwa sesuatu tidak terjadi adalah perilaku klasik dari seseorang yang narsistik.

Ibu narsistik akan teguh pada keyakinannya bahwa anak hanya mengarang cerita. Dia mencoba menulis ulang sejarah sebagai cara untuk mencoba mengendalikan narasi agar menguntungkan dirinya.

8. “Mari kita lanjutkan saja”

Seorang ibu narsistik sering mengucapkan kalimat ini sebagai cara untuk menghindari menghadapi masalah yang disampaikan kepadanya.

Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan keinginan untuk mencapai penyelesaian. Bahkan, ini lebih berkaitan dengan sekadar menghentikan percakapan sebelum dia benar-benar harus bertanggung jawab.

9. “Kamu sudah berubah”

Alih-alih melihat pertumbuhan sebagai hal positif, seorang ibu narsistik justru menganggapnya sebagai masalah besar, sering kali mengatakan kepada anak-anaknya yang sudah dewasa bahwa mereka telah berubah.

Jika menjalani hidup dengan cara yang tidak disukainya, dia cenderung mengungkap secara berlebihan, yang tidak disadari yaitu berevolusi adalah hal yang sepenuhnya terjadi secara alami.

10. “Kamu membuatku terlihat buruk”

Ibu narsistik hampir selalu mengatakan kalimat ini ketika berbicara dengan anak-anak mereka yang sudah dewasa. Itu karena apa pun yang diungkit akhirnya terlihat seperti kesalahan anaknya, bukan kesalahan mereka.

Saat mencoba untuk tidak setuju atau bahkan hanya menyuarakan pendapat, itu menjadi serangan pribadi terhadap citranya.

11. “Aku cuma bercanda”

Biasanya, ungkapan ini muncul tepat setelah komentar yang mungkin menyinggung perasaan. Tiba-tiba, dia membuat seolah-olah itu semua hanya lelucon besar padahal bukan.

Dengan mengklaim bahwa itu semua hanya bercanda, dia menghindari tanggung jawab atas dampak kata-katanya terhadap anak.

Nah, itulah beberapa kalimat yang menjadi ciri-ciri seorang ibu narsistik. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda