Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Fenomena 'Quiet Cracking', Saat Karyawan Tetap Bekerja tapi Hatinya Sudah Tidak di Sana

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Jumat, 20 Mar 2026 18:00 WIB

Eco friendly, businesswoman young asian stress in working on laptop while sitting at home office.
Ilustrasi quiet cracking / Foto: Getty Images/Natee Meepian
Daftar Isi

Bunda melihat adanya fenomena quiet cracking di kantor? Simak informasi tentang fenomena quiet cracking yang membuat karyawan tidak lagi produktif.

Fenomena baru di dunia kerja kembali menjadi sorotan. Setelah muncul istilah quiet quitting atau bekerja sekadarnya, kini muncul istilah lain yang tak kalah mengkhawatirkan, yakni 'quiet cracking'.

Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika karyawan masih datang bekerja setiap hari, namun secara mental dan emosional sudah merasa rapuh, tertekan, dan terjebak dalam pekerjaannya. Berbeda dengan gelombang pengunduran diri massal seperti yang terjadi pada masa The Great Resignation, fenomena quiet cracking sering kali terjadi secara diam-diam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Tidak terlihat jelas di permukaan, namun dampaknya bisa sama merusaknya bagi karyawan maupun perusahaan. Mari bahas mengenai quiet cracking.

Apa itu quiet cracking?

Secara sederhana, quiet cracking menggambarkan pergulatan batin karyawan yang merasa tidak bahagia di tempat kerja tapi tak bisa atau tidak berani meninggalkannya. Mereka tetap bekerja seperti biasa, namun di dalam dirinya muncul tekanan, kelelahan mental, hingga kehilangan motivasi.

Chief Well-Being' Officer EY, Frank Giampietro, menyebut karyawan yang mengalami kondisi ini biasanya merasa 'terjebak' dalam pekerjaan. Mereka tetap bertahan karena membutuhkan gaji, khawatir pekerjaan lain tidak lebih baik, atau merasa kondisi pasar kerja tidak memungkinkan untuk berpindah pekerjaan.

Dalam banyak kasus, rasa takut terhadap perubahan juga menjadi faktor. Meninggalkan pekerjaan yang sudah dijalani, meskipun tidak menyenangkan, dianggap lebih berisiko dibandingkan tetap bertahan.

Penyebab quiet cracking di tempat kerja

Berikut beberapa penyebab quite cracking di tempat kerja.

Muncul rasa tidak aman

Salah satu pemicu utama quiet cracking adalah rasa tidak aman dalam pekerjaan. Laporan dari platform pelatihan TalentLMS menemukan bahwa karyawan yang tidak mendapatkan pelatihan atau pengembangan selama setahun terakhir 140 persen lebih mungkin merasa tidak percaya diri terhadap posisinya.

Kurangnya pelatihan membuat pekerja merasa tidak siap menghadapi tuntutan pekerjaan atau perkembangan industri. Akibatnya, mereka mulai meragukan kemampuan diri sendiri dan masa depan kariernya. Rasa tidak aman ini perlahan menumpuk menjadi tekanan psikologis yang menggerus semangat kerja.

Kurang berkomunikasi dengan atasan

Faktor lain yang memperparah fenomena ini adalah 'managerial disconnect' atau putusnya hubungan komunikasi antara karyawan dan manajer. Penelitian menunjukkan hampir 47 persen karyawan yang mengalami quiet cracking merasa atasan tidak mendengarkan keluhan atau aspirasi mereka.

Ketika suara karyawan tidak didengar maka cenderung merasa tidak dihargai dan kehilangan keterikatan dengan organisasi. Tanpa komunikasi yang sehat, rasa frustrasi tersebut dapat berkembang menjadi kelelahan mental yang berkepanjangan.

Mirip quiet quitting

Para peneliti TalentLMS menyebut quiet cracking sebagai fenomena yang lebih tidak terlihat dibandingkan gelombang pengunduran diri massal, namun dampaknya tidak kalah besar. Pada 2022, dunia kerja sempat diramaikan oleh istilah quiet quitting, yakni karyawan yang hanya melakukan pekerjaan minimum sesuai deskripsi kerja.

Sebagai respon, beberapa perusahaan bahkan dituduh melakukan quiet firing, yaitu perlahan menyingkirkan karyawan dari perannya. Kini quiet cracking muncul sebagai tahap yang lebih emosional, yakni pekerja yang masih berusaha menjalankan tanggung jawabnya, namun secara mental mulai 'retak'.

Kisah karyawan yang alami quiet cracking

Banyak pekerja mengaku mengalami kondisi ini. Salah satunya adalah Chanel, seorang single parent yang bekerja sebagai perencana fasilitas di sektor kesehatan. Ia mengatakan bahwa membaca tentang quiet cracking membuatnya sadar bahwa dirinya tidak sendirian.

