parenting

Tips Memilih Daycare untuk Batita

Melly Febrida Senin, 15 Jan 2018 11:10 WIB
Tips Memilih Daycare untuk Batita
Jakarta - Bunda yang bekerja pastinya pusing saat asisten rumah tangga (ART) atau baby sitter mudik dan nggak balik lagi. Nanti anak-anak siapa yang mengasuh dan merawat si batita kalau ditinggal pergi bekerja.

Mencari ART atau pengasuh baru yang cocok juga nggak gampang. Mau izin kantor terus nggak mungkin. Tapi nggak mungkin juga anak dibawa terus ke kantor.

Nah, di saat seperti ini, mungkin daycare bisa menjadi pilihan ya, Bun. Nah, kalau Bunda pertama kali hendak menitipkan batita ke daycare, mungkin masih bingung ya, apa saja nih yang perlu dipertimbangkan. Soalnya saat kita menitipkan si kecil, persoalannya kan bukan sekadar biaya semata ya.


Daycare alias tempat penitipan anak sebenarnya punya beberapa keunggulan ketimbang menggunakan jasa baby sitter. Sebab daycare lebih aksesibel untuk disurvei, direview, dan dievaluasi ketimbang pengasuh baru yang kita sendiri belum tahu kerjanya bagaimana. Informasi daycare biasanya lebih tersebar ketimbang pengasuh anak yang hanya berhubungan dengan penyalurnya atau keluarganya.

Kata Lesia Oesterreich, Family Life Extension Specialist dari Iowa State University, dalam tulisannya di situs National Network for Child Care, anak usia 2 tahun itu anak yang independen. Anak-anak suka bilang 'punyaku', 'tidak', dan 'aku bisa'. Sebagian besar waktunya habis untuk mengeksplorasi, mendorong, menarik, menumpahkan, dan menyentuh.



Anak usia 2 tahun juga amat pede, sekaligus sangat terikat pada para pengasuhnya. Selain itu mereka biasanya tertarik pada anak-anak lain, hanya belum pandai mengungkapkan afeksinya. Mau memeluk malah jadi menyikut, mau mengelus malah menampar, dan sebagainya.

Oya Bun, Ratih Zulhaqqi, psikolog anak dan remaja, juga mengatakan perlu pilih-pilih tempat untuk menitipkan anak. Jadi jangan sampai anak cuma sekadar dititipkan saja. Tapi sebaiknya ada kegiatan yang bisa mengasah kemampuan motorik, sensorik, bahasa, maupun sosialisasi.

Kata Ratih, faktor kepercayaan adalah hal penting yang perlu ada saat kita mau menitipkan anak ke daycare. Ada banyak hal sih yang bisa membuat kita percaya pada suatu daycare. Bisa jadi karena kita mendengar banyak testimoni positif pada daycare tersebut jadi pertimbangan dalam memilih daycare.

Tips memilih daycare untuk batita/Tips memilih daycare untuk batita/ Foto: Reza/detikHealth


Selain itu, kita mungkin mengenal para pengasuh atau pemilik daycare tersebut dengan baik. Update informasi secara gamblang selalu diberikan, baik itu menu makan anak, aktivitas, foto dan video yang dikirim harian ke orang tua juga bisa meningkatkan rasa percaya dan nyaman bagi orang tua saat menitipkan pengasuhan batitanya ke daycare.

Bagi beberapa orang tua, adanya CCTV yang bisa diakses juga jadi poin lain yang bisa meningkatkan kepercayaan dan jadi pertimbangan lain dalam memilih daycare.

Nah, sebelum memutuskan daycare mana yang dipilih, beberapa tips ini bisa dilakukan, seperti ditulis Parents Guide Growing Up Usia 2 Tahun.

1. Buat Daftar Daycare di Sekitar Rumah atau Tempat Kerja

Ada orang tua yang memilih menitipkan anak ke daycare di sekitar rumah, tapi ada juga yang lebih memilih daycare di dekat tempatnya bekerja. Dua-duanya sama-sama oke, tergantung kenyamanan orang tua dan anak.

Ada baiknya kita membuat daftar daycare di sekitar rumah atau tempat kerja untuk memudahkan memilih daycare untuk si batita. Jangan lupa lengkap dengan informasi alamat, nomor telepon, waktu, syarat dan biaya pendaftaran, batasan usia, fasilitas, dan aturan khusus yang diterapkan ya.

Oya, cari juga informasi dari orang tua, saudara, teman, milis, atau media massa dan media sosial, Bun.

2. Buat Daftar Kebutuhan Anak dan Keinginan Orang Tua

Kita perlu mengenali sifat dasar anak. Apa si kecil itu pemalu dan perlu dorongan untuk mencoba hal baru, apa kesukaannya atau ketidaksukaannya, serta apa minatnya. Juga sebesar apa kebutuhan anak untuk mendapat perhatian secara individu.

Perhatikan juga, Bun, apa si kecil gampang lelah. Kita juga perlu menegaskan keinginan kita terhadap anak. Misalnya ingin anak lebih aktif bergerak, mencintai buku, mengenal agamanya, atau lebih mandiri.

3. Daftar Kriteria Daycare

Kalau sudah membuat daftar daycare serta daftar kebutuhan dan keinginan, saatnya kita menyusun daftar kriteria daycare yang dicari. Misalnya saja seperti ini:

- Yang mengakomodasi anak untuk banyak bergerak, dan mengenalkan disiplin
- Dekat kantor
- Bernuansa agama
- Biaya bulanan terjangkau, dan sebagainya.

4. Minta Rekomendasi

Kita perlu mendiskusikan dengan orang tua, saudara, teman, tetangga, atau teman di grup tentang daycare yang sedang kita cari. Kita bisa memberitahu kriteria daycare yang diinginkan dan meminta rekomendasi mereka.


5. Hubungi Daycare

Kita bisa tanyakan informasi umum tapi penting. Misalnya kualitas pengasuh, rasio pengasuh dibanding anak, jumlah anak yang diasuh, biaya masuk, siapa yang memasok makan, dan lain-lainnya. Selanjutnya, buat kandidat terkuat.

Psikolog anak dan keluarga, Roslina Verauli M.Psi dalam wawancara dengan detikHealth beberapa waktu lalu mewanti-wanti untuk memperhatikan proporsi jumlah pengasuh dan anak yang diasuh. Untuk anak usia 0-1 tahun, jumlah pengasuh dan anak yang diasuh adalah satu banding tiga, di mana satu pengasuh mengasuh tiga bayi.

"Tidak boleh lebih dari itu. Sedangkan untuk anak usia 2-3 tahun, satu banding enam. Kalau lebih dari itu, nanti mereka tidak mampu menghandle, tidak mampu memberi perhatian dan stimulasi yang cukup," pesan perempuan yang akrab disapa Vera ini.

Tips memilih daycare untuk batita/Tips memilih daycare untuk batita/ Foto: Reza/detikHealth


6. Kunjungi Kandidat Terkuat

Kita bisa menjadwalkan kunjungan ke daycare bersama si kecil setelah memiliki kandidat terkuat. Manfaatkan betul kunjungan ini untuk melihat respons anak serta mengecek langsung informasi yang sebelumnya kita dapat dari keluarga atau kerabat, apa betul data yang diperoleh itu benar.

Biasanya daycare memberikan waktu untuk uji coba bagi anak. Nah, ini bisa kita manfaatkan untuk melihat respons anak, Bun. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi