Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Kebiasaan Bicara yang Menandakan Orang Tidak Cerdas Bersosialisasi

Dilla Atqia Rahmah   |   HaiBunda

Sabtu, 15 Aug 2026 07:55 WIB

Ilustrasi Perempuan Sedih
7 Kebiasaan Bicara yang Menandakan Orang Tidak Cerdas Bersosialisasi/ Foto: Getty Images/iStockphoto/silverkblack
Daftar Isi
Jakarta -

Kemampuan bersosialisasi tidak hanya terlihat dari seberapa banyak teman yang dimiliki seseorang, Bunda. Hal ini juga bisa diketahui dari cara ia berkomunikasi dengan orang lain.

Ya, pilihan kata, cara menyampaikan pendapat, hingga respons terhadap lawan bicara dapat menunjukkan seberapa baik seseorang memahami situasi sosial. Tanpa disadari, ada beberapa kalimat yang justru dapat menjadi tanda bahwa seseorang masih kurang cakap dalam membangun hubungan dengan orang lain.

Bagi seseorang yang ingin terlihat lebih terampil dalam bersosialisasi, ada baiknya mengurangi penggunaan frasa-frasa yang bisa mengganggu hubungan dengan orang lain. Simak penjelasannya berikut ini!

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kebiasaan bicara orang tidak cerdas bersosialisasi

Melansir dari beberapa sumber, berikut beberapa kebiasaan bicara dari orang yang tidak cerdas bersosialisasi:

1. Kurangi pengucapan kata "Sebenarnya..."

Ahli etiket dan pembawa acara podcast Were You Raised By Wolves?, Nick Leighton, menyampaikan bahwa sebaiknya ketika seseorang melakukan kesalahan dalam pengucapan kalimat, tidak selalu perlu dikoreksi.

"Ketika seseorang mengacaukan pengucapan kata Prancis, salah mengutip lirik lagu, atau menggunakan tata bahasa yang tidak 100 persen benar, tidak selalu perlu untuk mengoreksi orang dalam percakapan," katanya.

2. Hindari frasa "Bukan masalahku”

Frasa "Bukan masalahku” ini memberi nuansa tidak acuh dan individual. Utamanya dalam situasi ketika seseorang berada dalam forum membahas hal penting, ucapan ini kurang tepat disampaikan. Pelatih kehidupan pribadi dan korporat, Mason Farmani mengibaratkan frasa "Bukan masalah aku" seperti paku di papan tulis bagi sebagian orang.

"Frasa ini memindahkan beban tanggung jawab kepada orang lain dan menandakan kurangnya kemauan untuk membantu, yang bisa membuat Anda terlihat dingin dan mementingkan diri sendiri," ungkap Farmani.

3. Perhatikan pengucapan "Saya hanya jujur"

Ucapan yang mengisyaratkan bahwa seseorang sedang berusaha berkata jujur tentang suatu situasi tidaklah salah. Akan tetapi, Leighton menyarankan untuk menggunakan kejujuran dengan mempertimbangkan perasaan orang lain. Ia tidak menyarankan untuk berbohong, tetapi menggunakan "kejujuran" sebagai alasan untuk bersikap kejam juga bukan bentuk sosial yang baik.

"Etiket yang baik membutuhkan kejujuran dan taktik," kata Leighton. "Perhatikan perasaan orang lain," lanjutnya.

4. Ucapan "Tidak bermaksud menyinggung, tapi..."

Dalam sebuah perdebatan atau perselisihan, kalimat  "Tidak bermaksud menyinggung, tapi...," umum digunakan untuk berusaha meredam emosi. Namun upaya ini seringkali gagal. Farmani berpendapat bahwa ucapan, "Tidak bermaksud menyinggung, tapi..." jarang berhasil meredam dampak perselisihan dan biasanya menghina orang.

5. Kalimat "Kamu selalu/tidak pernah..."

Menurut Farmani, ucapan "Kamu selalu/tidak pernah..." merupakan salah satu contoh frasa yang dilontarkan seseorang dengan kemampuan sosial yang buruk. Ucapan itu terlalu menggeneralisasi perilaku lawan bicara.

"Generalisasi semacam ini tidak proporsional dan tidak adil," kata Farmani.

6. Hindari berkata "Itu bodoh"

Kalimat yang mengindikasikan seseorang tidak cerdas bersosialisasi berikutnya adalah kalimat  "Itu bodoh". Dalam sebuah pertemuan, komentar seperti ini akan membuat sebagian besar orang diam dan tidak ada solusi dari percakapan yang dijalin.

Hal ini sejalan dengan pertanyaan reflektif yang dilontarkan oleh Ahli Etiket Modern sekaligus COO Fresh Starts Registry, Jenny Dreizen, "Ke mana percakapan ini bisa berlanjut setelah ini?"

7. Pengucapan kalimat "Tunggu, tunggu. Aku punya cerita yang lebih baik"

Dalam bersosialisasi, kalimat  "Tunggu, tunggu. Aku punya cerita yang lebih baik" sebaiknya dihindari. Mengungguli seseorang dalam percakapan dengan kalimat ini dapat membuat seseorang tidak ingin melanjutkan percakapan.

Untuk mengatasi hal ini, Dreizen memberi saran agar memberi waktu kepada lawan bicara untuk menyampaikan cerita mereka, tanggapi dengan baik, baru kemudian membagikan cerita yang ingin disampaikan.

"Berikan waktu yang tepat pada cerita mereka, ajukan beberapa pertanyaan dan tertawalah jika perlu. Lalu, kamu bisa membagikan ceritamu atau menyimpannya untuk nanti," kata Dreizen.

Itu dia beberapa ciri seseorang yang tidak cerdas bersosialisasi berdasarkan kalimat yang diucapkannya.

Apabila seseorang ingin belajar meningkatkan keterampilan sosial ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yakni menjadi pengamat dan pendengar yang baik, mengajukan pertanyaan sebagai tanda kita benar-benar memperhatikan, serta percaya kepada lawan bicara ketika ia menceritakan tentang dirinya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda