moms-life
Ingin Cepat Dapat Kerja? Pakar Sebut Kesediaan WFO Bisa Jadi Nilai Tambah
HaiBunda
Rabu, 10 Jun 2026 20:40 WIB
Daftar Isi
Banyak perusahaan yang kini menerapkan sistem hybrid. Namun untuk Bunda yang ingin cepat dapat kerja, pakar menyebut kesediaan untuk work from office (WFO) bisa menjadi nilai tambah.
Di tengah persaingan pasar kerja yang semakin ketat, terutama bagi lulusan baru dan pekerja muda, fleksibilitas dalam memilih sistem kerja ternyata dapat menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang diterima bekerja. Ketika banyak pencari kerja lebih memilih sistem hybrid atau bekerja dari rumah, kesediaan untuk hadir penuh di kantor justru bisa menjadi nilai tambah di mata perusahaan.
Mengutip Market Watch, penemuan terbaru dari para peneliti di Federal Reserve Bank of New York menunjukkan bahwa meningkatnya tren kerja jarak jauh dan hybrid sejak pandemi turut menyulitkan pekerja muda dalam memasuki dunia kerja. Kondisi ini menjadi perhatian di tengah maraknya pembahasan mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja generasi muda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk itu, kalau Bunda atau punya anak fresh graduate mungkin bisa mencoba 'menambahkan' kesediaan diri bekerja penuh di kantor jika ingin segera dapat pekerjaan. Hal ini dinilai bisa membuka peluang lebih besar agar cepat dapat kerja.
Sistem hybrid dinilai hambat calon pekerja diterima kerja
Berdasarkan penelitian di atas, sekitar 64 persen kenaikan tingkat pengangguran pekerja muda sejak pandemi berkaitan dengan meningkatnya praktik kerja jarak jauh. Para peneliti menulis bahwa waktu terjadinya lonjakan ini menunjukkan bahwa kerja jarak jauh, bukan AI, menjadi sebagian besar alasan kenaikan pengangguran kaum muda.
Sebelum pandemi, tingkat pengangguran pekerja berusia di bawah 29 tahun rata-rata sedikit di atas 3 persen pada periode 2017 hingga 2019. Namun pada rentang 2022 hingga 2025, angka tersebut meningkat menjadi 3,7 persen.
Data Federal Reserve Bank of New York bahkan menunjukkan tingkat pengangguran pekerja usia 22 hingga 27 tahun mencapai 7,2 persen pada Maret, naik dibandingkan 6,1 persen pada Februari 2020 sebelum pandemi meluas. Meski demikian, sistem kerja hybrid tetap menjadi pilihan favorit bagi banyak pekerja muda.
Survei Gallup menemukan bahwa 71 persen pekerja generasi Z lebih menyukai pola kerja hybrid. Menariknya, generasi ini juga tidak sepenuhnya menginginkan bekerja dari rumah. Banyak dari mereka lebih memilih kombinasi dua hingga tiga hari bekerja di kantor dan sisanya dari rumah.
Perusahaan lebih tertarik terhadap karyawan yang bersedia full WFO
Para peneliti New York Fed menilai perusahaan cenderung lebih berhati-hati merekrut lulusan baru untuk posisi yang minim interaksi langsung. Menurut mereka, perusahaan menghadapi tantangan lebih besar dalam mengajarkan keterampilan dasar pekerjaan kepada karyawan baru jika proses pembelajaran dilakukan dari jarak jauh.
Analisis terhadap pola perekrutan di salah satu perusahaan Fortune 500 menunjukkan bahwa kebijakan kembali bekerja penuh dari kantor memungkinkan perusahaan memberikan mentoring secara langsung dan tetap merekrut lebih banyak pekerja muda setelah pandemi. Temuan ini mengindikasikan bahwa kehadiran fisik di kantor masih memiliki peran penting dalam pengembangan karier tahap awal.
Meski begitu, ekonom Universitas Stanford, Nick Bloom, mengingatkan bahwa manfaat sistem kerja hybrid juga tidak boleh diabaikan. Ia menilai fleksibilitas bekerja dari rumah telah membantu banyak kelompok pekerja, termasuk penyandang disabilitas, orangtua dengan anak kecil, serta mereka yang memiliki waktu tempuh perjalanan kerja yang panjang.
“Untuk kebijakan ketenagakerjaan, saya rasa kita tidak boleh hanya berfokus pada satu kelompok, lulusan perguruan tinggi saja, dan mengabaikan kelompok lainnya,” kata Bloom kepada MarketWatch.
Kesediaan kerja full di kantor bisa kurangi persaingan pelamar
Di sisi lain, sejumlah pelatih karier melihat peluang tersendiri bagi pencari kerja yang bersedia bekerja penuh di kantor. Pendiri Danzger Group, Neil Danzger, mengatakan bahwa posisi yang mewajibkan kehadiran penuh di kantor biasanya menarik lebih sedikit pelamar.
“Jika itu benar, pencari kerja yang terbuka terhadap peluang tersebut mungkin menghadapi persaingan lebih rendah karena mereka mempertimbangkan pekerjaan yang sudah dikesampingkan oleh kandidat lain,” ujar Danzger.
Danzger juga mendorong pekerja muda yang berada dalam skema hybrid untuk lebih sering datang ke kantor guna memaksimalkan kesempatan belajar dan membangun relasi profesional. Pendapat serupa disampaikan oleh pendiri MTV Coaching, Michelle Perchuk.
Menurutnya, kehadiran langsung di kantor membantu pekerja baru mengembangkan kemampuan membangun jaringan, komunikasi, dan etika profesional yang sangat penting untuk jenjang karier berikutnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Mom's Life
5 Kebiasaan di Kantor yang Bikin Kerja Tak Produktif, Kerjaan Jadi Lama Selesai
Mom's Life
10 Cara Bisa Bahagia di Tempat Kerja, Biar Pulang ke Rumah Enggak Ngomel Bun
Mom's Life
5 Tips Agar Tak Didiskriminasi saat Jadi Perempuan Satu-satunya di Tempat Kerja
Mom's Life
Prediksi Zodiak Hari Ini, Wah Ada Tawaran Proyek Menarik Nih Buat Aries
Mom's Life
Catat Bun, Ini 5 Pertanyaan yang Bisa Diajukan ke HRD saat Wawancara Kerja
Mom's Life
5 Tips Tetap Produktif Saat WFO Kala Pandemi, Utamakan Kesehatan
HIGHLIGHT
REKOMENDASI PRODUK
INFOGRAFIS
KOMIK BUNDA
FOTO
Fase Bunda
10 Arti di Balik Karyawan yang Diam Saat Meeting, Jangan Langsung Dianggap Tak Peduli
Kenali Lily Padding, Strategi Karier Gen Z agar Cepat Naik Level & Berkembang
10 Tren Dunia Kerja 2026 yang Wajib Diketahui Fresh Graduate