MOM'S LIFE
Kebiasaan Sederhana Orang yang Punya Mental Kuat Menurut Psikologi
Melly Febrida | HaiBunda
Jumat, 04 Sep 2026 19:10 WIBOrang dengan mental kuat sering dikaitkan dengan pribadi yang selalu tenang, tidak mudah menangis, dan mampu menghadapi berbagai masalah tanpa terlihat goyah. Padahal, orang yang punya mental kuat bukan berarti tidak pernah merasa takut, sedih, marah, atau cemas.
Dalam psikologi, kemampuan untuk tetap beraktivitas dan membuat keputusan sesuai tujuan meski sedang merasakan emosi yang tidak nyaman dapat menjadi salah satu gambaran ketangguhan mental.
Psikolog Nick Wignall menjelaskan, kekuatan mental dan emosional berkaitan dengan kemampuan mengatur respons terhadap pikiran, bukan mengendalikan semua pikiran yang muncul di kepala.
"Kekuatan mental berarti memahami bagian mana dari pikiran Anda yang bisa dikendalikan dan mampu melakukannya dengan baik saat hal itu penting," tulis Wignall, melansir Your Tango.
Seseorang mungkin tidak bisa mencegah rasa khawatir muncul. Namun, ia masih bisa memilih apakah akan terus mengikuti kekhawatiran tersebut atau mengalihkan perhatian pada hal yang lebih berguna.
Pandangan ini sejalan dengan konsep psychological flexibility atau fleksibilitas psikologis.
Dalam sebuah tinjauan penelitian, Todd B. Kashdan dan Jonathan Rottenberg menjelaskan bahwa fleksibilitas psikologis mencakup kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi, mengubah pola pikir atau perilaku ketika diperlukan, serta tetap melakukan hal-hal yang sesuai dengan nilai yang dianggap penting.
Kebiasaan sederhana orang yang punya mental kuat menurut psikologi
Orang yang mentalnya kuat cenderung memilih mengalihkan pikiran dan perhatian ke hal lain yang lebih berguna, ketimbang terus terjebak dalam kritik diri dan rasa malu. Namun, ada beberapa hal dalam pikiran yang memang nggak bisa sepenuhnya dikendalikan.
Bunda mungkin nggak bisa mengendalikan rasa khawatir yang tiba-tiba muncul. Namun, Bunda masih bisa memilih apakah akan terus mengikuti kekhawatiran tersebut atau mengalihkan perhatian ke hal lain.
Dengan kata lain, ketangguhan emosional bukan berarti bisa mengendalikan semua pikiran dan perasaan. Kemampuan ini perlu dilatih agar seseorang lebih mampu mengatur respons ketika menghadapi berbagai situasi.
Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu membangun kekuatan mental dan ketangguhan emosional.
1. Berani mengakui apa yang sedang dirasakan
Salah satu kebiasaan yang sederhana adalah mampu mengenali dan mengakui emosi sendiri. Misalnya, ketika Bunda sedang kecewa usai bertengkar dengan suami, bukan berarti Bunda harus langsung menceritakan masalah tersebut kepada semua orang.
Namun, Bunda bisa mengakui kepada diri sendiri bahwa saat ini sedang merasa kecewa, marah, sedih, atau mungkin campuran dari beberapa emosi sekaligus.
Mengatakan, "Aku sedang kecewa" tentu berbeda dengan berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Kemampuan memberi nama pada emosi juga menjadi perhatian dalam penelitian psikologi. Studi yang diterbitkan di Psychological Science menemukan bahwa ketika seseorang memberi label pada perasaannya dengan kata-kata, respons amigdala terhadap stimulus emosional negatif dapat berkurang. Proses ini dikenal sebagai affect labeling.
Penelitian lain juga menemukan bahwa affect labeling dapat membantu mengurangi pengalaman emosi dalam situasi tertentu, meskipun efeknya tidak selalu sama pada setiap kondisi.
Ini berarti mengenali emosi tidak sama dengan larut di dalamnya. Justru, seseorang sedang belajar memahami apa yang terjadi dalam dirinya sebelum menentukan respons.
Jadi, mental kuat bukan berarti selalu mengatakan, "Aku enggak apa-apa." Terkadang, kalimat yang lebih jujur justru sederhana, seperti, "Aku memang sedang kecewa dan butuh waktu untuk memprosesnya."
2. Tidak terus-menerus hidup di masa lalu atau masa depan
Memiliki kemampuan mengingat masa lalu dan membayangkan masa depan tentu penting. Manusia belajar dari pengalaman, membuat rencana, dan mengantisipasi berbagai kemungkinan.
Masalahnya muncul ketika pikiran terus berputar pada hal yang sudah terjadi atau sibuk membuat berbagai skenario buruk tentang sesuatu yang belum terjadi.
