parenting

Belajar Berani Terima Konsekuensi dari Judoka Miftahul Jannah

Radian Nyi Sukmasari Selasa, 09 Oct 2018 09:23 WIB
Belajar Berani Terima Konsekuensi dari Judoka Miftahul Jannah
Jakarta - Di ajang Asian Para Games 2018, Judoka Indonesia, Miftahul Jannah, batal tampil setelah menolak melepas hijab saat masuk matras. Dia pun didiskualifikasi oleh wasit.

Dilaporkan detikcom, Miftahul dijadwalkan bertanding di JIEXPO Kemayoran pada Senin (8/10) pukul 10.18 WIB di nomor -52 kg kategori low vision. Miftahul harus menghadapi judoka Mongolia, Oyun Gantulga.

Sebelum memasuki gelanggang berupa matras, Miftahul yang turun di blind judo diminta melepas hijab. Tapi, dia menolak. Kemudian, dara asal Aceh Barat Daya ini didiskualifikasi. Keputusan Miftahul menuai pujian salah satunya dari Wakil Bupati Aceh Barat Daya Muslizar.


Kata Muslizar sikap yang diambil Miftahul Jannah sudah sangat tepat. Jangan hanya karena untuk mengejar prestasi lalu menghilangkan jati diri. Ya, Muslizar memuji keputusan Miftahul yang memilih tidak bertanding dibanding harus membuka hijab.

"Sikapnya membuat kami bangga. Ini melebihi ratusan, bahkan ribuan, medali emas yang hendak dia persembahkan buat daerah, bahkan negara Indonesia," kata Muslizar kepada detikcom.

Ya, Miftahul Jannah sudah membuat keputusan. Atas pilihannya, perempuan 21 tahun ini juga udah tahu konsekuensinya, Bun. Dia memilih nggak melepas hijab dan menerima konsekuensinya yakni didiskualifikasi di Asian Para Games 2018. Apa yang dilakukan Miftahul Jannah yakni yakin dengan pilihannya dan berani menerima konsekuensi memang perlu dimiliki anak.

Belajar berani terima konsekuensi dari judoka Miftahul JannahBelajar berani terima konsekuensi dari judoka Miftahul Jannah/ Foto: thinkstock

Dilansir Today's Parent, Victoria Sopik, CEO of Kids & Company mengatakan untuk membangun kepercayaan diri anak, mereka harus mengambil kesempatan, membuat pilihan dan mempertanggungjawabkan pilihannya. Kata Victoria, nggak sedikit orang tua yang berusaha menyelamatkan anaknya dari kegagalan. Padahal, dari kegagalan yang dialami anak bisa belajar menerima bahwa segala sesuatu di dunia ini nggak selamanya manis dan mulus.

"Anak juga harus diberi kesempatan membuat pilihannya sendiri supaya anak merasa punya kekuatan. Di usia 2 tahun anak sudah mulai mempertimbangkan apa konsekuensi dari pilihannya," kata Victoria.

Kepada HaiBunda beberapa waktu lalu, psikolog anak dan remaja dari RaQQi Human Development and Learning Centre Ratih Zulhaqqi dengan membiasakan anak menerima konsekuensi dari apa yang diperbuat saat nanti dewasa anak bisa mampu menghadapi konsekuensi dari tiap perbuatan dan pilihan yang diambil. Anak nggak akan lari karena dia terbiasa bertanggung jawab.

Jangan lupa, Bun, kita juga mesti konsisten dalam menerapkan itu ya. Saat konsekuensi itu akhirnya didapat anak karena perbuatannya, ayah sama bunda juga nggak perlu memotong kesempatan anak belajar menanggung konsekuensi tersebut. Atau, ketika anak mendapat konsekuensi dari perbuatannya di sekolah, orang tua malah 'menyelamatkan' si kecil nih, Bun.

"Dengan memberi kesempatan anak menanggung konsekuensi dari apa yang dia perbuat, anak jadi tahu apa sih efek dari perbuatan yang dia lakukan. Memang agak sulit tapi percaya deh, ini worthed untuk anak ke depannya," kata Ratih.

(rdn/rdn)
Share yuk, Bun!

Rekomendasi