Douglas bekerja keras membangun kariernya tanpa gelar sarjana, sesuatu yang biasanya menjadi syarat di banyak pekerjaan. Dengan biaya hidup yang tinggi dan tanggung jawab sebagai orangtua tunggal, ia merasa tidak memiliki banyak pilihan selain tetap bertahan.

Ia menggambarkan rutinitasnya dengan jujur, seperti datang bekerja setiap hari dan berusaha 'tidak sampai benar-benar runtuh sebelum waktu makan siang'. Tekanan kerja yang meningkat bahkan membuatnya mengalami serangan panik hingga harus mengambil cuti sementara untuk menjalani perawatan kesehatan mental.

Meski istilahnya baru, pengalaman merasa terjebak dalam pekerjaan sebenarnya bukan hal baru. Kevin Ford, seorang profesional teknologi informasi berusia 56 tahun, mengatakan ia pernah mengalami kondisi serupa lebih dari 15 tahun lalu.

Ketika ia merasa tidak lagi sejalan dengan budaya manajemen di perusahaannya. Sebagai manajer menengah, ia merasa timnya sudah berjalan dengan baik, namun dirinya tidak lagi yakin memberikan kontribusi yang berarti. Situasi tersebut membuatnya terus memikirkan pekerjaan bahkan di luar jam kerja.

Akibatnya, performa kerjanya ikut menurun. Ford mengakui kondisi itu tidak baik bagi dirinya maupun perusahaan. Setelah sekitar satu setengah tahun merasa terjebak, ia akhirnya memutuskan untuk keluar.

Kepuasan kerja yang menurun

Fenomena ini juga berkaitan dengan menurunnya kepuasan kerja secara global. Survei Gallup pada 2024 menunjukkan hanya 31 persen karyawan di Amerika Serikat yang merasa benar-benar terlibat dalam pekerjaannya. Bahkan hanya 18 persen yang merasa sangat puas dengan pekerjaan mereka.

Tingkat kepuasan kerja bahkan turun menjadi 19 persen pada Mei 2025, jauh lebih rendah dibandingkan 28 persen pada 2014.

Survei lain terhadap pembaca Business Insider juga menunjukkan betapa umum fenomena ini. Dari 163 responden, 154 orang mengaku pernah mengalami quiet cracking.

Will Reddington, salah satu responden survei, menggambarkan gejalanya sebagai hilangnya motivasi, kelelahan ekstrem, dan perasaan terus-menerus tidak didengar. Sementara itu, insinyur keamanan produk Masiel Morillo mengaku kecemasannya muncul dalam bentuk kebiasaan makan berlebihan.

Menurutnya, setelah pandemi COVID-19 dan gelombang pemutusan hubungan kerja di banyak perusahaan, Bunda bisa memilih untuk tidak 'mengguncang perahu' atau membuat masalah di kantor.

Antara hari kerja sulit dan lingkungan kerja toksik

Tidak semua stres kerja berarti lingkungan kerja bermasalah. Setiap pekerjaan pasti memiliki hari-hari yang berat. Namun ada perbedaan besar antara tekanan kerja normal dan lingkungan kerja yang tidak sehat.

Sara Stroman, seorang tenaga penjualan di industri distribusi makanan, pernah merasakan bagaimana rasanya bekerja di tempat yang ia sebut sebagai lingkungan toksik. Meski menjadi tenaga penjualan dengan kinerja tinggi, atasannya memperlakukannya seperti staf administrasi.

Ia merasa seolah apa pun yang dilakukannya tidak pernah cukup baik.Di kantor, ia tetap bersikap ramah kepada rekan kerja. Namun saat perjalanan menuju tempat kerja, ia sering menangis karena tekanan yang dirasakannya.

Pada akhirnya, Stroman memutuskan bahwa dirinya harus keluar dari situasi tersebut. Ia tidak langsung berhenti, tetapi mulai menyusun strategi untuk meninggalkan pekerjaannya secara bertahap.

Ia menetapkan batas waktu bagi dirinya sendiri untuk mencari jalan keluar. Keputusan itu memberinya kendali atas masa depannya. Ia mengatakan akhirnya bisa meninggalkan pekerjaan tersebut dengan caranya sendiri.

Solusi mengatasi quiet cracking

CEO Epignosis, perusahaan induk TalentLMS, Nikhil Arora mengatakan solusi untuk mengatasi fenomena ini sebenarnya cukup jelas, yakni memberikan ruang bagi karyawan untuk berkembang.

Menurutnya, ketika karyawan merasa terjebak, tidak didengar, atau tidak yakin dengan masa depan mereka, rasa keterasingan akan muncul. Sebaliknya, muncul kesempatan untuk belajar, meningkatkan keterampilan, serta melakukan percakapan yang jujur dengan manajemen dapat membantu memulihkan semangat kerja.

Tidak hanya membuat karyawan merasa dihargai, langkah tersebut juga membantu mereka menemukan kembali tujuan dan arah dalam karier.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda