MOM'S LIFE
Dua Lipa Bikin 'Manifesto Library', Perpustakaan yang Hidupkan lagi Buku-Buku Terlarang
Nadhifa Fitrina | HaiBunda
Kamis, 02 Jul 2026 17:30 WIBSebagai seorang musisi, Dua Lipa tidak hanya dikenal lewat kecintaannya pada musik, tetapi juga ketertarikannya terhadap dunia membaca. Rasa cintanya pada literasi itu kemudian ia wujudkan dengan mendirikan sebuah perpustakaan yang bernama Manifesto Library.
Tempat yang berlokasi di Portugal ini berisi koleksi buku yang pernah dilarang atau disensor di berbagai negara. Mengutip dari People, perpustakaan tersebut dibuka pada 27 Juni 2026 sebagai bagian dari festival sastra BABELL, City of Books.
Berlokasi di Livraria Lello, Porto, ruang ini menghadirkan buku-buku bertema kekuasaan, suara, hingga ingatan. Bukan sebuah kebetulan, ini merupakan kelanjutan dari perjalanan Dua Lipa di dunia literasi setelah mendirikan Service95, sekitar tiga tahun lalu.
Klub buku tersebut dikenal menghadirkan rekomendasi bacaan dari berbagai perspektif global. Kini, melalui Manifesto Library, Pelantun lagu Levitating itu mewujudkan ruang baca fisik yang bisa diakses lebih luas, Bunda.
Dua Lipa hadirkan Manifesto Library untuk rayakan kebebasan membaca
Dalam sebuah pengumuman, Manifesto Library disebut lahir dari keyakinan bahwa penyensoran buku bukan hanya soal cerita yang hilang. Ini juga bisa membatasi hak untuk bertanya, membayangkan, dan memahami dunia dengan lebih luas.
"Manifesto Library lahir dari keyakinan bahwa lebih dari sekadar cerita yang hilang ketika sebuah buku disensor. Larangan ini, yang sering kali tidak diucapkan, membatasi hak untuk mempertanyakan, membayangkan, dan memahami dunia," demikian pengumuman tersebut, dikutip dari People.
Perpustakaan ini dibangun oleh Livraria Lello dan Service95 Book Club, Bunda. Koleksinya berisi 100 buku kontemporer yang dinilai menantang otoritas dan mendorong pemikiran kritis.
"Dibuat oleh Livraria Lello dan Service95 Book Club, Manifesto Library menyatukan 100 buku kontemporer yang telah menantang otoritas dan terus memprovokasi refleksi tentang kebebasan, identitas, ingatan, dan pemikiran kritis," lanjut pengumuman tersebut.
Dalam sebuah pernyataan, Dua Lipa sempat mengenang awal pendirian Service95 yang ia rancang sebagai ruang untuk penulis dan pembaca. Ia ingin menghadirkan tempat yang bisa diakses siapa pun tanpa adanya batasan.
Saat berbicara lebih lanjut, penyanyi 31 tahun itu menuliskan pandangannya tentang pentingnya membaca.
"Membaca dunia mendekatkan kita, tetapi sayangnya, tidak semua orang menyukai hal itu," tulisnya.
Selain itu, ia juga menyoroti isi dari koleksi buku yang ada di perpustakaan tersebut, Bunda.
"Di sini Anda akan menemukan seratus buku yang mengajukan pertanyaan, atau telah dipertanyakan. Beberapa telah dilarang oleh distrik sekolah karena tema ras atau seksualitas," ujarnya.
Manifesto Library untuk menghidupkan buku-buku yang terlarang
Dua Lipa yang merupakan artis pemenang Grammy Award ini menegaskan bahwa perpustakaan ini dibuat sebagai ruang untuk menghormati buku-buku yang pernah disensor atau dihilangkan.
Ia ingin tempat ini menjadi pengingat bahwa setiap cerita memiliki nilai untuk dibaca, Bunda. Selain itu, Dua Lipa juga ingin memberi ruang bagi pembaca yang tidak mau dibatasi dalam memilih bacaan.
Dua Lipa pun turut mengundang masyarakat untuk datang dan melihat langsung koleksi buku yang ada. Ia ingin setiap pengunjung bisa menilai sendiri nilai dari setiap karya yang dipajang.
"Anda diundang untuk berkunjung dan memutuskan sendiri apa yang pantas berada di rak-rak ini," katanya.
"Karena terkadang hal paling berani yang dapat Anda lakukan adalah membaca buku dan kemudian membicarakannya," pungkasnya.
Itulah ulasan mengenai Dua Lipa yang membuat Manifesto Library, sebuah perpustakaan yang menghidupkan kembali buku-buku yang pernah dilarang.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/pri)