HaiBunda

MOM'S LIFE

Mengenal Diet Ular yang Diklaim Efektif Turunkan BB, Amankah?

Arina Yulistara   |   HaiBunda

Sabtu, 28 Mar 2026 13:50 WIB
Ilustrasi diet ular / Foto: Getty Images/Gerasimov174

Pernah mendengar diet ular, Bunda? Mari mengenal diet ular yang diklaim efektif menurunkan berat badan. Namun amankah?

Tren diet ekstrem kembali mencuri perhatian publik. Salah satu yang ramai diperbincangkan adalah 'Snake Diet' atau diet ular. 

Diet ular merupakan sebuah metode penurunan berat badan yang diklaim mampu memberikan hasil cepat dan drastis. Namun di balik popularitasnya muncul pertanyaan, apakah metode ini benar-benar efektif dan aman bagi kesehatan?


Diet ular menarik minat banyak orang karena menjanjikan penurunan berat badan dalam waktu singkat. Meski demikian, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa tidak semua metode diet yang viral telah terbukti aman secara ilmiah.

Lantas, seperti apa sebenarnya konsep diet ular dan apa saja risiko yang perlu diwaspadai? Mengutip Healthline, mari bahas di sini, Bunda.

Apa itu diet ular?

Diet ular merupakan pola makan ekstrem yang berfokus pada puasa dalam jangka waktu panjang, diselingi dengan waktu makan yang sangat singkat. Metode ini diperkenalkan oleh Cole Robinson yang menyebut dirinya sebagai pelatih puasa meski tidak memiliki latar belakang medis atau nutrisi.

Metode ini juga diklaim sebagai gaya hidup yang meniru kondisi manusia zaman dahulu yang harus bertahan dalam periode kelaparan. Dalam praktiknya, pelaku diet bisa berpuasa hingga 48 jam atau lebih, lalu hanya makan dalam waktu 1 hingga 2 jam sebelum kembali berpuasa.

Selama masa puasa, pelaku dianjurkan mengonsumsi 'snake juice', minuman elektrolit yang terbuat dari air, garam, kalium, dan bahan tambahan lainnya.

Cara menjalani diet ular

Berikut cara menjalani diet ular.

Fase awal (puasa panjang)

Pelaku memulai dengan puasa minimal 48 jam untuk memicu kondisi ketosis, yaitu saat tubuh membakar lemak sebagai sumber energi karena kekurangan glukosa.

Fase penurunan berat badan

Puasa diperpanjang dari 48 sampai 96 jam, lalu diselingi makan satu kali. Siklus ini dilakukan terus hingga berat badan target tercapai.

Fase pemeliharaan

Setelah mencapai berat ideal, pelaku tetap menjalani pola puasa 24 sampai 48 jam dengan satu kali makan.

Menariknya, diet ini tidak memberikan panduan jelas mengenai jenis makanan yang harus dikonsumsi sehingga berpotensi menyebabkan kekurangan nutrisi penting.

Benarkah efektif menurunkan berat badan?

Secara teori, pembatasan kalori ekstrem memang dapat menurunkan berat badan dengan cepat. Dalam kondisi puasa panjang, tubuh akan menggunakan cadangan energi, termasuk lemak dan massa otot.

Hanya saja, penurunan berat badan yang terlalu cepat justru tidak disarankan. Berdasarkan rekomendasi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) penurunan berat badan yang aman berkisar 0,5 sampai 0,9 kg per minggu.

Pada diet ular, penurunan bisa jauh lebih cepat karena tubuh mengalami 'kelaparan', bukan karena pola makan sehat. Hal ini membuat metode tersebut dinilai tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Apakah diet ular aman?

Mayoritas ahli sepakat bahwa diet ular memiliki risiko kesehatan yang serius. Beberapa di antaranya:

1. Kekurangan nutrisi

Tubuh membutuhkan berbagai vitamin dan mineral setiap hari. Puasa berkepanjangan tanpa asupan cukup dapat menyebabkan malnutrisi.

2. Ketidakseimbangan elektrolit

Meski mengonsumsi minuman elektrolit, kebutuhan tubuh tidak sepenuhnya terpenuhi. Hal ini bisa memicu gangguan serius pada jantung dan saraf.

3. Dehidrasi

Beberapa praktik diet ini bahkan membatasi asupan cairan yang berbahaya dan dapat menyebabkan dehidrasi.

4. Kehilangan massa otot

Selain lemak, tubuh juga membakar otot saat kekurangan energi, yang berdampak buruk bagi metabolisme.

5. Gangguan pola makan

Diet ekstrem seperti ini berisiko memicu hubungan tidak sehat dengan makanan, bahkan gangguan makan.

Adakah manfaatnya?

Pencetus diet ini mengklaim bahwa metode tersebut dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti diabetes tipe 2 dan peradangan. Namun klaim ini belum didukung bukti ilmiah yang kuat.

Memang penurunan berat badan dapat membantu mengurangi risiko penyakit tertentu. Namun bukan berarti metode ekstrem seperti diet ular menjadi solusi yang tepat.

Jadi, diet ular mungkin terlihat menarik bagi Bunda yang ingin menurunkan berat badan secara instan. Namun lebih mengandalkan kelaparan ekstrem dibandingkan pola makan sehat yang seimbang.

Tanpa pengawasan medis, diet ini berpotensi membahayakan kesehatan, mulai dari kekurangan nutrisi hingga gangguan serius pada tubuh. Para ahli menyarankan untuk memilih metode penurunan berat badan yang lebih aman, seperti pola makan seimbang dan aktivitas fisik rutin.

Sebelum mencoba diet apa pun, penting untuk mempertimbangkan risiko dan berkonsultasi dengan ahli agar tidak menimbulkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan diri sendiri ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Simak video di bawah ini, Bun:

Berat Badan Naik Setelah Lebaran? Ini Cara Diet Ampuh Mengembalikannya, Bun

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Thames Town, Kota Unik di Asia yang Semua Bangunannya Dibuat Mirip Inggris

Mom's Life Annisa Karnesyia

11 Cara Mengenali Orang dengan IQ Tinggi dari Gaya Berpakaian Menurut Psikologi

Mom's Life Natasha Ardiah

Cerita Bayi Tabung Pertama di AS

Kehamilan Angella Delvie Mayninentha & Sandra Odilifia

Kisah Hikaru Fujita, Jadi Sorotan karena Umumkan Kehamilan di Tengah Arena Pemilu Jepang

Kehamilan Amrikh Palupi

11 Ciri Kepribadian Anak Dibesarkan Orang Tua yang Lebih Banyak Mendengar daripada Bicara

Parenting Nadhifa Fitrina

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

7 Resep Minuman Bunga Telang yang Punya Banyak Manfaat!

Thames Town, Kota Unik di Asia yang Semua Bangunannya Dibuat Mirip Inggris

Cerita Bayi Tabung Pertama di AS

Kisah Hikaru Fujita, Jadi Sorotan karena Umumkan Kehamilan di Tengah Arena Pemilu Jepang

11 Ciri Kepribadian Anak Dibesarkan Orang Tua yang Lebih Banyak Mendengar daripada Bicara

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK