sign up SIGN UP search


parenting

Trik Hindarkan Rumah Agar Nggak Seperti Kapal Pecah

Melly Febrida Senin, 27 Nov 2017 12:06 WIB
Kalau punya anak balita, kayaknya rumah jarang banget dalam keadaan rapi jali ya, Bun. caption
Jakarta -
Ilustrasi rumah berantakan/Ilustrasi rumah berantakan/ Foto: Thinkstock
Bunda yang punya anak balita pasti paham benar kalau rumah jadi sering berantakan. Apalagi kalau balitanya lebih dari satu. Rumah sudah seperti kapal pecah ya, Bun.

Seperti yang saya alami juga nih. Anak saya yang kedua, umurnya baru tiga tahun, kalau saatnya bermain, semua mainannya digelar. Saat saya lagi ngurusin adiknya yang baru satu tahun, si kakak teriak kalau makanan atau minumannya tumpah.

Di saat yang lain, saya lihat si kakak mengeluarkan isi lemari, mencari-cari barang tertentu. Kadang nih ya, baru saja saya bersihkan, nggak lama kotor dan berantakan lagi. Begitu terus, seakan nggak ada habisnya. Kalau udah kecapean banget, kadang saya berpikir apa iya ini anak-anak memang sengaja mau bikin pusing bundanya, hiks.


Meskipun di saat lain kalau anak-anak nggak mau main karena sakit, rasanya lebih sedih. Iya kan, Bun, kalau boleh milih, kita sebagai ibu-ibu lebih milih rumah berantakan tapi anak-anak sehat.

Saat anak sibuk mengeksplorasi lingkungannya, tentu konsekuensinya adalah rumah yang yang jadi lebih berantakan. Tapi ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk meminimalkan kekacauan di rumah lho.

Nah, berikut ini adalah trik untuk mencegah rumah jadi super berantakan tapi tetap tidak menghambat keinginan anak untuk ekplorasi. Yuk, Bun, disimak bersama.

1. Saat Anak Mengurai Gulungan Tisu Toilet

Ya ampun, Nak, ini PR banget buat bunda, saat kamu mengurai gulungan tisu toilet. Kalau dilihat dari kacamata positif, sebenarnya aktivitas mengurai tisu toilet dengan melemparkan gulungannya bisa membantu melatih keterampilan motoriknya, juga melatih koordinasi tangan dan mata.

Nah, biar nggak terlalu berantakan, kita bisa menyediakan tisu gulung khusus si kecil dengan warna dan corak yang berbeda, tapi isinya setengahnya saja. Kemudian kita jelaskan kepada si kecil bahwa tisu tersebut adalah miliknya, sehingga hanya gulungan itu saja yang bisa dimainkannya, sedangkan yang lainnya tidak boleh. Demikian saran dari psikolog anak yang juga Direktur Healthy Steps di Montefiore Medical Center, New York City, Rahil Briggs, Psy.D.

Meski anak bisa main sendiri tisu tersebut, kita juga perlu membantu menggulungnya kembali. Cuma, karena gulungan tisunya nggak terlalu banyak, tentu nggak butuh terlalu banyak usaha ya, Bun.

2. Saat Anak Mencoret Dinding

Dinding yang semula putih bersih, saat anak sudah mulai aktif, bisa jadi akan penuh coretan warna-warni. Kadang 'membanggakan' tapi kadang juga bikin sedih karena kita harus membersihkan dindingnya.

Menggambar sebenarnya meningkatkan ketangkasan tangan, yang akan membantu anak belajar menulis di kemudian hari. Tapi gimana kalau dinding seluruh rumah jadi seperti kanvas?

Cara mebgatasinya, kita bisa mencoba memberikan si kecil selembar besar kertas besar yang dipasang di dinding. Jadinya kertas itulah yang akan dicorat-coret si kecil, dan kita bisa menarik napas lega.

Tapi gimana kalau anak-anak tetap 'mencuri-curi' moncoret-coret dinding? Kita bisa katakan dengan tegas, "Bunda tahu kamu suka menggambar, tapi kamu hanya bisa melakukannya di atas kertas," demikian seperti dicontohkan Linda Acredolo, Ph.D., penasihat orang tua dan rekan penulis Baby Minds.

