sign up SIGN UP search


parenting

Cara Menyenangkan Belajar Matematika Bareng Anak

Melly Febrida   |   Haibunda Sabtu, 27 Jan 2018 11:05 WIB
Bun, ini beberapa saran agar matematika nggak jadi momok menakutkan bagi anak. caption
Jakarta - Anak-anak takut pelajaran matematika, Bun? Ternyata orang tua juga ikut andil membuat anak takut matematika lho.

Nggak sedikit yang beranggapan matematika itu pelajaran yang menakutkan, menyusahkan dan paling membosankan. Bahkan kalau anak menyodorkan soal matematika, ada nih bunda yang bereaksi spontan meminta anak bertanya ke ayahnya, atau sebaliknya.

Kalau orang tua nggak sanggup mengajari, solusi termudahnya mendatangkan guru privat ke rumah. Kira-kira apa yang bisa orang tua lakukan agar ketakutan pada matematika nggak menurun ke anak?


Kata Ruth Champagne, Ph.D., pengajar ilmu pendidikan matematika di Concordia University, River Forest, AS, orang tua tanpa disadari berpikir, 'Saya nggak menyukai atau nggak menguasai'. Pikiran itu ikut menyuburkan ketidaksukaan atau ketakutan anak terhadap matematika.

Untuk membuat anak menyukai matematika, kata Ruth, sebenarnya nggak bergantung seberapa besar pengetahuan matematika yang dimiliki orang tua. Namun, lebih kepada terpenuhinya syarat seberapa besar orang tua menjadi pembimbing anak.



Agar anak nggak takut matematika, kita bisa mulai dengan cara sederhana, Bun. Contohnya dengan menggunakan sistem permainan seperti kartu remi atau buku-buku yang menarik. Media lain pastinya masih banyak, tapi menurut Ruth, permainan sederhana itu bisa diciptakan siapa saja. Termasuk yang nggak suka matematika.

Ruth menyarankan orang tua mencari referensi lewat buku permainan matematika. Dengan cara tersebut kita bisa memperkuat keterampilan yang dibutuhkan anak untuk menguasai matematika yakni ketekunan, kemampuan, mengikuti sistematika, kemauan berlatih, dan kemampuan menjadi seorang problem solver.

Matematika memang bukan pelajaran yang ringan. Sejumlah penelitian di Amerika Serikat juga pernah membuktikannya. Mereka meneliti kelas yang terdiri dari 1.010 siswa SD.

Salah satu temuannya, sepertiga waktu guru mengajar hanya digunakan untuk mengajar matematika. Di kelas 3-4 dan 4-5 SD, banyak siswa yang kesulitan dengan bilangan pecahan, desimal, persen, dan pengukuran. Ada juga anak yang nggak paham dengan kata 'digabung', 'dikumpulkan menjadi satu' atau 'dijumlahkan'.

Mengaitkan Matematika dengan Kehiduoan Nyata

Kata Ruth, problem itu terjadi karena sebagian besar sekolah nggak menghubungkan dengan dunia nyata. Kenyataan itu diperparah dengan persepsi orang tua yang tidak menganggap matematika bagian dari dunia keseharian dan menyenangkan. Demikian seperti dikutip dari buku 'Parents Guide Growing Up 7-9 Tahun'.

Padahal, memahami konsep berhitung (tambah, kurang, kali, dan bagi) dapat dipraktikkan saat mengajak anak berbelanja, menata makan malam, naik kereta kuda, membersihkan rumah, atau olahraga. Misalnya, Bun, saat ke swalayan kita bisa minta anak menghitung berapa harga empat kaleng minuman. Kemudian di meja makan anak-anak menata makan malam, bisa diminta menghitung jumlah sendok garpu sesuai anggota keluarga.

Dr Maria Montessori juga mengatakan hal yang sama, yang tersimpulkan dalam buku Montessori Math Age 6-12+ Years: Geometry, Math, Measurement. Menurutnya, anak usia 6-12 tahun sekali terinspirasi dengan cerita, contoh, dan gambar, maka senang mempelajarinya lebih lanjut.

Misalnya, Bun, untuk mengenalkan ilmu geometri yang juga menggunakan matematika, grafik, dan pecahan di dalamnya, kita bisa memberi pemahaman ke anak bahwa semua itu adalah alat-alat yang masuk akal dan bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Nah, karena itulah anak harus diberi alat peraga yang bisa dimanipulasi untuk semua bidang matematika. Kemudian anak dibiarkan memutuskan kapan dirinya siap bekerja tanpa bahan itu, yaitu secara abstrak dengan pena dan kertas.

Konsep matematika yang dipahami dan dipraktikkan dengan proses seperti ini akan lengket di benak anak, Bun.



Oya, agar anak makin percaya diri menghadapi matematika, kita perlu banget memberikan contoh. Misalnya tunjukkan kepercayadirian kita saat menghitung tagihan listrik, daftar belanja, atau menghitung pengeluaran rumah tangga.

Temani juga anak saat mengerjakan PR. Bantu ia memecahkan kesulitannya dengan memberinya contoh di kehidupan sehari-hari agar anak mudah memahami konsep matematika yang dipelajarinya.

Kalau anak sudah ikut les tapi nggak berubah bagaimana? Ternyata, keterampilan berhitung itu berhubungan juga dengan struktur otak, Bun.

Pintar Berhitung karena Otak

Untuk mendapatkan kesimpulan itu, tim yang dipimpin oleh Kaustubh Supekar dari Stanford University School of Medicine, California ini menggunakan scan fMRI guna mengukur bagaimana respons otak 24 siswa sekolah dasar berusia 8-9 tahun usai menjalani tutorial matematika secara privat selama 8 bulan.

Hasilnya, kecepatan dan akurasi dalam menyelesaikan soal berhitung pada seluruh partisipan mengalami peningkatan dengan adanya tutorial, bahkan pada beberapa anak tertentu kemampuannya meningkat secara signifikan.

Dari situ peneliti menemukan ukuran dan konektivitas hipoccampus atau bagian otak yang berperan penting dalam menentukan kemampuan daya ingat, Bun. Itu yang memberikan dampak terbesar dalam menentukan kemajuan belajar berhitung partisipan.

"Temuan kami memberikan bukti bahwa perbedaan bagian otak pada masing-masing individu ternyata berkaitan dengan kemampuan belajar dan daya ingat serta menjadi sarana terbaik untuk memprediksi tingkat responsivitas tutorial matematika pada anak-anak, bukannya bagian otak yang biasanya dikaitkan dengan proses berhitung," simpul peneliti seperti dilansir Health24.

Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal PNAS. (Nurvita Indarini)
Share yuk, Bun!
Ayo sharing bersama HaiBunda Squad dan ikuti Live Chat langsung bersama pakar, Bun! Gabung sekarang di Aplikasi HaiBunda!
Rekomendasi
Pantau terus tumbuh kembang Si Kecil setiap bulannya hanya di Aplikasi HaiBunda!