MOM'S LIFE
Psikolog Soroti Pikiran "Aku Tak Tahu Siapa Diriku Sebenarnya", Ini yang Perlu Dipahami
Natasha Ardiah | HaiBunda
Senin, 13 Apr 2026 15:50 WIBTak sedikit orang yang pernah merasa bingung dengan jati dirinya sendiri. Pikiran seperti “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” sering kali muncul tanpa disadari dan membuat hati terasa gelisah.
Bunda mungkin pernah melihat anak, pasangan, atau bahkan diri sendiri berada di fase ini. Saat kalimat “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya”, kemudian terlintas rasa ragu, cemas, hingga kehilangan arah sangatlah wajar jika muncul.
Lalu, apa sebenarnya makna di balik pikiran “Aku Tak Tahu Siapa Diriku Sebenarnya" tersebut menurut psikolog? Yuk, pahami lebih dalam agar Bunda bisa menyikapinya dengan bijak dan membentuk rasa percaya diri yang lebih kuat.
Apa arti pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” menurut psikolog?
Mengutip dari laman Verywell Mind, pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” dalam dunia psikologi biasanya merujuk pada lemahnya sense of identity atau identitas diri. Seorang psikolog dan penulis buku berjudul Everything Psychology Book, Kendra Cherry, MSEd., mengatakan bahwa kondisi ini membuat seseorang bisa merasa tidak benar-benar mengenal dirinya sendiri secara utuh.
Ketika seseorang mengalami hal seperti ini, mereka akan merasa seperti terus berubah mengikuti situasi atau orang lain. Akibatnya, muncul rasa kebingungan tentang nilai, tujuan, hingga keinginan pada dirinya sendiri.
Menurut teori seorang psikoanalis dan psikolog perkembangan, Erik Erikson, masa remaja adalah fase penting dalam pembentukan identitas. Ia menyebut tahap ini sebagai identity vs role confusion, yaitu konflik antara menemukan jati diri atau justru merasa bingung pada diri sendiri.
Sementara itu, seorang psikolog lainnya, James Marcia, menjelaskan bahwa identitas terbentuk dari dua proses utama, yaitu eksplorasi dan komitmen. Tanpa keduanya, seseorang lebih mudah merasa kehilangan arah dalam hidup.
Itulah mengapa pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” bukan sekadar perasaan biasa. Ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang berada dalam fase pencarian jati diri yang penting dalam hidupnya.
Penyebab munculnya perasaan “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya”
Pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” sering kali berakar dari pengalaman hidup sejak kecil. Lingkungan yang kurang mendukung dapat membuat seseorang jadi kesulitan untuk membentuk identitas diri yang kuat.
Seseorang yang tumbuh dengan dukungan, kasih sayang, dan dorongan akan cenderung memiliki jati diri yang lebih jelas. Sebaliknya, pengalaman seperti diabaikan atau dikontrol berlebihan bisa menghambat proses ini.
Selain itu, interaksi dengan orang lain juga sangat memengaruhi cara seseorang dalam melihat dirinya sendiri. Tekanan sosial bahkan bisa membuat seseorang terus berubah hanya untuk diterima di masyarakat.
Dalam beberapa kasus, pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” juga bisa muncul saat seseorang mengalami krisis identitas. Kondisi ini membuat seseorang mempertanyakan siapa dirinya sendiri dan apa arah hidupnya.
Tak hanya itu, kondisi kesehatan mental seperti borderline personality disorder atau post-traumatic stress disorder juga dapat berperan. Hal ini membuat perasaan kehilangan jati diri menjadi lebih intens dan berulang.
Cara memahami diri sendiri saat merasa “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya”
Saat pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” muncul, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mulai mengenal diri sendiri secara perlahan. Salah satunya dengan mengeksplorasi hal-hal yang disukai dan dianggap penting.
Menulis atau membuat jurnal tentang diri sendiri bisa menjadi cara efektif untuk memahami diri secara lebih dalam. Mulai dari sini, Bunda dapat melihat pola minat, pengalaman, dan hal-hal lainnya yang membuat Bunda merasa lebih hidup.
Selain itu, memahami nilai hidup juga sangat penting dalam proses ini. Nilai-nilai seperti kejujuran, rasa empati, atau tanggung jawab dapat menjadi dasar dalam membentuk identitas diri.
Menghabiskan waktu untuk diri sendiri juga bukan hal yang buruk. Justru, momen ini bisa membantu Bunda untuk lebih jujur terhadap pikiran dan perasaannya tanpa pengaruh orang lain.
Tak kalah penting, mencoba hal baru dan belajar mempercayai intuisi diri sendiri juga dapat membantu memperkuat jati diri. Dengan begitu, pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” perlahan bisa berubah menjadi pemahaman diri yang lebih jelas.
Kapan harus mencari bantuan saat pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” muncul?
Jika pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” mulai menimbulkan tekanan emosional pada diri sendiri, hal ini tentu saja tidak boleh diabaikan. Terutama jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan hubungan sosial di masyarakat.
Dalam kondisi seperti ini, berbicara dengan para psikolog dan ahli kesehatan mental lainnya bisa menjadi langkah penting, Bunda. Terapis dapat membantu memahami akar masalah dan membangun kembali identitas diri secara sehat.
Melalui terapi, seseorang bisa belajar bagaimana identitas bisa memengaruhi keputusan dan hubungan dalam hidupnya. Proses ini juga membantu meningkatkan kesadaran diri secara bertahap.
Beberapa gangguan seperti disosiatif atau trauma juga bisa terkait dengan kebingungan identitas. Oleh karena itu, penanganan yang tepat sangat diperlukan agar kondisi tidak semakin parah.
Pada akhirnya, merasa “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” bukanlah tanda kelemahan. Justru, hal ini bisa menjadi awal perjalanan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam lagi dan membangun kehidupan yang lebih bermakna.
Bunda, itulah penjelasan tentang pikiran “Aku tak tahu siapa diriku sebenarnya” yang penting untuk dipahami agar tidak berlarut dalam kebingungan diri sendiri. Semoga Bunda bisa semakin bijak dalam menyikapi perasaan ini dan mampu menemukan jati diri dengan lebih tenang dan penuh keyakinan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)