Misalnya, Bunda berulang kali memikirkan kesalahan kecil di tempat kerja sampai malam. Atau, belum menghadapi suatu masalah, tetapi sudah membayangkan puluhan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
Dalam psikologi, pola berpikir yang terus berulang seperti ini antara lain dikenal sebagai rumination ketika pikiran banyak berkutat pada pengalaman atau masalah yang sudah terjadi, dan worry ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran mengenai kemungkinan buruk di masa depan.
Meta-analisis yang diterbitkan dalam Health Psychology membahas berbagai intervensi untuk worry dan rumination.
Peneliti menjelaskan bahwa perseverative cognition, yaitu pola pikiran yang terus-menerus berkutat pada peristiwa yang membuat stres atau kemungkinan ancaman, berkaitan dengan berbagai aspek kesehatan dan perilaku kesehatan.
Untuk itu, orang yang tangguh secara mental bukan berarti tidak pernah memikirkan masa lalu atau masa depan. Mereka justru bisa belajar mengenali kapan memikirkan sesuatu membantu dan kapan pikiran tersebut hanya membuat mereka berputar di tempat.
Contohnya, belajar dari kesalahan kerja bisa bermanfaat. Namun, mengulang kejadian yang sama selama berjam-jam sambil terus menyalahkan diri sendiri belum tentu menghasilkan solusi.
Begitu juga dengan mempersiapkan presentasi besok. Membuat daftar hal yang perlu disiapkan tentu berguna. Tetapi membayangkan semua kemungkinan buruk sampai tidak bisa tidur justru dapat menjadi beban tambahan.
3. Dapat membedakan keinginan sesaat dengan nilai yang dianggap penting
Kebiasaan lain yang berkaitan dengan mental yang kuat adalah kemampuan membedakan antara apa yang ingin dilakukan saat ini dan apa yang sebenarnya dianggap penting dalam jangka panjang.
Ada kalanya seseorang ingin melakukan sesuatu karena dorongan sesaat, tetapi tindakan tersebut tidak sesuai dengan tujuan atau nilai yang ingin dijalani.
Misalnya, Bunda ingin membalas komentar kasar karena sedang emosi. Ingin menunda pekerjaan karena sedang malas. Atau ingin menghindari percakapan penting karena merasa tidak nyaman.
Orang dengan mental kuat bukan berarti tidak memiliki dorongan tersebut. Ia tetap bisa marah, malas, takut, atau ingin menghindar. Bedanya, emosi dan dorongan tersebut tidak selalu dijadikan penentu utama tindakannya.
Di sinilah konsep psychological flexibility atau fleksibilitas psikologis kembali berperan.
Penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas psikologis berkaitan dengan kemampuan mengejar tujuan yang dianggap bernilai meskipun seseorang sedang mengalami ketidaknyamanan emosional.
Studi yang mengembangkan Personalized Psychological Flexibility Index menemukan hubungan fleksibilitas psikologis dengan kesejahteraan, regulasi emosi, resiliensi, dan pencapaian tujuan.
Dengan kata lain, seseorang bisa saja berpikir, "Aku sebenarnya enggak mau melakukan ini sekarang." Namun, ia juga bisa bertanya, "Apa yang penting buat aku?"
Pertanyaan kedua membantu seseorang melihat tujuan yang lebih besar daripada dorongan sesaat.
4. Tidak terpaku pada satu cara ketika keadaan berubah
Orang yang kuat secara mental tidak selalu memaksakan diri menggunakan cara yang sama dalam setiap situasi.
Cara yang berhasil kemarin belum tentu cocok untuk hari ini. Misalnya, Bunda biasanya memilih menyelesaikan pekerjaan sekaligus. Namun, ketika tubuh sedang lelah, membagi pekerjaan menjadi beberapa bagian kecil mungkin lebih realistis.
Begitu juga ketika menghadapi masalah dalam hubungan. Ada situasi yang membutuhkan percakapan langsung, tetapi ada juga kondisi ketika menenangkan diri terlebih dahulu justru lebih membantu.
Menurut Wignall dalam artikelnya di Psychology Today, orang yang tangguh secara mental cenderung terbuka terhadap kemungkinan baru, memilih strategi yang efektif, membangun kebiasaan yang mendukung tujuan, dan menyesuaikan diri dengan keadaan.
Konsep tersebut sejalan dengan penelitian mengenai fleksibilitas psikologis yang menempatkan kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi sebagai salah satu bagian penting dari kesehatan psikologis.
5. Membangun kebiasaan kecil secara konsisten
Mental kuat juga tidak terbentuk hanya karena seseorang pernah berhasil melewati satu masalah besar.
