MOM'S LIFE
Mengenal 'Emotional Salary', Cara Baru Perusahaan Atasi Karyawan yang Tidak Semangat Kerja
Arina Yulistara | HaiBunda
Jumat, 24 Apr 2026 21:10 WIBBanyak karyawan menjadi kurang semangat kerja setelah kehadiran AI. Untuk mengatasinya, tak sedikit perusahaan menerapkan emotional salary. Apa itu? Mari bahas di sini, Bunda.
Fenomena menurunnya semangat kerja karyawan menjadi tantangan yang semakin sering dihadapi perusahaan modern. Tak sedikit pekerja merasa jenuh, kehilangan motivasi, hingga mempertanyakan makna pekerjaannya.
Di tengah kondisi ini, muncul konsep bernama emotional salary atau 'gaji emosional', sebuah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada kompensasi finansial, tapi juga pada kepuasan batin, hubungan kerja, dan makna dalam pekerjaan. Pendekatan ini dinilai menjadi solusi efektif untuk meningkatkan keterlibatan dan produktivitas karyawan di era kerja yang terus berubah.
Bagaimana metode emotional salary bekerja pada karyawan? Mari bahas lebih lanjut, Bunda.
Mengenal emotional salary
Salah satu contoh menarik yang bisa menggambarkan apa itu emotional salary datang dari perjalanan karier Nick Holmes. Pada usia 21 tahun, ia bekerja di London Aquarium sebagai penjual foto di bagian souvenir.
Tanpa disadari, ia memiliki bakat alami dalam penjualan hingga berhasil memecahkan rekor, dipromosikan, bahkan dipercaya mengembangkan pelatihan untuk puluhan karyawan. Berbekal pencarian mandiri melalui internet serta latar belakang akting, Holmes menciptakan metode pelatihan yang interaktif dan efektif.
Kesuksesan tersebut mengantarkannya naik hingga posisi Global Head of Learning & Development. Bertahun-tahun kemudian, saat menempuh studi doktoral di bidang SDM dan budaya organisasi, Holmes menyadari bahwa kunci keberhasilannya adalah emotional intelligence (EQ).
“Saat melakukan riset, saya belajar tentang kecerdasan emosional dan saya menyadari bahwa inilah keterampilan yang membuat saya berhasil di usia 21 tahun. Hanya saja, saat itu saya belum tahu istilahnya adalah EQ,” ujar Holmes dilansir dari Forbes.
Penelitian pun menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki kaitan erat dengan peningkatan gaji dan kinerja kerja. Hal ini menjadi dasar penting dalam konsep emotional salary, di mana kesejahteraan emosional karyawan dipandang sebagai imbalan yang sama berharganya dengan uang.
Peran EQ dalam kepemimpinan
Menurut Holmes, banyak perusahaan melakukan kesalahan yang sama, yakni mempromosikan karyawan berprestasi tanpa membekali mereka dengan kemampuan memimpin. Akibatnya, banyak manajer baru yang hanya meniru gaya atasan sebelumnya tanpa pemahaman mendalam.
“Riset menunjukkan bahwa sebagian besar manajer baru tidak pernah mendapatkan pelatihan manajerial yang memadai. Jadi mereka hanya meniru apa yang dilakukan atasan mereka, dan itu tidak cukup,” ujar Holmes.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia bersama timnya merancang Manager Impact Program (MIP), sebuah program berbasis kecerdasan emosional. Program ini menekankan bahwa sebelum memimpin orang lain, seorang manajer harus memahami dirinya sendiri.
“EQ dimulai dari wawasan dan kesadaran diri. Jika Anda tidak memahami bagaimana Anda hadir di hadapan orang lain, Anda tidak bisa membangun hubungan yang efektif,” tambahnya.
Program ini mencakup empat modul utama, mulai dari pemahaman diri, menciptakan lingkungan kerja yang mendukung performa, komunikasi yang berani namun empatik, hingga penerapan berkelanjutan dalam evaluasi kerja.
Budaya kerja yang dinamis
Holmes memandang budaya organisasi sebagai sesuatu yang dinamis, bukan statis. Ia mengembangkan kerangka kerja bernama Maps, Wires, Patterns, and Sparks untuk membantu perusahaan menciptakan pengalaman belajar yang berkesan.
Menurutnya, pelatihan yang efektif harus mampu membekas secara emosional. Jika tidak ada yang berkesan, maka akan mudah dilupakan.
Ia menambahkan, “Kita mengingat apa yang kita rasakan. Resonansi emosional itulah yang membuat perilaku baru bertahan lebih lama.”
