Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Pernah Kena Cacar Air? Waspada Berkembang Jadi Cacar Api Ya, Bun

Annisa Karnesyia   |   HaiBunda

Kamis, 30 Apr 2026 20:40 WIB

Ilustrasi Cacar Monyet
Ilustrasi Cacar Api / Foto: Getty Images/iStockphoto/Marina Demidiuk
Daftar Isi
Jakarta -

Cacar api merupakan kondisi medis yang ditandai dengan munculnya ruam di kulit dan rasa nyeri hebat. Tak banyak yang tahu, seseorang yang pernah mengalami cacar air ternyata bisa berisiko lebih tinggi terkena cacar api.

Ya, cacar api dan cacar air disebabkan oleh virus yang sama, yakni Varicella zoster. Setelah seseorang sembuh dari cacar air, virus tidak serta-merta hilang dari dalam tubuh. Virus akan menetap di dalam tubuh dan bersembunyi di dalam sistem saraf.

"Cacar api ini asalnya dari virus penyebab cacar air. Ketika seseorang sudah pulih dari cacar air, virusnya tidak hilang, tapi tertidur di ujung saraf. Ketika imunitas tubuh turun, virus ini bisa aktif kembali," kata Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr. dr. Vito A.Damay, SpJP(K), MKes, AIFO-K, FIHA, FICA, FAsCC.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Perjalanan penyakit cacar api dapat bervariasi, Bunda. Penyakit dapat segera sembuh atau pasien dapat mengalami komplikasi jangka panjang, seperti neuralgia pasca herpes (NPH).

Cacar api dapat menyebabkan ruam di kulit berupa munculnya lepuhan berisi cairan. Meski luka dari lepuhan telah mengering, nyeri dapat menetap dalam jangka waktu lama.

"Lenting (lepuhan) mungkin berubah luka dan mengeras, baru cacar hilang. Tapi nyeri bisa bertahan. Dampaknya bahkan lebih dari sekedar nyeri. Tapi bisa mengganggu kehidupan dan aktivitas pekerjaan, hingga memengaruhi waktu berkualitas dengan keluarga," ujar Vito, dalam Press Conference Shingles Action Week 2026 'Cegah Cacar Api Tanpa Tapi', di Jakarta Selatan, belum lama ini.

Gejala cacar api

Cacar api memiliki gejala yang cukup khas, Bunda. Beberapa orang dengan penyakit ini sering mengeluhkan nyeri yang intens di sebelah badan.

Rasa sakit ini bisa berlangsung selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Sebagian perempuan bahkan mengatakan bahwa rasa sakitnya lebih menyakitkan dari nyeri melahirkan.

Data survei global yang dilakukan oleh GSK Indonesia menyampaikan bahwa 42 persen orang yang pernah mengalami cacar api mengalami nyeri berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari, dan 33 persen menyebut penyakit ini mengganggu aktivitas dan produktivitas harian.

Tahapan cacar api dari muncul hingga sembuh

Berikut beberapa tahapan dalam cacar dari dari awal muncul hingga sembuh:

  • Tahap awal (0-3 hari): seseorang bisa mengalami nyeri, gatal, sakit kepala, dan gejala lainnya
  • Tahap ruam (4-8 hari): gejala dapat berupa ruam di kulit, muncul lepuhan berisi cairan, dan nyeri di separuh tubuh
  • Tahap penyembuhan (2-4 minggu): lepuh yang ada kulit akan berkerak
  • Tahap kronis (bulan hingga tahunan): Perkembangan komplikasi jangka panjang pada beberapa individu, khususnya mereka yang mengalami NPH.

Komplikasi cacar api

Ada beberapa komplikasi dari cacar api yang dapat dialami seseorang, yakni:

1. Neuralgia pasca herpes (NPH)

Nyeri hebat yang dapat berlanjut hingga bertahun-tahun. Ini menjadi komplikasi paling umum pada pasien cacar api.

2. Gangguan mata

Cacar api juga dapat menyerang bagian mata dan sekitarnya. Pada kondisi yang serius, dampak cacar bisa menyebabkan kebutaan. Kasus gangguan mata karena cacar api seridaknya terjadi pada 10 hingga 20 persen pasien.

3. Stroke dan serangan jantung

Cacar api dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke dan serangan jantung, Bunda.

4. Masalah pendengaran

Cacar api juga bisa menyebabkan komplikasi yang berhubungan dengan masalah pendengaran dan kesimbangan terganggu. Beberapa jenis gangguan ini seperti vertigo, tinitus, nyeri wajah yang parah, kelumpuhan wajah (Ramsay Hunt Syndrome).

Siapa yang berisiko terkena cacar api?

Setidaknya 1 dari 3 orang berisiko mengalami cacar api dalam hidupnya, termasuk orang yang pernah terkena cacar air. Selain itu, cacar api juga rentan dialami oleh orang berusia di atas 18 tahun dengan kondisi imun yang rendah (imunokompromais), dan mereka yang berusia di atas 50 tahun.

Studi klinis menunjukkan bahwa sejumlah penyakit kronis dapat meningkatkan risiko terkena cacar api. Berikut beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko cacar api:

  • Kondisi paru kronis (PPOK, asma, dan lainnya), berisiko 30 persen lebih tinggi
  • Riwayat cacar api pada keluarga, berisiko 2,4 kali lebih tinggi
  • Mengidap kanker, berisiko 2 kali lebih tinggi
  • Memiliki penyakit kardiovaskuler, berisiko 34 persen lebih tinggi
  • Mengidap kondisi dermatitis atopik, berisiko 29 persen lebih tinggi
  • Mengidap diabetes, berisiko 38 persen lebih tinggi
  • Psoriasis atau penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada kulit, berisiko 61 persen lebih tinggi
  • Orang yang mengalami stres juga berisiko 47 persen lebih tinggi terkena cacar api.

Pencegahan cacar api

Cacar api dapat dicegah, Bunda. Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI), Dr. Ade Meidian Ambari, Sp. JP(K), PhD, mengatakan beberapa pencegahan terkait cacar api, termasuk menjalani gaya hidup sehat.

"Sistem imun tubuh yang baik itu tergantung dengan gaya hidup. Misalnya, rutin olahraga, tidur cukup 6-7 jam, mengelola stres, konsumsi makanan bergizi seperti makan banyak ikan, sayuran, dan buah. Konsumsi suplemen juga boleh, tapi dosisnya tidak berlebihan," ungkap Ade.

Selain gaya hidup sehat, Ade juga menekankan pentingnya vaksinasi untuk mencegah cacar api. Vaksinasi bisa memperkuat sistem imun sehingga virus penyebab cacar api tidak aktif kembali.

"Dari vaksinasi ini, kita mendapatkan kekebalan tubuh terhadap satu penyakit. Vaksinasi bahkan sekarang sudah masuk preventif untuk pasien dengan penyakit kardiovaskuler," ungkap Ade.

"Saran saya, untuk populasi berisiko tinggi bisa melakukan gaya hidup sehat dan vaksinasi untuk pencegahan cacar api," sambungnya.

Pemberian vaksinasi untuk mencegah cacar api dapat dikonsultasikan ke dokter ya, Bunda. Pemberian vaksin dapat menyesuaikan kondisi kesehatan, termasuk ada atau tidaknya penyakit penyerta.

Demikian penjelasan tentang cacar api dan cara mencegahnya menurut dokter. Semoga informasi ini bermanfaat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

ADVERTISEMENT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda