parenting

Kaitan Pemakaian Diaper dan Risiko Infeksi Saluran Kemih Anak

Radian Nyi Sukmasari Senin, 01 Jan 2018 14:01 WIB
Kaitan Pemakaian Diaper dan Risiko Infeksi Saluran Kemih Anak
Jakarta - Diaper alias popok sekali pakai bisa jadi sesuatu yang lumrah dipakai bayi bahkan sejak lahir. Nah, bicara soal pemakaian diaper adakah hubungannya sama risiko infeksi saluran kemih (ISK) pada anak?

Menanggapi hal ini, dr Meta Hanindita SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya bilang memang pemakaian diaper bisa memicu infeksi termasuk infeksi saluran kemih (ISK). Apalagi kalau diapernya jarang ganti, Bun. Makanya, dr Meta menyarankan baiknya ganti diaper anak tiap 4 jam sekali jadi jangan nunggu sampai diaper penuh.

"Sama kayak ketika anak ternyata buang air besar di malam hari terus ibunya nggak ngeh. Itu bisa memperbesar risiko infeksi. Pada dasarnya urine dan feses adalah sisa kotoran jadi jangan sampai kotoran itu terus-terusan kontak sama kulit anak terlalu lama," kata dr Meta.


Dikutip dari NCBI, sebuah studi menemukan kaitan jenis diaper yang dipakai anak dengan risiko mereka terkena infeksi saluran kemih anak. Apalagi, ISK menjadi infeksi serius pada anak sampai umur 5 tahun. ISK dialami 3-5 persen anak perempuan dan 1 persen anak laki-laki. Untuk studi ini, peneliti mengamati anak perempuan umur di bawah 2 tahun yang dirawat di Mofid Children's Hospital.

Mereka adalah anak-anak yang dirawat karena kena ISK pertama kali dan yang dirawat karena penyebab lain, Bun. Data yang dikumpulkan berdasar kuesioner dengan pertanyaan seperti jenis diaper yang dipakai anak sebelum didiagnosis ISK dan frekuensi pemakaian diaper. Pendidikan dan pekerjaan ibu serta pendapatan keluarga juga ditanyakan, Bun.



"Hasilnya, jenis diaper yang dipakai anak berhubungan dengan risiko mereka mengalami ISK. Ya, anak yang pakai diaper dengan daya serap tinggi (superabsorbent diaper) lebih berisiko mengalami ISK dibanding anak yang pakai diaper biasa (disposable diaper) dan washable diaper (popok kain)," kata salah satu peneliti Alireza Fahimsad, MD dalam laporannya.

Kenapa ini bisa terjadi? Alireza dan tim berasumsi pada superabsorbent diaper, ventilasi di area genital jadi kurang optimal. Selain itu, evaporasi urine juga lebih lambat dibanding disposable atau washable diaper. Kondisi itu bisa jadi tempat ideal buat bakteri berkembang biak yang kemudian bakteri itu bermigrasi ke saluran kemih dan menyebabkan infeksi.

"Kami merekomendasikan pakai popok kain atau diaper yang memiliki alarm misalnya warnanya berubah ketika urine sudah penuh. Perhatikan juga selalu kebersihan diaper anak dan ganti secara berkala," kata Alireza.
(rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi