HaiBunda

PARENTING

Menyikapi Anak yang Ngambek Saat Lomba 17 Agustus

Amelia Sewaka   |   HaiBunda

Jumat, 17 Aug 2018 19:00 WIB
Menyikapi Anak yang Ngambek di Tengah Lomba 17 Agustus (Foto: Instagram)
Jakarta - Biasanya saat anak ikut lomba 17 Agustus akan terjadi banyak hal nih, Bun. Nggak sedikit anak-anak yang cranky atau ngambek karena lihat anak lainnya lebih unggul atau menang lomba 17 Agustus. Kalau kayak gini gimana baiknya orang tua bersikap?

Psikolog anak, remaja, dan keluarga dari Tiga Generasi, Samanta Ananta, mengatakan untuk menyikapi anak yang ngambek saat lomba 17 Agustus baiknya disesuaikan dengan usia anak. Misal ketika orang tua tahu anaknya perlu briefing sebelum lomba 17 Agustus maka informasikan kemungkinan apa saja yang dapat terjadi agar anak dapat mengantisipasinya.

"Lalu ada juga anak yang tipenya marah. Maka perlu diberitahukan ke anak emosi yang dirasakan apa, sehingga dapat diajarkan bagaimana cara mengatasi rasa marah yang ia rasakan," ungkap Samanta saat ngobrol dengan HaiBunda.




Samanta menambahkan ada pula tipe anak yang kalau ngambek langsung pergi, meskipun lomba 17 Agustus yang diikutinya belum selesai. Nah, anak tipe ini butuh menenangkan diri lebih dulu sehingga orang tua perlu menunggu mood anak dalam kondisi lebih stabil untuk diajak berdiskusi mengenai peristiwa yang dialami.

Kalau ada anak yang masih dapat dimotivasi untuk mempercepat gerakannya dalam lomba 17 Agustus, orang tua perlu memotivasinya. Di saat seperti itu pula, nggak sedikit orang tua yang mengiming-imingi hadiah yang akan dibeli sendiri. Hmm kira-kira seperti ini tepat nggak ya?

"Saya tidak menyarankan orang tua melakukan hal demikian ke anak karena efeknya lebih banyak negatif yang dialami oleh anak. Biar bagaimanapun anak perlu belajar mengatasi konflik-konflik yang dialaminya dan bagaimana menghadapinya secara mandiri," tutur Samanta.



Ketika keinginan anak selalu dipenuhi oleh orang tua tanpa ada proses pembelajaran yang terarah maka dampak negatif pada perkembangan anak dapat merugikan semua pihak. Misalnya anak berkembang menjadi sosok yang bergantung pada orang lain, anak semakin sulit menerima kekalahan, dan regulasi emosi anak tidak terlatih dengan baik. Akibatnya anak selalu memaksakan kehendaknya selalu harus lebih didahulukan daripada orang lain. (rdn)

TOPIK TERKAIT

ARTIKEL TERKAIT

TERPOPULER

Potret Keseruan Ira Wibowo dan Sang Putra Radya Road Trip di Jerman

Mom's Life Amira Salsabila

Kasus HIV Meningkat 12 Kali Lipat dalam 15 Tahun, Ini Dampaknya pada Kehamilan

Kehamilan Melly Febrida

Alarm Kesehatan Mental Anak, Kemenkes Umumkan Ratusan Bocah Alami Gejala Depresi

Parenting Asri Ediyati

Apakah Berbahaya Digigit Tikus saat Hamil? Cek Risiko untuk Bumil & Janin serta Cara Mengatasinya

Kehamilan Dwi Indah Nurcahyani

Bayi Mulai Tumbuh Gigi Usia Berapa Bulan? Ketahui Tanda-tandanya Bun

Parenting Kinan

REKOMENDASI
PRODUK

TERBARU DARI HAIBUNDA

Kakak Putri Diana Ungkap Kondisi Sang Adik yang Jarang Diketahui, Ternyata

Kasus HIV Meningkat 12 Kali Lipat dalam 15 Tahun, Ini Dampaknya pada Kehamilan

Alarm Kesehatan Mental Anak, Kemenkes Umumkan Ratusan Bocah Alami Gejala Depresi

Potret Keseruan Ira Wibowo dan Sang Putra Radya Road Trip di Jerman

Apakah Berbahaya Digigit Tikus saat Hamil? Cek Risiko untuk Bumil & Janin serta Cara Mengatasinya

FOTO

VIDEO

DETIK NETWORK