moms-life
Bukan Lagi Pakai CV, Cara Baru Cari Pekerja Ini Mulai Dipakai Banyak Perusahaan
HaiBunda
Jumat, 17 Apr 2026 17:10 WIB
Daftar Isi
Banyak perusahaan mencari pekerja tidak lagi melihat dari CV mereka. Lalu bagaimana caranya? Mari simak tren cari pekerja yang kini telah dipakai banyak perusahaan.
Dunia kerja tengah mengalami perubahan besar. Jika dahulu curriculum vitae (CV) menjadi 'tiket utama' untuk melamar pekerjaan, kini perannya mulai tergeser. Banyak perusahaan tak lagi menjadikan CV sebagai penentu utama dalam proses rekrutmen.
Sebaliknya, metode baru yang lebih menekankan kemampuan nyata kandidat mulai banyak diterapkan. Fenomena ini tidak datang begitu saja.
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara orang membuat CV. Dokumen lamaran yang dulu disusun dengan penuh usaha kini bisa dihasilkan dalam hitungan menit oleh AI, lengkap dengan kata-kata profesional dan format yang rapi.
Hal itulah yang membuat banyak perusahaan tidak sekadar melihat dari CV tapi justru tindakan nyata pencari kerja. Mengutip Business Insider, mari bahas mengenai pergeseran industri yang mulai mencari pekerja yang tidak hanya dari CV mereka.
Cara baru cari pekerja yang mulai dipakai banyak perusahaan
Sekitar satu dekade lalu, kemampuan menulis CV yang menarik menjadi keahlian penting. Bahkan diajarkan secara khusus diberbagai program edukasi bisnis.
Kandidat dilatih untuk membuat CV yang menonjol, unik, dan mudah diingat oleh perekrut. Namun kondisi itu kini berubah drastis.
Dengan bantuan AI, hampir semua pelamar dapat menghasilkan CV yang terlihat profesional dan 'sempurna'. Akibatnya, perekrut justru kesulitan membedakan mana kandidat yang benar-benar unggul.
Banjir CV yang seragam dan dioptimalkan dengan kata kunci membuat banyak manajer perekrutan mulai mengabaikan dokumen tersebut. Mereka menilai CV tidak lagi mampu merepresentasikan kemampuan asli seseorang.
Perusahaan beralih ke cara baru
Sebagai gantinya, perusahaan kini mulai mengandalkan metode lain untuk menyaring kandidat. Platform profesional seperti LinkedIn serta rekomendasi dari jaringan internal menjadi lebih penting dalam proses seleksi awal.
Perubahan paling signifikan terletak pada cara perusahaan menilai kemampuan pelamar. Fokus kini bergeser dari 'apa yang tertulis di kertas' menjadi 'hal yang bisa dilakukan secara nyata'.
Tren baru: job tryout
Metode yang semakin populer adalah job tryout atau uji coba kerja. Dalam skema ini, kandidat diminta membuktikan kemampuannya secara langsung, baik melalui tes praktik, simulasi pekerjaan, hingga masa percobaan singkat di kantor.
Durasi uji coba ini bervariasi, mulai dari beberapa jam, hitungan hari, hingga satu minggu penuh. Selama periode tersebut, perusahaan dapat menilai berbagai aspek penting, seperti kemampuan teknis kandidat, ara bekerja dalam tim, pola komunikasi di lingkungan kerja, hingga kemampuan beradaptasi dengan tugas dan tekanan.
Tak hanya itu, perusahaan juga kini menilai bagaimana kandidat menggunakan teknologi AI dalam pekerjaan sehari-hari. Di banyak perusahaan, kemampuan memanfaatkan AI bahkan mulai dikaitkan dengan penilaian kinerja dan bonus.
Kandidat lebih diuntungkan
Meski terlihat lebih menantang, metode ini sebenarnya juga memberi keuntungan bagi pencari kerja. Mereka tidak hanya dinilai, tapi juga bisa menilai perusahaan secara langsung.
Melalui uji coba kerja, Bunda dapat memahami budaya kerja, gaya kepemimpinan atasan, serta dinamika tim yang akan dihadapi. Hal ini membantu menentukan apakah posisi dan perusahaan tersebut benar-benar cocok?
Dengan kata lain, proses rekrutmen kini menjadi lebih dua arah, tidak hanya perusahaan yang memilih kandidat, tapi pencari kerja juga memilih perusahaan.
Era baru mencari kerja
Perubahan ini menandai pergeseran besar dalam dunia kerja modern. CV yang selama puluhan tahun menjadi standar kini mulai kehilangan relevansi, digantikan oleh pendekatan yang lebih praktis dan berbasis performa.
Ke depannya, pencari kerja dituntut untuk lebih dari sekadar 'terlihat bagus di atas kertas'. Mereka harus mampu menunjukkan keterampilan nyata, berpikir adaptif, serta memanfaatkan teknologi secara efektif.
Bahkan muncul tren baru di kalangan profesional untuk menggunakan pendekatan kreatif, seperti membangun portofolio digital, proyek nyata, hingga sistem pencarian kerja berbasis AI untuk menemukan peluang yang sesuai.
Jadi, cara mendapatkan pekerjaan tidak lagi sama seperti dahulu. Di era baru ini, kemampuan berbicara lewat aksi jauh lebih penting daripada sekadar menulis CV.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
11 Skill Ibu Rumah Tangga yang Bisa Bunda Cantumkan di CV
Mom's Life
Ketahui Perbedaan Surat Lamaran dan CV, Jangan Sampai Keliru
Mom's Life
10 Keahlian Pekerja yang Wajib Dicantumkan di CV Menurut LinkedIn
Mom's Life
7 Tips Karier untuk Fresh Graduate, Bikin CV hingga Persiapan Interview Kerja
Mom's Life
3 Kata yang Harus Dihindari di CV saat Melamar Kerja Menurut HRD Google
Mom's Life
11 Skill Ibu Rumah Tangga yang Berguna untuk Karier Profesional, Bisa Dicantumkan di CV
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
Benarkah Ancaman PHK Membuat Orang Bekerja Lebih Keras? Ini Penjelasan Ahli
Rekrutmen BPJS Ketenagakerjaan 2026 Terbaru, Ini Cara Mendaftarnya
10 Pekerjaan dengan Gaji Tinggi di 2026 untuk Fresh Graduate