Wignall menekankan pentingnya membangun kebiasaan yang mendukung tujuan secara konsisten. Ia menyarankan agar perubahan dimulai dari tindakan yang sangat kecil sehingga lebih mudah dilakukan berulang kali.
Pendekatan ini membuat fokus berpindah dari "Aku harus langsung berubah" menjadi "Apa satu tindakan kecil yang bisa kulakukan hari ini?"
Misalnya, seseorang ingin mulai berolahraga. Daripada langsung menetapkan target yang terlalu berat, ia bisa memulainya dengan aktivitas singkat yang realistis, kemudian meningkatkan secara bertahap.
Tujuannya bukan menunjukkan bahwa dirinya kuat dalam satu hari, tetapi membangun pola yang dapat dipertahankan.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sangat sederhana: menyelesaikan satu tugas yang tertunda, mengambil jeda ketika mulai kewalahan, meminta bantuan ketika memang membutuhkan, atau kembali mencoba setelah rencana sebelumnya tidak berhasil.
Dari beberapa penjelasan kebiasaan di atas, mental kuat bukanlah kondisi ketika seseorang tidak pernah merasa takut, sedih, marah, atau gagal.
Sebaliknya, ketangguhan mental lebih dekat dengan kemampuan untuk menyadari apa yang sedang terjadi dalam diri, memilih respons yang lebih sesuai, beradaptasi ketika keadaan berubah, dan tetap bergerak menuju hal-hal yang dianggap penting.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)Simak video di bawah ini, Bun:
Ciri Kepribadian Orang Kreatif, Sering Punya Kebiasaan Ini
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
Simak 5 Kalimat yang Kerap Diucapkan oleh Orang Tak Kompeten
11 Macam Kepribadian dari Cara Duduk, Gambarkan Sifat Periang hingga Perfeksionis
7 Hal yang Bikin Bunda Memesona Selain Menggunakan Riasan Wajah
Tanda Orang yang Diam-diam Benci pada Kita, Salah Satunya Kontak Mata
TERPOPULER
Aaliyah Massaid Buka-bukaan Kasih Syarat ke Thariq Halilintar bila Ingin Promil Anak Kedua
15 Kalimat yang Bikin Orang Menghargai Kamu, Tunjukkan Sikap Tegas dan Berkelas
Pendidikan di Singapura Menjadi Salah Satu yang Terbaik di Asia, Apa Rahasianya?
Romantis! Pemeran Wati di Film 'Dilan' Yoriko Angeline Dilamar Pembalap Aldio Oekon di Paris
Penjelasan Kemensos Jelaskan Desil Tak Sesuai Kondisi Masyarakat, Berkaitan dengan Kartu Indonesia Pintar
REKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Panci Tanah Liat Terbaik, Cocok untuk Dapur Rumahan
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Lulur untuk Kulit Cerah, Halus, dan Glowing
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Rekomendasi AC 1/2 PK Inverter Low Watt, Bagus dan Hemat Listrik
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
5 Rekomendasi Portable Solar Generator untuk Cadangan Listrik di Rumah
Amira SalsabilaREKOMENDASI PRODUK
9 Stiker Label Nama Buku Tulis & Pelajaran yang Aesthetic hingga Lucu
Annisa KarnesyiaTERBARU DARI HAIBUNDA
Kebiasaan Sederhana Orang yang Punya Mental Kuat Menurut Psikologi
15 Kalimat yang Bikin Orang Menghargai Kamu, Tunjukkan Sikap Tegas dan Berkelas
Pendidikan di Singapura Menjadi Salah Satu yang Terbaik di Asia, Apa Rahasianya?
Aaliyah Massaid Buka-bukaan Kasih Syarat ke Thariq Halilintar bila Ingin Promil Anak Kedua
Romantis! Pemeran Wati di Film 'Dilan' Yoriko Angeline Dilamar Pembalap Aldio Oekon di Paris
FOTO
VIDEO
DETIK NETWORK
-
Rekomendit
Rencana Liburan ke Tokyo? Ini Pilihan Hotel Dekat Sensoji Asakusa dan Ueno Park
-
Beautynesia
Kalimat yang Diucapkan Orang Cerdas saat Mendapat Pertanyaan Menyinggung Menurut Psikolog
-
Female Daily
Sering Gel Manicure? Ini Alasan Kuku Bisa Jadi Lemas dan Rapuh
-
CXO
Turnamen Voli SBY Cup 2026 di Magelang 13-17 Mei, Ada LavAni-Samator
-
Wolipop
L'Occitane Immortelle Divine Targeted Wrinkle Care, Samarkan Kerutan Wajah
-
Mommies Daily
Olahraga untuk Menurunkan Berat Badan: Ini 5 Pilihan yang Efektif