Pendekatan ini sejalan dengan konsep emotional salary, di mana pengalaman kerja yang bermakna dan hubungan interpersonal yang sehat menjadi faktor penting dalam mempertahankan karyawan.
Peran AI dan networking
Di era kecerdasan buatan (AI), Holmes juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara teknologi dan peran manusia dalam memperluas jaringan. Ia menilai AI seharusnya digunakan untuk mengurangi beban administratif, bukan menggantikan interaksi sesama manusia.
“Penggunaan AI seharusnya membebaskan waktu untuk koneksi satu lawan satu. Banyak orang stres karena pekerjaan administratif padahal mereka ingin fokus pada hal yang mereka sukai,” tuturnya.
Ia mengingatkan agar kreativitas dan proses berpikir tetap menjadi ranah manusia. “Kita tidak boleh membiarkan AI mengambil alih hal-hal yang kita cintai—seperti berpikir dan berkreasi,” tambahnya lagi.
Emotional salary jadi kunci kesuksesan
Konsep emotional salary kini semakin relevan, terutama di tengah perubahan pola kerja dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental. Perusahaan yang mampu memberikan pengalaman kerja positif, kesempatan berkembang, serta hubungan tim yang suportif cenderung memiliki karyawan lebih loyal dan produktif.
Bagi para pimpinan HR dan SDM, pendekatan ini memberikan pelajaran penting yakni fokus tidak hanya pada angka, tapi juga pada manusia di baliknya. Pelatihan berbasis pengalaman, penguatan kecerdasan emosional, serta pemanfaatan teknologi secara bijak menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.
“Hanya melalui pengalaman, Anda bisa mengembangkan EQ. Dan ketika Anda sudah melihatnya, Anda tidak akan bisa mengabaikannya lagi," ujar Holmes.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)Simak video di bawah ini, Bun:
Alasan Pekerja Perempuan Paling Banyak Kehilangan Pekerjaan
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Karyawan dengan Skill AI Digaji Lebih Tinggi? Ini Faktanya
5 Manfaat Slip Gaji, Salah Satunya untuk Pengajuan Visa
Gaji Pekerja di Asia Tenggara 2025 Diperkirakan Naik, Negara Mana yang Tertinggi?
5 Tips Nego Gaji untuk Bunda yang Pemalu & Overthinking
TERPOPULER
Sosok Wang Hong, Peraih Penghargaan Matematika Tertinggi yang Punya Gaya Tak Biasa
Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027 Ditetapkan, Cek Daftar Tanggal Merah hingga Long Weekend
3 Resep Rendang Jengkol Empuk dan Tidak Bau, Bumbunya Meresap Sempurna
Sosok Christina Pusporini Messakh, Istri Menkeu Baru Suahasil Nazara yang Gantikan Purbaya
Keseruan Geng Mona Ratuliu hingga Meisya Siregar Girls Trip ke Bandung
REKOMENDASI PRODUK
10 Rekomendasi Food Processor Terbaik & Kelebihannya Dibanding Blender
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lip Product dalam Kemasan Squeeze Tube yang Praktis Digunakan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Air Purifier dengan HEPA Filter, Jaga Kualitas Udara dalam Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
7 Rekomendasi Mini Vacuum Cleaner, Ukuran Kecil tapi Daya Isap Kuat
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
Waspada Abu Vulkanik, Ini 5 Barang Sebaiknya Dimiliki di Rumah untuk Lindungi Keluarga
Amira SalsabilaTERBARU DARI HAIBUNDA
Janin Berukuran Kecil saat Lahir Bikin Prestasi Akademiknya Lebih Rendah di Masa Depan, Benarkah?
3 Resep Rendang Jengkol Empuk dan Tidak Bau, Bumbunya Meresap Sempurna
Sosok Wang Hong, Peraih Penghargaan Matematika Tertinggi yang Punya Gaya Tak Biasa
Ragam Tarian Tradisional dari Tiap Provinsi di Indonesia untuk Dipelajari Anak Sekolah
Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2027 Ditetapkan, Cek Daftar Tanggal Merah hingga Long Weekend
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Bibir Kering Susah Pakai Lipstik Cream? Ini Cara Pilih Berdasarkan Formulanya
-
Beautynesia
5 Tanda Social Battery Habis yang Sering Dilakukan Tanpa Disadari
-
Female Daily
Lagi Suka Nonton Drama China? Ini Deretan Judul yang Populer dan Viral, Ada The Early Spring!
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
Foto: Worst Dressed Emmy Awards 2026, Bintang Hacks Cosplay Jadi Piala Emas
-
Mommies Daily
Kontrasepsi Setelah Melahirkan: Kapan Bisa Dimulai dan Mana yang Aman untuk Ibu Menyusui?