Terpopuler
Aktifkan notifikasi untuk dapat info terkini, Bun!
Bunda dapat menonaktifkan kapanpun melalui pengaturan browser.
Nanti saja
Aktifkan

moms-life

Dokter Paru Ungkap Efek Asap Karhutla bagi Kesehatan

Amira Salsabila   |   HaiBunda

Rabu, 21 Oct 2026 13:10 WIB

Asian woman are going to work.she wears N95 mask.prevent PM2.5 dust and smog.she is coughing
Ilustrasi / Foto: Getty Images/iStockphoto/torwai
Jakarta -

Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengganggu pernapasan, tetapi juga dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, seperti sakit kepala, mual, hingga tubuh terasa lebih cepat lelah.

Namun, gejala tersebut kerap tidak disadari sebagai dampak polusi udara yang terhirup sehari-hari.

Dilansir detikcom, Spesialis paru Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), menjelaskan bahwa keluhan akibat asap karhutla sering kali tidak dikenali oleh orang yang mengalaminya, Bunda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hal ini sejalan dengan temuan literatur dan penelitian yang pernah dilakukannya bersama tim saat kebakaran hutan melanda Palembang dan Riau pada 2015.

“Umumnya masyarakat yang terpajan terhadap asap kebakaran hutan itu sering kali tidak merasakan keluhan itu sebagai sebuah tanda, bahwa itu sebenarnya dampak dari asap kebakaran hutan,” ujar Prof Agus.

Ia menjelaskan bahwa salah satu komponen berbahaya dalam asap karhutla adalah karbon monoksida (CO). Paparan gas ini dapat menimbulkan gejala awal berupa sakit kepala, mual, dan kelelahan.

Pada konsentrasi yang lebih tinggi, paparan karbon monoksida dapat menyebabkan sakit kepala hebat, sesak napas, hingga mual dan muntah.

Selain CO, asap karhutla juga mengandung gas iritan dan partikel halus atau particulate matter (PM) yang dapat mengiritasi saluran pernapasan.

Paparan komponen tersebut, lanjutnya, dapat memicu sejumlah keluhan, seperti mata merah dan berair, hidung berair, sakit tenggorokan, serta batuk-batuk. Keluhan ini muncul ketika gas dan partikel yang menghirup mengiritasi lapisan pelindung saluran pernapasan.

“Gas maupun partikel yang dihirup menyebabkan epitel sawar napas itu teriritasi, sehingga terasa gatal, ada sel yang memproduksi dahak, jadi dahaknya menjadi banyak,” tuturnya.

TERUSKAN MEMBACA KLIK DI SINI.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

TOPIK TERKAIT

HIGHLIGHT

Temukan lebih banyak tentang
Fase Bunda