Selain itu, kita juga bisa lho melibatkan si kecil saat membersihkan coretan di dinding. Hal ini akan membantunya mengerti ada konsekuensi terhadap tindakannya.

3. Bermain dengan Makanan

Ilustrasi rumah berantakan/Ilustrasi rumah berantakan/ Foto: Thinkstock


Waduh, bukannya dimakan, makanan di priring malah dipakai jadi mainan. Misalnya nih, anak sibuk mainan jelly yang sudah kita buat dengan sepenuh hati.

Hmm, nggak apa-apa sih, Bun. Karena anak penasaran dengan tekstur jelly. "Balita perlu merasakan Jelly menyelinap melalui jari mereka untuk mengetahuinya," ujar Linda Acredolo, Ph.D., penasihat orang tua dan rekan penulis Baby Minds.

"Mereka juga penasaran dengan sebab dan akibat pada usia ini," imbuhnya.

Anak penasaran apakah saat jelly dijatuhkan ke lantai akan pecah, memercik, atau seperti apa. Nah, untuk mengatasinya agar rumah nggak kayak kapal pecah, ada baiknya kita menggelar tikar besar di bawah high chairnya, sehingga kita ngga khawatir dengan makanannya yang berantakan di lantai.

Selain itu kita juga harus memastikan kapan sesi makan sudah cukup. "Jika dia mulai membuang lebih banyak makanan daripada yang dia makan, saatnya untuk mengakhiri sesi makan," sambung Acredolo.

4. Mengeluarkan Isi Lemari

Panci, wajan, dan peralatan masak bisa menjadi mainan yang menyenangkan untuk si kecil. Nggak heran mereka suka pergi ke lemari dapur dan mengeluarkan berbagai isinya. Waduh, deg-degan kalau yang dikeluarkan anak adalah barang pecah belah dan yang membahayakan. Hmm, di balik kekacauan ini, anak belajar melatih koordinasi tangan dan matanya, juga kesadaran spasial anak lho, Bun.

Tapi kita jadi kesal ya karena tingkah si kecil ini bikin rumah seperti kapal pecah. Cara mencegah agar rumah nggak berantakan tapi anak tetap bisa bereksplorasi adalah dengan menaruh berbagai peralatan dapur yang bisa dimainkan si kecil di satu bagian lemari. Sementara barang-barang yang rentan pecah, mendingan disatukan di satu bagian lemari lainnya, lalu diberi pengait atau dikunci.

Ilustrasi rumah berantakan/Ilustrasi rumah berantakan/ Foto: Thinkstock


Yuk, Ajarkan Bersih-bersih

Setelah anak memberantakan isi rumah, yang paling berat itu adalah membersihkannya. Penting banget nih untuk memberi tahu anak bahwa kekacauan dan kebersihan harus berjalan beriringan. Kalau anak terbiasa membereskan kekacauan yang mereka buat, anak jadi lebih bertanggung jawab nih, Bun.

Jadi kalau anak menumpahkan minuman atau makanan, yuk kita beri mereka kain lap untuk membersihkannya. Jangan lupa, kita ajari bagaimana cara membersihkannya. Ya, namanya anak-anak, pasti belum bisa membersihkan dengan sempurna. Tapi yang penting usahanya ya, Bun. Jangan lupa kita perlu memberikan mereka apresiasi setelahnya.

Pelajaran yang bisa diambil si kecil ada konsekuensi terhadap tindakan. Selain itu gerakan mengelap juga meningkatkan kemampuan motorik halusnya lho.

Anak-anak juga bisa diajari menyiram tanaman di halaman. Jadi kita bisa memberi mereka alat penyiram mini, khusus untuknya.

Dengan menggunakan penyiram mini ini, anak bisa belajar memegang benda dengan tegak lurus atau sedemikian rupa sehingga bisa menuangkan air dengan tepat. Kegiatan ini bisa melatih keterampilan motoriknya lho, Bun.

Kegiatan lainnya adalah dengan meminta dan membiasakan si kecil menaruh pakaian kotor di keranjang pakaian. Dari sini anak bisa belajar bahwa semua benda punya tempat, sehingga harus diletakkan dengan rapi di tempatnya.

(Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi